Rekonstruksi Pesantren Masa Depan

Dr. M. Tata Taufik

Upaya modernisasi pesantren dilakukan sejak tahun 1930an, kondisi pesantren saat itu dipandang terlalu berorientasi pada pengajaran kitab-kitab berbahasa Arab dengan mengkaji satu-persatu kitab tersebut hingga tuntas dengan cara menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal, sesuai dengan lokasi pesantren itu berada, target utamanya menciptakan ulama.

Beberapa alasan perlunya modernisasi antara lain: Para santri tidak harus bergelut dengan ilmu-ilmu keagamaan semata tanpa membuka diri dengan kondisi masyarakat yang terus berubah, perlunya pembaharuan metodologi pembelajaran, penguasaan ilmu umum, dan efisiensi waktu belajar, tidak fanatik buta, penambahan ilmu keorganisasian, serta pembaharuan pengajaran bahasa Arab.

Awal pembaruan dilakukan oleh beberapa santri yang kemudian menjadi tokoh pembaharuan pesantren antara lain KH.Wahid Hasyim, yang mencoba memodernisasi pesantren  Tebuireng, KH Imam Zarkasyi yang mewujudkan ide -ide pembaharuannya dengan mendirikan pesantren Darussalam Gontor. Gong pembaharuan yang dipukul oleh keduanya -walau pada awalnya mendapat tantangan—kini bisa terlihat pengaruhnya terhadap pengembangan pesantren pasca tahun 30an.

Mulai tahun 70an tepatnya tahun 1975 saat madrasah menjadi idolanya pendidikan agama Islam di Indonesia, pesantren mulai menjadikan madrasah seperti MTs dan MA menjadi bagian dari program pendidikannya sebagai tambahan atas pengajian kitab-kitab pesantren. Perkembangan ini terus berlanjut hingga tahun 2000an bahkan lebih luas lagi dengan maraknya penyelenggaraan pendidikan formal seperti SMP, SMA dan SMK di lingkungan pesantren. Perkembangan selanjutnya pasca tahun 2003an setelah pesantren dimasukkan dalam UU Sisdiknas, pemikiran tentang kehadiran pemerintah dalam regulasi pesantren yang pada gilirannya akan memengaruhi pesantren dalam banyak hal, mulai dari definisi pesantren, ketentuan minimal yang harus dipenuhi pesantren serta pemikiran tentang daya saing pesantren ke depan.

Dampak dari perkembangan ini memungkinkan munculnya pemikiran pendidikan Islam—dalam hal ini pesantren—yang tadinya bermula dari tradisi yang diwarisi secara turun temurun, kemudian modernisasi, tentu menuntut konstruksi ulang pesantren by design. terlebih setelah tahun 2014 dengan lahirnya PMA No. 13 dan 18 Tahun 2014.