{"id":174,"date":"2026-09-21T22:19:46","date_gmt":"2026-09-21T22:19:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mtatataufik.com\/?p=174"},"modified":"2026-09-21T22:22:49","modified_gmt":"2026-09-21T22:22:49","slug":"mutu-pesantren-dimulai-dari-manusia-yang-hendak-dibentuk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mtatataufik.com\/?p=174","title":{"rendered":"Mutu Pesantren Dimulai dari Manusia yang Hendak Dibentuk*"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>M Tata Taufik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap kali mendengar istilah penjaminan mutu, sebagian orang segera membayangkan borang, instrumen, standar, akreditasi, dan sederet dokumen yang harus disiapkan. Semua itu penting. Akan tetapi, bagi pesantren, mutu tidak boleh dimulai dari meja administrasi. Ia harus dimulai dari satu pertanyaan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang hendak dibentuk?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam bahasa yang lebih sederhana, kiai harus tahu apa maunya. Pesantren ini hendak <em>\u201cmembuat\u201d<\/em> apa? Kalau diibaratkan pabrik, pabrik apa? Tentu pesantren bukan pabrik, dan santri bukan barang produksi. Perumpamaan itu hanya hendak menegaskan bahwa sebuah lembaga tidak mungkin menjamin mutu apabila belum jelas hasil pendidikan yang ingin dicapainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kejelasan tersebut menentukan segala sesuatu. Rumusan tujuan pendidikan, kurikulum, kegiatan harian, disiplin, bahasa, pengasuhan, hingga cara mengevaluasi lulusan harus bergerak menuju manusia yang sama. Kalau profil santri yang hendak dilahirkan belum jelas, lembaga akan sibuk mengukur banyak hal tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang dikejar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Usia Santri dan Tanggung Jawab Orang Dewasa<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesantren pada umumnya mendidik anak usia 12 sampai 18 tahun. Inilah masa yang oleh Maria Montessori ditempatkan dalam tahap perkembangan remaja. Dalam tradisi Montessori, periode tersebut sering dikaitkan dengan tumbuhnya <em>humanistic mind<\/em>: perhatian remaja mulai meluas dari dirinya sendiri menuju masyarakat, keadilan, martabat, dan makna hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya menyebut proses pendidikan pada usia ini dengan satu kata: <em>mentoring<\/em>. Santri memang belajar kitab, bahasa, sains, organisasi, dan keterampilan. Namun, di balik semua kegiatan itu terdapat keterlibatan orang dewasa yang membantu mereka membangun diri. Kiai, ustaz, pengasuh, dan kakak kelas tidak hanya menyampaikan pelajaran. Mereka menjadi contoh hidup yang dilihat santri dari pagi sampai pagi lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah nilai seperti ukhuwah Islamiyah, keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, dan Panca Jiwa memperoleh konteks perkembangannya. Nilai-nilai itu tidak cukup ditempel di dinding. Santri harus mengalami, mempraktikkan, dan menyaksikannya dalam hubungan sehari-hari. Penjaminan mutu pesantren karena itu tidak hanya memeriksa apa yang diajarkan, tetapi juga siapa yang mendampingi dan bagaimana kehidupan bersama dijalankan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mutu Harus Terlihat pada Hasil<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika manusia yang hendak dibentuk sudah jelas, pembicaraan tentang <em>output<\/em> dan <em>outcome<\/em> menjadi lebih mudah. <em>Output<\/em> menunjukkan kualitas santri ketika menyelesaikan pendidikan. <em>Outcome<\/em> memperlihatkan bagaimana kualitas itu hidup setelah mereka kembali ke masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ukuran keberhasilan tiap lembaga tidak selalu sama. Ada sekolah yang bangga karena seluruh lulusannya melanjutkan kuliah. Ada pula sekolah yang merasa berhasil ketika mayoritas lulusannya siap bekerja. Keduanya tidak dapat dibandingkan hanya dengan satu angka, sebab sejak awal orientasinya berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesantren pun harus berani menetapkan ukurannya sendiri. Apakah ia ingin melahirkan ulama, pendidik, pemimpin masyarakat, dai, wirausahawan, cendekiawan Muslim, atau perpaduan beberapa peran? Jawabannya tidak boleh berhenti sebagai slogan. Profil lulusan harus diterjemahkan ke dalam pengalaman pendidikan dan dapat dilacak dalam kehidupan alumni.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebutuhan pesantren pada akhirnya berhubungan dengan dakwah. Karena itu, hasil pendidikan tidak cukup diukur dari ijazah atau pekerjaan pertama alumni. Kita perlu melihat apakah mereka mampu membawa nilai Islam ke dalam keluarga, profesi, organisasi, dan masyarakat. Di situlah <em>outcome<\/em> pesantren mulai tampak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pesantren Menghadapi Perang Sistem<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada masa penjajahan, pesantren menjadi ruang perjuangan para kiai untuk memberi ilmu kepada kaum Muslimin, terutama ilmu agama yang menjaga identitas dan daya hidup umat. Sesudah Indonesia merdeka, peran itu tidak hilang, tetapi konteksnya berubah. Pesantren hadir sebagai kritik sekaligus pelengkap terhadap model pendidikan yang dijalankan negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi pernah menyebut adanya <em>\u201cperang sistem\u201d<\/em>. Ungkapan ini penting. Yang dipertahankan pesantren bukan hanya daftar mata pelajaran, pakaian, atau bentuk bangunan. Pesantren mempertahankan sistem kehidupan yang menghubungkan pembelajaran, ibadah, pengasuhan, keteladanan, organisasi, bahasa, dan pergaulan dalam satu lingkungan pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sistem seperti Kulliyatul Mu\u2019allimin al-Islamiyah dan Tarbiyatul Mu\u2019allimin al-Islamiyah patut dilihat sebagai aliran dalam pendidikan. Ia bukan sekadar susunan kelas dan jadwal. Ia membawa pandangan tertentu tentang manusia, ilmu, kedisiplinan, kepemimpinan, dan pengabdian. Karena itu, sistem tersebut dapat mengalir dan diterima di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nama Gontor, misalnya, dikenal di berbagai negara. Saya pernah bertemu seorang pejabat pendidikan asing yang spontan berkata, <em>\u201cI know Gontor.\u201d<\/em> Beberapa akademisi dari Maroko juga mengenal Gontor dan Indonesia. Pengakuan seperti ini patut disyukuri, tetapi kebanggaan saja belum cukup. Dunia ilmiah tidak hanya bertanya apakah sebuah sistem dikenal. Ia juga bertanya bagaimana sistem itu bekerja dan apa buktinya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dari Tradisi Hidup Menjadi Pengetahuan Tertulis<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesantren memiliki banyak kebaikan yang hidup dalam tradisi. Masalahnya, sebagian masih tersimpan dalam ingatan kiai, kebiasaan guru, cerita alumni, dan ungkapan yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semua itu kuat selama pelakunya masih ada, tetapi dapat memudar ketika generasi berganti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, nilai pesantren harus digali dan dikodifikasi. Kiai Ahmad Suharto, misalnya, tekun menulis nilai-nilai yang ia lihat dan alami di Gontor melalui buku seperti <em>Senarai Kearifan Gontor<\/em> dan <em>Dimensi Esoteris<\/em>. Kerajinan semacam ini sangat penting. Untung beliau menjadi intelektual. Kalau menjadi novelis, mungkin bukunya sudah berseri-seri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kodifikasi membuat pengalaman pesantren dapat dibaca, dibahas, diajarkan, dikritik, dan dikembangkan. Namun, pekerjaan belum selesai ketika nilai-nilai itu sudah menjadi buku. Nilai tersebut perlu dipertemukan dengan teori pendidikan yang berkembang. Pesantren harus fasih ke dalam dan fasih ke luar: mampu menjelaskan dirinya dengan bahasa tradisinya sendiri, sekaligus mampu berbicara dalam bahasa akademik yang dipahami dunia luar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah para mahasiswa magister, kandidat doktor, dosen, dan profesor mempunyai pekerjaan. Skripsi, tesis, dan disertasi jangan hanya menjadi syarat kelulusan. Gunakan penelitian untuk membongkar kekayaan pendidikan pesantren. Sekali membuat tesis, buatlah yang membuat hidup terasa ada gunanya. Teliti cara pesantren membangun kemandirian, kepemimpinan, rasa ingin tahu, kedisiplinan, kemampuan berbahasa, ketahanan hidup, dan tanggung jawab sosial.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kiai sebagai Lokomotif Mutu<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mutu sebuah pesantren sangat bergantung pada lokomotifnya, yaitu pengasuh. Kiai memberi arah, menjaga irama, menentukan standar, dan menghidupkan nilai. Kurikulum tertulis dapat sama, tetapi mutu lembaga akan berbeda ketika keteladanan dan kepemimpinannya berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, kiai tidak boleh hanya menjadi sumber kebijakan lisan. Gagasan dan pengalamannya perlu ditulis. Sekarang banyak pengasuh memiliki sekretaris atau tim yang dapat membantu merekam ceramah, merapikan catatan, dan menyusun naskah. Kalau harimau mati meninggalkan belang, kiai wafat jangan meninggalkan hutang. Tinggalkan tulisan dan karya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Humor itu menyimpan pesan serius. Karya tertulis membuat kepemimpinan tidak berhenti pada kharisma pribadi. Generasi berikutnya mempunyai peta untuk memahami mengapa suatu kebijakan dibuat, nilai apa yang dijaga, dan bagian mana yang masih dapat dikembangkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita boleh mempunyai tekad untuk menjadi yang terbaik dalam pendidikan. Akan tetapi, jangan sampai sombong tetapi kosong. Klaim keunggulan harus diikuti bukti.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penelitian sebagai Bukti dan Dakwah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam presentasi, saya mencontohkan pendidikan Montessori. Di Indonesia, Montessori sering dikenal pada tingkat taman kanak-kanak. Namun, para penelitinya tidak berhenti mempromosikan metode. Mereka meneliti jejak pendidikan itu sampai masa dewasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah penelitian oleh Angeline S Lillard dan rekan-rekannya dari University of Virginia menemukan hubungan antara pengalaman belajar di sekolah Montessori dan beberapa ukuran kesejahteraan pada masa dewasa. Para peneliti tetap berhati-hati karena hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan sebab-akibat. Meski begitu, penelitian itu menunjukkan sesuatu yang penting: nilai pendidikan dapat diterjemahkan menjadi pertanyaan yang terukur dan diuji dengan data.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesantren seharusnya melakukan hal serupa. Kita mempunyai jaringan alumni yang luas dan sejarah yang panjang. Kita dapat meneliti apakah kehidupan berasrama berhubungan dengan kemandirian, apakah organisasi santri membentuk kepemimpinan, bagaimana penggunaan bahasa memengaruhi kepercayaan diri, atau bagaimana pola pengasuhan menumbuhkan ketahanan dan kepedulian sosial. Dengan penelitian, kebaikan pesantren tidak hanya diceritakan, tetapi juga diperlihatkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil penelitian itu kemudian perlu disosialisasikan. Sebagian pesantren masih merasa tidak nyaman dengan kata iklan, seolah-olah promosi selalu identik dengan perdagangan. Bagi perusahaan, iklan memang bertujuan menjual produk. Bagi pesantren, memperkenalkan kebaikan pendidikan secara jujur dapat menjadi bagian dari dakwah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita mengajak masyarakat memasuki proses <em>tafaqquh f\u012b al-d\u012bn<\/em>. Kita menunjukkan adanya lingkungan yang membantu anak belajar agama, membangun watak, hidup bersama, dan bersiap mengabdi. Selama disampaikan dengan benar, tanpa manipulasi dan klaim kosong, komunikasi publik tentang pesantren merupakan seruan kepada kebaikan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mutu yang Dapat Diwariskan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penjaminan mutu pesantren akhirnya merupakan rangkaian pekerjaan yang saling berhubungan. Pesantren harus menjelaskan manusia yang hendak dibentuk, menjaga sistem yang mengarah kepadanya, mengodifikasi nilai yang selama ini hidup, meneliti hasilnya, lalu mengomunikasikannya kepada masyarakat secara jujur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Borang dan akreditasi tetap diperlukan, tetapi keduanya datang kemudian. Dokumen hanya berguna apabila merekam kehidupan pendidikan yang nyata. Kalau tidak, pesantren mungkin tampak bermutu di atas kertas, sementara manusia yang hendak dibentuk masih kabur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mutu yang sejati dapat dilihat, diuji, diceritakan, dan diwariskan. Ketika itu terjadi, pesantren tidak perlu berteriak bahwa dirinya hebat. Karya para kiai, pengalaman para santri, dan kiprah para alumni akan berbicara. Tugas kita ialah membuat semua bukti itu terbaca.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sumber<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">*Adaptasi Presentasi M Tata Taufik. <em>\u201cPenjaminan Mutu Pesantren.\u201d<\/em> Presentasi pada Saresehan FKPM dan FPAG Jawa Barat, Pondok Pesantren Al Basyariyah, 14 September 2024. <a href=\"https:\/\/youtu.be\/U0Y7ejG2EFA\">https:\/\/youtu.be\/U0Y7ejG2EFA<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">American Montessori Society. <em>\u201cFast Facts What Is Montessori.\u201d<\/em> <a href=\"https:\/\/amshq.org\/about-montessori\/press-kit\/what-is-montessori\/\">https:\/\/amshq.org\/about-montessori\/press-kit\/what-is-montessori\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lillard, Angeline S., M. Joseph Meyer, Dermina Vasc, dan Eren Fukuda. 2021. <em>\u201cAn Association Between Montessori Education in Childhood and Adult Wellbeing.\u201d<\/em> <em>Frontiers in Psychology<\/em> 12. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3389\/fpsyg.2021.721943\">https:\/\/doi.org\/10.3389\/fpsyg.2021.721943<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>M Tata Taufik Setiap kali mendengar istilah penjaminan mutu, sebagian orang segera membayangkan borang, instrumen, standar, akreditasi, dan sederet dokumen yang harus disiapkan. Semua itu penting. Akan tetapi, bagi pesantren, mutu tidak boleh dimulai dari meja administrasi. Ia harus dimulai dari satu pertanyaan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang hendak dibentuk? Dalam bahasa yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":175,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-174","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/174","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=174"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/174\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":178,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/174\/revisions\/178"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/175"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}