Status 13 Untuk Putra-putriku: belajar mengakui kesalahan

Status 7 desember 2018

13. Untuk Putra-putriku: Selain kalimat tobat, istighfar itu belajar mengakui kesalahan.

Istigfar adalah ungkapan permohonan ampun kepada Allah SWT kata kerjanya astigfirullah al-adzim yang berarti aku mohon ampun kepada Allah yang maha Agung. Kalimat ini sangat akrab dengan kaum muslimin, setiap usai shalat fardu minimal tiga kali mereka mengucapkannya, sebagai bentuk pengakuan atas segala kekurang-sempurnaan diri dan permohonan atas kehilafan dalam bertindak, baik yang disadari atau yang tidak disadari, baik kesalahan yang diketahui atau yang tidak diketahui. Bentuk pengakuan atas segala kesalahan yang dilakukan dalam menjalani hidup.

Al-Qur’an memerintahkan agar segera memohon ampunan kepada Allah SWT seperti dalam surat Ali Imron: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” QS.3 :133.[1]

Kemudian dilanjutkan dengan tata cara beristighfar pada ayat berikutnya ketika menggambarkan sifat orang takwa: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” QS.3:135.

Membiasakan beristighfar pada setiap selesai shalat, atau pada saat-saat dirasakan ada kekeliruan dari ucapan atau tindakan merupakan proses mengakui kekurangan dan kesalahan di hadapan Allah SWT. Ini merupakan pelajaran penting, belajar mengaku bersalah dan menyadari kesalahan. Orang yang terbiasa dan bisa mengakui kesalahan adalah orang besar, dan orang yang siap menjadi baik atau memperbaiki dirinya.

Kalau diperhatikan sering kali orang sulit untuk menerima perbaikan karena ia merasa benar terus dan merasa tidak pernah bersalah. Lebih bahaya lagi jika sudah jelas melakukan kesalahan dan diperbaiki oleh orang lain, namun tidak mengakui bahwa ia bersalah. Contoh dalam permainan sepak bola atau bentuk olah raga lainnya yang dipimpin oleh wasit, sering kali keributan berawal dari tidak berani mengaku salah dan tidak mau disalahkan.

[1] Lihat juga QS.57:21, QS.51:18, QS.3:17 dan lainnya tentang istighfar.