{"id":100,"date":"2026-09-16T12:43:01","date_gmt":"2026-09-16T12:43:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mtatataufik.com\/?p=100"},"modified":"2026-09-16T12:43:01","modified_gmt":"2026-09-16T12:43:01","slug":"pesan-100-tahun-gontor-konstruksi-kurikulum-holistik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mtatataufik.com\/?p=100","title":{"rendered":"Pesan 100 Tahun Gontor: Konstruksi Kurikulum Holistik"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><em>M. Tata Taufik<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seratus tahun bukan sekadar usia. Dalam kehidupan sebuah pesantren, ia adalah kesempatan untuk menengok perjalanan, membaca perubahan, dan mengajukan pertanyaan yang lebih serius: manusia seperti apa yang sudah dibentuk, dan manusia seperti apa yang harus disiapkan untuk abad kedua?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Indonesia sudah lama mengenal Gontor. Dunia pun mengenalnya melalui kekhasan yang tidak dibangun dalam satu malam. Pada masa ketika sebagian pesantren masih merasa asing dengan sebutan \u201cmodern\u201d, terlebih dengan pelajaran umum, Gontor sudah memilih jalan yang berbeda. Ia memperlihatkan bahwa pondok dapat melakukan kontekstualisasi, menyerap kebutuhan zaman, dan tetap teguh memelihara jati dirinya. Modernitas tidak dibaca sebagai pemutusan hubungan dengan tradisi, melainkan kecakapan membawa nilai ke dalam kenyataan baru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilihan itu kemudian menemukan gema luas. Pesantren-pesantren bertumbuh dengan bentuk dan kekhasannya masing-masing. Kementerian Agama mencatat puluhan ribu pondok pesantren dengan jutaan santri, seluruhnya lahir dari prakarsa masyarakat. Tidak ada pesantren negeri. Kenyataan ini menjadikan kemandirian sebagai persoalan penting. Gontor, dengan sistem badan wakafnya, memberi pelajaran bahwa lembaga modern tidak harus bergantung. Kemandirian ekonomi dan tata kelola bukan urusan pinggiran; keduanya menentukan apakah cita-cita pendidikan dapat bertahan lintas generasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam forum Global Islamic Holistic Education Summit 2026, gagasan pendidikan holistik muncul dari beragam pintu masuk. Din Syamsuddin menempatkannya sebagai pilihan strategis untuk membangkitkan peradaban Islam. Ia mengingatkan bahwa istilah holistik tidak boleh hanya menjadi kata yang nyaman digunakan dalam seminar. Maknanya dapat berbeda-beda: ada yang memahaminya sebagai penyatuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik; ada yang menghubungkannya dengan potensi spiritual, sosial, intelektual, dan dimensi kemanusiaan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, pendidikan holistik memerlukan ukuran yang jelas. Din menawarkan dua sumbu. Sumbu vertikal menghubungkan manusia dengan nilai dan tujuan tertinggi. Sumbu horizontal menghubungkan berbagai potensi, bidang ilmu, dan kenyataan hidup. Pada pertemuan keduanya, pendidikan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran. Ia membentuk manusia yang mengetahui untuk apa pengetahuannya digunakan, kepada siapa ia bertanggung jawab, dan bagaimana ia harus hadir di tengah kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gontor telah menyediakan contoh pengalaman yang penting. Pendidikan berlangsung dua puluh empat jam. Kelas memang penting, tetapi kehidupan tidak berhenti ketika jam pelajaran usai. Asrama, masjid, organisasi, dapur, lapangan, pergaulan, dan cara menyelesaikan persoalan menjadi ruang pembelajaran. Maka ketika orang bertanya apa yang diajarkan di Gontor, barangkali pertanyaan yang lebih tepat ialah: apa yang tidak diajarkan? Seluruh kehidupan dapat menjadi kurikulum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akan tetapi, justru karena seluruh kehidupan adalah ruang pendidikan, seluruh unsur kehidupan pesantren harus diperiksa secara sadar. Santri belajar keadilan dari cara aturan diterapkan. Mereka belajar amanah dari cara uang dikelola. Mereka belajar kepemimpinan dari cara pengurus menggunakan kewenangan. Mereka belajar persaudaraan dari cara teman diperlakukan ketika sedang lemah atau melakukan kesalahan. Tidak semua pelajaran itu tercantum dalam silabus, tetapi semuanya membentuk watak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sini kita perlu membedakan antara kehidupan yang kebetulan berlangsung di pesantren dan kehidupan yang sungguh-sungguh dirancang sebagai pendidikan. Kurikulum holistik meminta yang kedua. Ia meminta para pendidik menyadari bahwa keteladanan, disiplin, relasi, penghargaan, kritik, bahkan penyelesaian konflik merupakan materi pendidikan yang hidup. Kalau pendidikan hanya sibuk memeriksa nilai ujian, sebagian besar pertumbuhan manusia bisa tidak terbaca.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jusuf Kalla memberi rumusan yang sederhana dan mudah diingat: <em>head, heart, and hand<\/em>. <em>Head<\/em> adalah pengetahuan, logika, dan kecerdasan. <em>Heart<\/em> adalah hati, iman, akhlak, serta semangat. <em>Hand<\/em> adalah keterampilan, kemampuan bekerja, dan keberanian bertindak. Ketiganya perlu tumbuh bersama. Kepintaran yang hanya berdiam di kepala belum tentu mampu menolong masyarakat. Semangat tanpa pengetahuan dapat bergerak tanpa arah. Keterampilan tanpa nilai dapat menghasilkan kecakapan yang kehilangan tanggung jawab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumusan itu menempatkan pendidikan pada tuntutan yang nyata. Masa depan tidak hanya meminta orang pandai, tetapi manusia yang cerdas dalam menilai, bersikap, dan bertindak. Karena itu, pendidikan tidak dapat bertahan hanya dengan hafalan. Hafalan tetap berguna; ia melatih ingatan dan menjaga khazanah. Namun masa depan juga meminta kemampuan bertanya, menghubungkan, menyelidiki, dan mengambil keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketaatan tidak boleh mematikan kemampuan berpikir. Santri perlu belajar berdiskusi dengan guru secara beradab, dan berdebat dengan sesama secara sehat. Guru pun tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi. Ketika informasi dapat datang dari telepon genggam, mesin pencari, dan kecerdasan buatan, wibawa guru tidak lagi terletak pada posisinya sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Wibawanya terletak pada kemampuannya membimbing murid menggunakan informasi secara benar, mengajukan pertanyaan yang lebih bermutu, dan memelihara arah moral dari ilmu yang dipelajari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan tersebut menuntut dukungan fasilitas. Pendidikan manusia utuh tidak dapat ditopang oleh ruang kelas semata. Laboratorium, perpustakaan, tempat praktik, lapangan olahraga, ruang berkarya, dan ruang berdiskusi bukan pelengkap untuk difoto ketika akreditasi. Semua itu merupakan bagian dari lingkungan belajar. Pendidikan yang ingin melahirkan keberanian bertindak harus memberi kesempatan untuk mencoba. Pendidikan yang ingin membangun kecakapan bekerja harus menyediakan pekerjaan nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amin Suyitno menghubungkan pendidikan holistik dengan integrasi ilmu. Ada ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Imam al-Syafi\u2018i: untuk meraih kehidupan dunia diperlukan ilmu; untuk meraih akhirat diperlukan ilmu; dan untuk meraih keduanya, tetap diperlukan ilmu. Pesan ketiganya terasa paling relevan. Selama ini dunia sering diletakkan di wilayah sekolah umum, sedangkan akhirat ditempatkan di wilayah pesantren. Padahal kehidupan manusia tidak pernah terbelah serapi itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita membutuhkan <em>al-\u2018ul\u016bm al-d\u012bniyyah<\/em>, tetapi juga <em>al-\u2018ul\u016bm al-kauniyyah<\/em> dan <em>al-\u2018ul\u016bm al-ins\u0101niyyah<\/em>: ilmu agama, ilmu alam, serta ilmu kemanusiaan. Semuanya diperlukan untuk membaca realitas dan membangun peradaban. Integrasi bukan berarti seluruh bidang ilmu dicampur menjadi satu mata pelajaran yang kabur. Integrasi berarti setiap ilmu dipelajari secara sungguh-sungguh, lalu dipertemukan dalam persoalan kehidupan yang nyata dan diarahkan oleh nilai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya dekat. Persoalan air di pesantren dapat mempertemukan pembahasan tentang bersuci, kesehatan, lingkungan, teknologi, kebiasaan hidup, dan tanggung jawab sosial. Proyek usaha santri dapat mempertemukan matematika, bahasa, ekonomi, organisasi, kejujuran, dan amanah. Di situlah agama tidak sekadar diajarkan sebagai teori, sementara ilmu umum tidak berjalan tanpa arah. Keduanya bertemu dalam tindakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia memberi salah satu gambaran yang patut dipelajari. Lulusannya diharapkan kuat dalam agama, sains, ilmu sosial, serta bahasa. Perguruan tinggi keagamaan Islam pun sedang bergerak ke arah yang sama. Amin menyebut bahwa perjumpaan antara ilmu agama dan ilmu umum di sejumlah UIN mungkin belum sepenuhnya menjadi perkawinan; paling tidak sudah masuk tahap <em>khitbah<\/em> atau lamaran. Ungkapan itu jenaka, tetapi mengandung pekerjaan rumah yang serius. Dekat secara kelembagaan belum tentu menyatu dalam cara berpikir, penelitian, dan kurikulum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika UIN memiliki fakultas kedokteran, misalnya, pertanyaan yang muncul bukan apakah fakultas itu boleh ada, melainkan apa distingsinya. Jawabannya tidak terletak pada penggantian ilmu kedokteran modern dengan slogan keagamaan. Justru yang diperlukan ialah memperkaya sudut pandang: mempertemukan keilmuan medis mutakhir, warisan Ibn Sina, persoalan kesehatan khas komunitas pesantren, dan kajian ilmiah terhadap tradisi pengobatan Islam. Integrasi tumbuh melalui kerja keilmuan yang jujur, bukan melalui penempelan istilah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pidato Gubernur Lemhannas, Ace Hasan Syadzily, membawa pembicaraan ke cakrawala yang lebih luas. Dunia sedang memasuki masa penuh ketidakpastian: persaingan geopolitik, kecerdasan buatan, perubahan iklim, ketahanan pangan dan energi, ancaman siber, disinformasi, wabah, dan retaknya solidaritas sosial. Persoalan-persoalan itu tidak hadir sendiri-sendiri. Satu persoalan dapat memperbesar persoalan yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan pendidikan tidak lagi berhenti pada seberapa banyak yang diketahui peserta didik. Pertanyaan yang lebih menentukan ialah: apakah mereka siap menghadapi perubahan, kerumitan, dan ketidakpastian? Pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat memperuncing konflik. Teknologi tanpa etika dapat memperbesar persoalan manusia. Keberhasilan ekonomi tanpa tanggung jawab sosial dapat melemahkan masyarakat yang menopangnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tradisi pesantren memiliki modal yang besar untuk menjawab tantangan tersebut. Pesantren merupakan sekolah kehidupan. Di sana nilai bukan hanya diceramahkan, melainkan dihidupi melalui kebiasaan. Kesederhanaan, disiplin, pengelolaan diri, saling menghormati, kerja sama, dan tanggung jawab dilatih dalam kegiatan sehari-hari. Kepemimpinan pun tidak hanya dibicarakan, tetapi dipraktikkan melalui amanat organisasi dan tugas bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun modal yang besar harus dijaga dengan sistem yang kuat. Kebijaksanaan seorang kiai perlu ditransformasikan menjadi kebijaksanaan kelembagaan. Keteladanan pemimpin perlu diwariskan dalam tata kelola, manajemen, pengaderan, dokumentasi pengetahuan, dan strategi jangka panjang. Ini bukan usaha mengganti jiwa pesantren dengan manajemen modern. Ini usaha memperkuat kelembagaan agar jiwa dan nilai pesantren dapat bertahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepemimpinan yang kuat juga harus melahirkan pemimpin berikutnya. Lembaga tidak menjadi kokoh hanya karena memiliki seorang tokoh besar. Ia menjadi kokoh ketika terus menghasilkan generasi yang mampu memikul amanat. Santri perlu diberi ruang untuk menyusun kegiatan, memecahkan masalah, bekerja dalam tim, dan belajar dari kesalahan. Pemimpin masa depan harus kompeten tetapi rendah hati, percaya diri tetapi bertanggung jawab, berdaya saing global tetapi berakar kuat secara moral.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah pesan Kiai Hasan Abdullah Sahal menemukan bobotnya. Abad kedua adalah tanggung jawab generasi yang datang sesudah generasi pendiri dan penerus awal. Jumlah tidak boleh menjadi ukuran tunggal. Akan datang masa ketika manusia banyak, tetapi manusia bermutu sulit ditemukan. Pesantren tidak boleh hanya bangga dengan besarnya angka santri, luasnya bangunan, atau banyaknya cabang. Yang lebih mendasar ialah mutu manusia yang lahir dari dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendidikan berbicara ke depan. Lembaga yang terus-menerus hanya berbicara tentang masa lalu akan berubah menjadi museum. Gontor tentu harus merawat ingatan dan menghormati para pendiri. Tetapi warisan tidak dijaga dengan membekukannya. Nilai perlu dipertahankan, sedangkan cara dan langkah perlu terus disempurnakan. Dalam bahasa Pak Ace: <em>preserve the values and transform the methods.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah tugas konstruksi kurikulum holistik bagi seratus tahun kedua Gontor. Ia berangkat dari realitas pendidikan yang telah hidup: kehidupan dua puluh empat jam, disiplin, bahasa, kemandirian, kepemimpinan, wakaf, dan pengabdian. Semua itu perlu dibaca kembali, dijelaskan secara ilmiah, diperkuat melalui sistem, serta dipertemukan dengan tantangan teknologi, perubahan dunia, dan kebutuhan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kurikulum holistik tidak selesai dalam rumusan yang indah. Ia terlihat ketika seorang santri berpikir jernih, berhati baik, terampil bekerja, mampu berdialog, berani bertanggung jawab, dan tetap teguh memegang nilai ketika dunia berubah. Dari manusia seperti itulah masa depan pesantren, bangsa, dan peradaban dapat dibangun.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>M. Tata Taufik Seratus tahun bukan sekadar usia. Dalam kehidupan sebuah pesantren, ia adalah kesempatan untuk menengok perjalanan, membaca perubahan, dan mengajukan pertanyaan yang lebih serius: manusia seperti apa yang sudah dibentuk, dan manusia seperti apa yang harus disiapkan untuk abad kedua? Indonesia sudah lama mengenal Gontor. Dunia pun mengenalnya melalui kekhasan yang tidak dibangun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":101,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-100","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/100","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=100"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/100\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":102,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/100\/revisions\/102"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/101"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}