Catatan RUU Pesantren 19 September 2018

Assalamualaikum wr.wb

Terima kasih saya ada populer dengan undang-undang tentang RUU pesantren yang diselenggarakan oleh FPKB yang telah mengundang saya pas maghrib ada yang miscall saya lima kali tidak tahu dari mana cuman muncul Greater Jakarta saja, yang saya tahu Jakarta pusat akhirnya mengenalkan diri saya pembicara,  baru saya jawab karena jaman sekarang kan banyak sekali telemarketing jadi saya protect.

Bapak-bapak ibu-sekalian

Alhamdulillah sebetulnya saya tidak tahu percis cuman melihat judul saja dari media yang ada di media itu jadi saya tidak tahu, saya tidak membaca karena bagi saya membaca berita itu adalah  menguras energi tapi membuat berita adalah ibadah.

Bapak-bapak sekalian saya to the point karena banyak sekali pesan supaya Pak Tata to the point saja.

Pertama masuk kepada ketentuan umum supaya kita bekerjanya lebih efektif, jadi kita ketika  muncul RUU, kita naskah RUU kita dapat itu langsung satu malam kita bertemu. Dan malam tadi juga bertemu teman-teman Ma’had Ali dan PDF di Tuban. Kita semua bergerak dengan Dana sendiri-sendiri tidak memikirkaan apa-apa kita mencari vila mencari makan dan tidur bersama semalaman, itulah pola  kerja kita dan ini sudah berlanjut 7 tahun kita berjalan untuk bisa menelorkan PMA.Tiba-tiba mau dinaikan ke Undang-undang, kan seneng banget gituh, tapi tiba-tiba kok undang-undang yang tujuh tahun saya dan teman-teman perjuangkan mana ya?

Yang tujuh tahun kita rapat di Jombang rapat di Lirboyo, rapat di Tremas di Gontor. Di Gontor itu pernah satu bulan tiga kali kita rapat, bulan puasa tiga kali. Bayangkan saja, siapa yang ditinggalkan?  Istri, kemudian sahur di jalan dan lain sebagainya. Maka ketika  tidak muncul (-Muadalah dalam RUU)  maka reaksinya sangat cepat ini kami mohon maaf. Tapi saya kira kita tidak diundang seperti ini kalau tidak ada reaksi.

Pertama kita insert saja untuk bisa masuk ke pasal-pasal berikutnya maka kita mencoba dengan teman-teman menginsert pendidikan pesantren adalah, ini untuk menjawab Bu Zahrok ini yang apa itu pendidikan pesantren kaya apa sebetulnya sudah ada silahkan bisa komunikasi ke pak rofik sebetulnya sudah ada di PMA18 tahun 2014.

Kemudian yang keenam, tapi karena itu merasa bukan wewenang kita jadi titik-titik silahkan temen temen untuk berkreasi. Kemudian yang keenam pendidikan muadalah adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselengarakan oleh dan berada di lingkungan pesantren, jadi wajib, wajibul wujub di pesantren  dengan mengembangkan kurikululum sesuai kekhasan pesantren dengan basis kitab kuning atau dirosah islamiyah dengan pola mu’alimin. Nah ini kita insyaAllah kita insyaAllah sudah menginsert ini.

Nah lantas kenapa hal ini harus dimasukkan? karena nanti kita akan bisa menginsert paragraf, satu paragraph khusus yang berbicara tentang pesantren muadalah karena sebenernya tipologi pesantren yang ada di rancangan undang-undang ini saya menyebutnya itu tahun 70 an, ada  tradisional kemudian ada modern. Kita debat kemaren dengan teman yang dari salaf “antum mau dibilang taqlidiyyah ?” Taqlidiyyah itu tradisional, salafiyah itu sudah trademark,  lawanya modern gitu ajah. Tidak bisa modern diterjemahkan  menjadi kholafiyah tidak bisa, karena begitu diterjemahkan akan muncul pengertiannya lain-lain lagi. Nah gitu jadi nanti mislakan  mau bikin pesantren pak ainurofiq namanya ma’hadu ainurrafiq at-taqlidi apa ada yang mau masuk? Tidak ada tapi karena kesalafiyah lihat betapa bahagianya beliau orang bangga,dan mengakatakan pesantren salafiyah ketika masuk IAIN turun kitabnya dari alfiyah ke nahwu wadih.

Maka kita lanjut ke halaman berikutnya kita mencoba dengan kawan-kawan ada bagian kedua pendirian di pasal 11. Di situ terdapat berbagai pesantren sebagaaimana dimaksud pada ayat 1 terdiri atas pesantren tradisional itu dihapus itu tapi tetap statemennya, trademarknya menjadi salafiyah karena itu sudahh mengakar menimbulkan kebangaan menimbulkan dsb.

Kemudian yang kedua pesantren modern jadi kholafiyahnya dihapus, atau pesantren gabungan nah ini yang tidak bisa. Maksudnya gabungan adalah bervariasi antara pesantren modern dengan mengajarkan kitab-kitab salafiyah kitab kuning bisa juga ada pesantren salafiyyah memasukan hal-hal seperti misalkan pendidikan tsanawiyah, aliyah dan lain sebagainya itu Inya Allah kita sudah amankan di penjelasan selanjutnya insyaAllah setelah ini masih banyak tinggal santai saja.

Bagian ketiga, kita tambah  pesantren sebagai lembaga pendidikan, itu disebut cuman dua, pendidikan diniyah dan pendidikan pesantren, maka untuk bisa muncul di paragraf berikutnya supaya muadalah yang diperjuangkan,ini bu, bu Zahro ya itu ditandatangan lebih dari 200 Kiai di Jawa Timur untuk bisa melahirkan PMA. Kita kerja pak, kita datangi kiai-kiai, kalo enggak, ditolak, kaya tadi PMA no 3 tahun 2012 yang tadi dijadikan referensi dari kemendikbud ditolak Cuma 2 bulan ditolak oleh kiai oleh masyayih oleh para Kyai, waktu itu mbah Sahal.  Kalo misalkan pendidikan muadalah tidak mucul lalu sebetulnya perjuangkan apa yang dilakukan oleh yang terhormat ? Iya tidak ada pak,

Makanya kita tambah, jadi ditambah pendidikan diniyah, pendidkikan pesantren,  pendidikan mu’adalah kalau kaya gini insyaAllah aman. Kalau tidak, saya boikot untung masih terkontrol.

Maka dari itu kita berlanjut paragraph selanjutnta adalah paragraph ke 4 kan ada paragraf 3 tuh bu, pendidikan pesantren pasal 39 kita tambah paragraf keempat jadi pendidikan muadalah disitu muncul, pasalnya kita tidak dibuatkan agar tidak buatkan untuk memudahkan nanti itu muadalah salafiyah mualimin termasuk pada ayat satu pendidikan muadalah adalah berbasis kitab kuning tapi ajarannya agama islam dengan kemudian ada yang mua’alimin yang dimaksud pola mu’alimin adalah yang pola pendidikanya adalah dirosah islamiyah. Yang sudah berjalan sekarang kan di gontor, ternyata banyak pak ternyata di Darul Da’wah wal Irsyad Sulawesi itu ketika saya masuk pesantrennya saya tanya ini dibuat DDI, kemudian saya Tanya ina ada gontornya? Liat selogan-selogannya coba, panca jiwa itu merupakan ciri pola mualimin dimana-mana trademarknya ada pancaa Jiwa dan lain sebagainya, apa yang kamu cari? Supaya ikhlash terus maksudnya pak.

Kemudian penjenjangan kita baru/harus masukkan ini untuk menjelaskan supaya nanti yang membaca undang-undang ganti-ganti terus, tapi kita untuk memberikan kesan pemahaman yang gampang maka dibuat bandingannya di sampingnya sederajat SMA, SMP  itu untuk memudahkan penjenjangan saja. Meminjam lisanul hal untuk mempermudah pemahaman.

Saya kira itu, kemudian yang berikutnya pasal lima puluhnya yang ada di RUU mu’adalahnya yang cuman dikasih kurung kecil ini, kita tidak terima kita hapus saja untuk mengurangi kesalahfahaman. Disinikan tertulis bentuk program penyetaraan itu bukan muadalah, karena muadalah pada awalnya penyetaraan itu dibakukan menjadi bebentuk semacam satuan atau model pendidikan tersendiri. Dimana pesantren salafiyah dimana atau pesantren modern yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal tetapi ijazahnya diakui dengan beberapa syarat tertentu. Jadi muadalah ini ada syaratnya.

Mungkin nanti di akhir dari pasal mu’adalah ini tentang ketentuan atau persyaratan lain dengan ini akan diatur oleh peraturan menteri agama atau mentri bersangkutan. Ini diinsert disini untuk menjaga, saya lihat ini sudah ramping sudah bagus.

Kemudian terakhir penjelasan undang-undang huruf A yang dimaksud pesantren tradisionalnya dihapus menjadi salafiyah. Yaitu penyelenggaraan pendidikan yang secara tradisional dihapus, jadi kita pakai sistem pendidikan pesantren yang berbasis kitab kuning sistem pelajaran kitab kuning berbasis bahasa arab yang menjadi tradisi semua di pondok pesantren.

Kemudian huruf B yang merahnya kita hapus. menjadi sitem penidikan dirosah islamiyah dengan pola mualimin yang bersifat intregatif yang mengajarkan ilmu agama islam dan ilmu umum yang bersifat kompetitif dengan memadukan kegiatan intra, ko- dan ekstrakurikuler. Itu prototypenya gontor lah…

kenapa ini harus dibedakan?  karena takut ada kesalahfahaman, karena sekarang itu ada musim boarding,  ada sekolah tinggal di sekolah  ada aliyah kemudian harian negri mebuat boarding karena dia punya lahan, kiainya ngga ada nanti kiainya dipecat oleh kepala sekolah maka dibuat seperti ini

Terima kasih Wassalaamu’alaikum.wr.wb