Status 15 Untuk Putra-putriku: jangan biasakan berbohong…

Status 8 Desember 2018

15. Untuk Putra-putriku: jangan biasakan berbohong, dan jangan mengira kalau yang dibohongi tidak tahu kebohongan kamu….

Rasulullah SAW bersabda yang maknanya: Biasakanlah jujur, karena jujur akan menuntunmu kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntunmu ke surga, seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha berlaku jujur maka ia ditulis oleh Allah (disifati) sebagai orang yang jujur. Janganlah suka berbohong, karena bohong akan menuntunmu untuk berbuat dosa, dan dosa menggirimu ke neraka, seseorang yang senantiasa berbohong dan berusaha untuk berbohong maka ia ditulis oleh Allah sebagai orang yang pembohong/kadzab. (Mutafaq Alaihi).

Paul Gray  menulis kolom dengan judul Lies, Lies, Lies (TIME, October 5, 1992) ia menyebutkan ada tiga kategori bohong: pertama, bohong untuk melindungi orang lain, kedua, bohong untuk menghancurkan, dan ketiga bohong untuk kepentingan pembohong itu sendiri.

Ada enam alasan mengapa seseorang berbohong:

  1. Perlu persetujuan atau ingin menyenangkan orang lain
  2. Mencoba menjadikan diri sendiri tampak “lebih baik” daripada sebenarnya
  3. Mengontrol situasi atau respons
  4. Untuk mengimbangi kenyataan atau menyembunyikan perasaan sejati
  5. Melindungi seseorang atau diri mereka sendiri
  6. Untuk mempertahankan rasa berkuasa atas orang lain atau situasi

Sedangkan type bohong bisa dikelompokkan pada lima hal:

  1. Berbohong karena kelalaian
  2. Mengatakan “kebohongan putih.” Kebohongan yang disengaja namun tidak bertujuan menimbulkan korban. Seperti memuji hasil karya anak yang sebenarnya tidak bagus dikatakan bagus.
  3. Membesar-besarkan fakta.
  4. Bohong secara langsung/spontan.
  5. Menyebarkan rumor.

Berbohong juga bisa dipandang sebagai penyakit, mungkin ini yang dimaksud dengan gelar kadzaab dalam hadits; patalogi berbohong. Sifat-sifat pembohong patalogi biasanya memiliki sifat narsis atau perilaku egois, karena berlebihan mencintai diri sendiri, suka melecehkan dan  atau mudah marah, suka melakukan tindakan menipu, manipulatif, bertindak impulsif, melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang/ dilakukan secara spontan, temperamental dan suasana mood yang tidak menentu, kurang empati, serta tidak bisa berhenti berbohong.

Jika melihat teori berbohong di atas baik yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, bahwa berbohong jika sudah kelewat batas, lama-lama akan menjadi penyakit sehingga dijuluki sang pembohong (kadzab) maupun teori yang disampaikan oleh para pemerhati yang megadakan studi tentang bohong, semua ujungnya mengisyaratkan bahaya berbohong, terlebih jika sudah menjadi penyakit yang melekat pada diri seseorang.

Kebohongan itu akan terus menerus melahirkan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Akibatnya jika berkata benar sekalipun orang yang sudah dikenal sebagai tukang bohong, akan sulit dipercaya. Padahal kehilangan kepercayaan bagi seseorang adalah kerugian dan kesulitan tersendiri.

Untuk putra-putriku, camkan berbagai kisah berkenaan dengan kekuatan kejujuran, seperti kisah seorang yang bergelimang dosa dan pelaku kejahatan yang datang kepada Rasulullah SAW untuk masuk Islam, namun ia menceritakan kelemahan dirinya bahwa ia seorang yang berperi laku jahat dan suka mencuri. Kemudian Rasulullah –untuk mengatasi masalahnya itu—hanya meminta satu hal: “Maukah kamu berjanji pada saya untuk tidak berbohong?” Orang itu spontan menjawab: “siap” sambil bergumam dalam hatinya betapa mudah syarat yang diminta oleh Rasulullah, ia hanya meminta agar aku tidak berbohong. Setelah ia pergi meninggalkan Rasulullah lalu ia terpikir untuk mencuri sebagaimana biasa, namun hatinya berdialog, kalau saya mencuri, bagaimana nanti jika ditara Rasulullah, padahal saya sudah berjanji kepadanya bahwa sawa tidak akan berbohong. Maka ia pun urungkan niatnya untuk mencuri, dan begitu seterusnya ketika terpikir untuk mencuri, dialog yang sama terus ia lakukan, dan ia batalkan niatnya untuk mencuri. Sehingga ia menjadi orang yang baik.

Kisah ini menunjukkan kekuatan janji “tidak berbohong” yang bisa menahan seseorang dari melakukan kejahatan.

Dan yang terpenting lagi, wahai putra-putriku, jangan beranggapan bahwa yang dibohongi itu tidak tahu kalau dia dibohongi.

Ingat kisah Nabi Ya’qub dan putra-putranya dalam surat Yusuf, jauh-jauh sebelum rekayasa makar yang dilakukan oleh saudara-saudara nabi Yusuf yang ingin mencelakainya karena iri, nabi Yusuf sudah diberi ilham berupa mimpi kalau dia suatu saat akan jadi raja dan para raja akan tunduk padanya, dengan bermimpi kalau bintang gemintang serta mata hari sujud padanya. Mimpinya itu disampaikan kepada nabi Ya’qub (ayahnya). Dari situ dia sudah tahu kalau Yusuf putranya itu akan hidup dan menemui kejayaannya kelak. Maka ketika saudara-saudaranya mencelakainya dan mengatakan bahwa Yusuf dimangsa serigala, sang ayah tahu percis kalau itu adalah kebohongan. Namun karena kebijakannya ia tidak berdebat dengan putra-putranya bahwa Yusuf masih hidup dan menuduh mereka berbohong.