Dari Isu Orang Gila Ke Komunikasi Beretika

Oleh: M. Tata Taufik

Beberapa isu tentang orang gila mulai muncul sejak kejadian penganiayaan di Kampung Santiong Cicalengka Sabtu (27/1/2018). Berita yang pada mulanya beredar melalui whatsapp tersebut kemudian menjadi sangat meluas melalui media cetak maupun media online. Kemudian diperparah lagi dengan kejadian berselang beberapa hari berikutnya di Cigondewah Bandung  Kamis (01/02/2018) dengan korban meninggal dunia. Setelah dua kejadian tersebut kemudian bermunculan berbagai berita aktivitas orang gila dari berbagai daerah lagi-lagi melalui whatsapp, hingga pada Minggu (18/2/2018) beredar cerita yang sama dengan kata kunci penganiayaan, ulama dan orang gila.

Topik Orang Gila:

Topik pembicaraan orang gila memang sangat tidak populer jauh-jauh sebelum peristiwa 27 Januari 2018. Pembicaraan mengenai berbagai tindakan orang gila hanya beredar di kalangan anak kecil yang biasa mengolok mereka, sesekali orang dewasa berdiskusi tentang mengapa semakin banyak orang gila di jalan-jalan atau pasar, namun pasca peristiwa 27 Januari tersebut suasana menjadi berubah, semangat untuk mengomunikasikan perilaku orang gila menjadi meningkat, hampir mirip popularitasnya dengan isu “om telolet om” pada tahun 2016an.

Kata gila dalam pengertiannya yang asli berarti sakit ingatan, sakit jiwa, sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal. Gila juga dalam pengertian lain bisa berarti tidak biasa, berbuat yang bukan-bukan, gila diakhiri dengan tanda seru berarti terlalu atau kurang ajar, gila berarti juga ungkapan kekaguman atau hebat, bisa juga berarti perasaan sangat suka atau gemar, bisa juga berarti tidak masuk akal, seperti ide gila, ide yang tak masuk akal.

Medan makna kata gila bisa ditarik antara lain; kesehatan, akal, normal, hebat, kurang ajar, tidak biasa, sangat menyukai, berlebihan dan asyik.

Konten Pesan :

Media sosial sering kali menjadi sumber berita pertama kemudian disusul oleh pers online, baru kemudian media cetak dan elektronik, serta berbagai program talk show, pokoknya asal ramai.

Konten pesan biasanya memilih narasi yang pada awalnya berupa informasi disajikan dengan datar dan informatif (ini pada kasus originator), kemudian melangkah pada narasi berikutnya berupa anjuran agar berhati-hati kepada pihak yang kemungkinan jadi sasaran, langkah berikutnya harapan dan anjuran kepada pihak berwajib, kadang berisi ungkapan bernada mencemooh, kemudian narasi pesan juga bisa berubah menjadi liar berisi semi analisis yang ujungnya menebar tudingan kepada pihak tertentu, ada juga yang mencoba membangun teori untuk menafsirkan aktivitas orang gila dihubungkan dengan keIndonesiaan dan situasi kekinian dirajut dengan praduga politik.

Pernyataan yang beredar sekitar orang gila dan ulama dalam media baik sosial maupun pers adalah sebagai berikut: musibah murni, pura-pura gila, modus, marak orang gila serang ulama, presiden, Kapolri, wakapolri, BIN, NU, Muhammadiyah, PERSIS, pesantren, perlindungan, ada dalang, pilpres, pria tak dikenal, siapa mereka, orang kuat, penguasa, MUI, pilkada serentak, rumah ulama diberi tanda X, tim khusus, selidiki, Komnas HAM, salah paham, Santri, jangan bertindak sendiri, tabayun, jangan terprovokasi, setiap pemilu, kebangkitan PKI, curiga, rasa aman, penyebar hoax, hati-hati, waspada, pak kiai, ina lillahi, cegah, rezim, tempat ibadah, salat subuh, mesjid, meminta, gereja, masyarakat, 21 kejadian, motif, ditangani serius, terus berlanjut, target yang sama, ciri orang gila, skenario, tanggung jawab, faktor politis, aksi terorisme, jangan takut, jangan cepat menyimpulkan, adu domba.

Kalau dilihat dari arah konten pernyataan sekitar penyerangan terhadap ulama, sedikit sekali yang melihat kejadian tersebut sebagai suatu peristiwa alamiah kehidupan. Ada kecenderungan kasus per kasus diarahkan kepada rekayasa yang berarti kesengajaan yang kemudian mengarah kepada tuntutan kepada pihak berwajib dari berbagai kalangan. Walau pun pihak kepolisian sudah mengeluarkan pernyataan bahwa 95% berita sekitar penyerangan ulama itu merupakan hoax, tapi tidak meredam para pembuat pernyataan lain. Para pembuat pernyataan lebih menganggapnya sebagai berita benar yang patut ditindaklanjuti. Akhirnya kini yang terancam bukan saja ulama, tapi juga orang gila dan orang yang dinilai asing oleh masyarakat.

Budaya Produksi Berita:

Topik penganiayaan ulama bagaikan anak kecil dan remaja pada tahun 2016an memproduksi berita yang membuat mereka bahagia dengan berbagai rekaman video, sederhana isinya cuma bunyi klakson bus yang berirama menarik, telolet telolet, kemudian menjadi tren.

Pesan yang pertama kali penulis terima berbunyi begini: “inalillahi, piduana ajengan tadi pak kiai aya nu nganiaya ayeuna dicandak ka rumah sakit, mugi enggal damang deui.” Disematkan juga photonya. Konten pesan itu begitu informatif dan tulus, tidak ada nada provokatif. Setelah itu beredar informasi pelakunya orang gila, bunyi pesannya begini: “jalma gelo eta mah, ka urang ge sok menta duit dua rebu,” (itu sih orang gila, ke saya juga suka meminta uang dua ribu).  lalu penulis coba telepon teman di Sumedang untuk konfirmasi, dan mendapat jawaban yang sama, “jalma nu ngamal elmu teu kataekan” orang yang belajar ilmu tidak kesampaian.

Kemudian konten pesan dan berita berikutnya sudah mulai berubah ke arah yang lebih panas. Lebih panas lagi setelah kejadian di Bandung yang menewaskan korban. Setelah itu muncul berbagai berita dari berbagai daerah bertajuk penganiayaan ulama, walaupun kalau dikaji secara lebih teliti bobot berita dari setiap kejadian itu tidak bisa dikatakan sama; kasus Paciran berbeda dengan Cicalengka misalnya, yang pertama diawali interaksi sedangkan yang kedua tidak.

Terlihat pergeseran pesan informatif menuju kepada pesan yang lebih mengarah kepada penciptaan konflik yang juga tak jelas antara siapa dengan siapa. Produksi berita tidak lagi sesuai dengan aturan sebagaimana layaknya media masa yang penuh dengan batasan dan tata cara penampilan berita.

Dalam konteks ini, pertama karena semangat berbagi semata, tanpa memiliki tujuan politis apa pun selain hanya menginformasikan  kalau dirinya melihat atau menyaksikan sesuatu, atau dirinya berada pada lokasi tertentu. Kedua terlihat ada sisi “kebanggaan” ketika seseorang bisa menyiarkan pesan yang didapat atau membuat pesan yang sesuai dengan pola pikirannya untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang pertama mengetahui informasi sehingga akan terlihat keren ketika membaginya ke orang lain—walau kadang pesan yang disajikan itu sudah usang karena dishare berkali-kali oleh orang yang berbeda. Ketiga bisa jadi karena ada rasa “keterwakilan” oleh pesan yang didapat untuk mengungkapkan pendapat serta posisi dirinya berdiri pada haluan mana yang diikutinya baik secara politis maupun ideologis, karenanya kegiatan baik memproduksi maupun membagi pesan menjadi bentuk “perjuangan” yang dipilih. Keempat, karena memang ada yang menjadikan   media –terutama media sosial—sebagai penyebar isu dalam rangka membangun opini publik.

Menyikapi permasalahan ini –termasuk kemajuan teknologi media—diperlukan kampanye etika komunikasi yang serius. Karena kemajuan teknologi harus diimbangi dengan perumusan norma-norma baru penggunaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *