{"id":260,"date":"2026-09-29T13:37:41","date_gmt":"2026-09-29T13:37:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mtatataufik.com\/?p=260"},"modified":"2026-09-29T13:58:19","modified_gmt":"2026-09-29T13:58:19","slug":"teori-komunikasi-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mtatataufik.com\/?p=260","title":{"rendered":"Teori Komunikasi Islam"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>Integrasi Taksonomi Qurani dan Sunnah dalam Dialog dengan Teori Komunikasi Modern<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>M. Tata Taufik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Abstrak.<\/strong> Artikel ini merumuskan Teori Komunikasi Islam melalui integrasi taksonomi komunikasi Qurani dan Sunnah, serta menempatkannya dalam dialog kritis dengan teori komunikasi modern. Kajian dilakukan dengan studi kepustakaan terhadap Al-Qur\u2019an, hadis, karya-karya komunikasi Islam, dan literatur teori komunikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa teori tidak cukup dibangun dari daftar istilah atau ayat yang ditempelkan pada model yang telah tersedia. Teori memerlukan asumsi, konsep, relasi, proposisi, dan kemungkinan pengujian. Teori Komunikasi Islam yang dirumuskan berangkat dari tauhid dan amanah; memandang manusia sebagai makhluk indrawi, rasional, qalbi, dan moral; serta memahami komunikasi sebagai ikhtiar bayani melalui pesan, relasi, keteladanan, dan tindakan simbolik. Prosesnya bergerak dari niat, bayan, uswah, dan relasi menuju istima, fahm, tadabbur, qalb, iradah, amal, akhlak, islah, dan peradaban, dengan pengakuan bahwa hidayah dan taufik Allah membatasi klaim kontrol komunikator. Artikel ini menawarkan dua belas proposisi awal, taksonomi gangguan, dan agenda operasionalisasi empiris. Kontribusinya terletak pada penempatan teori modern sebagai mitra dialog, bukan kerangka induk, sehingga Komunikasi Islam dapat berkembang sebagai teori normatif-empiris yang terbuka terhadap penelitian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kata kunci.<\/strong> Teori Komunikasi Islam, Al-Qur\u2019an, Sunnah, bayan, qalb, islah, teori komunikasi modern.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Abstract.<\/strong> This article formulates Islamic Communication Theory by integrating Quranic and Sunnah-based communication taxonomies and placing them in critical dialogue with modern communication theories. Based on library research on the Quran, hadith, Islamic communication scholarship, and communication theory, it argues that theory cannot be produced by merely attaching verses to pre-existing models. A theory requires assumptions, concepts, relations, propositions, and possibilities for inquiry. The proposed theory begins with tawhid and amanah; sees the human being as sensory, rational, qalbi, and moral; and understands communication as a bayani endeavour enacted through messages, relationships, exemplary conduct, and symbolic action. Its process moves from intention, bayan, uswah, and relationship to listening, understanding, reflection, qalb, will, action, character, reform, and civilization, while recognising divine guidance and facilitation as limits on the communicator\u2019s control. The article offers twelve initial propositions, a taxonomy of communication disturbances, and an agenda for empirical operationalisation. Its contribution lies in treating modern theory as a dialogue partner rather than as the master frame, enabling Islamic Communication to develop as an open normative-empirical theory.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Keywords.<\/strong> Islamic Communication Theory, Quran, Sunnah, bayan, qalb, islah, modern communication theory.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bab-bab mengenai komunikasi Qurani dan Sunnah menyediakan kekayaan istilah, peristiwa, prinsip, dan contoh. Akan tetapi, kekayaan itu belum otomatis menjadi teori. Taksonomi membantu kita menjawab pertanyaan tentang apa saja bentuk komunikasi dalam Al-Qur\u2019an dan Sunnah; teori harus melangkah lebih jauh: menjelaskan bagaimana unsur-unsur itu saling berhubungan, mengapa suatu komunikasi berhasil atau gagal, dalam keadaan apa pengaruh terjadi, dan ke mana komunikasi diarahkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pergerakan dari taksonomi menuju teori adalah tahap integrasi dan abstraksi. Al-Qur\u2019an menyediakan orientasi tauhid, kebenaran, hidayah, amanah, rahmah, dan islah. Sunnah memperlihatkan cara orientasi itu dihadirkan dalam komunikasi: Nabi berbicara, mendengar, bertanya, mengulang, berdiam, tersenyum, menunjukkan gestur, menulis surat, mengutus sahabat, dan menjadikan keteladanan sebagai pesan. Keduanya tidak cukup dibaca sebagai konsep dan ilustrasi. Al-Qur\u2019an memberi landasan normatif dan teleologis, sementara Sunnah memberi data performatif, relasional, dan historis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini tidak sedang membantah teori komunikasi Barat. Ia sedang menjawab pertanyaan yang belum selalu mereka tanyakan: bagaimana kebenaran dihadirkan melalui komunikasi sehingga membentuk pengetahuan, hati, tindakan, masyarakat, dan peradaban? Teori modern tetap penting sebagai mitra dialog. Namun, kerangka induk yang dipakai di sini dibangun dari epistemologi Islam dan bahasa internal Al-Qur\u2019an serta Sunnah, bukan dari penyesuaian ayat kepada model yang telah jadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Metode dan Cara Konstruksi Teori<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kajian ini menggunakan studi kepustakaan dengan sumber Al-Qur\u2019an, hadis, karya ilmu hadis, literatur komunikasi Islam, dan teori komunikasi modern. Konstruksi teori mengikuti disiplin dasar teori: kejelasan tentang konsep, hubungan antarkonsep, ruang lingkup, alasan hubungan, serta kemungkinan pengujian. Whetten menekankan pertanyaan what, how, why, dan who-where-when; Bacharach mengingatkan perlunya kejelasan konsep dan kemungkinan pembuktian. Ukuran metodologis tersebut dapat dipakai tanpa harus memindahkan seluruh asumsi filosofis ilmu sosial modern ke dalam tradisi Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada enam langkah. Pertama, inventarisasi konsep internal Al-Qur\u2019an dan Sunnah: sumber, pelaku, pesan, penerimaan, pengolahan, relasi, media, konteks, respons, efek, dan gangguan. Kedua, menata konsep itu dalam taksonomi Qurani dan Sunnah. Ketiga, mempertemukan fondasi normatif Qurani dengan manifestasi operasional Sunnah. Keempat, mengabstraksikannya menjadi asumsi, definisi, unsur, dan proposisi. Kelima, membandingkannya dengan teori modern. Keenam, menurunkan konstruk yang dapat diteliti dalam keluarga, pendidikan, organisasi, media, dan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langkah terakhir penting karena teori normatif tidak bertentangan dengan penelitian empiris. Sidq, amanah, tabayyun, hikmah, rahmah, dan islah dapat dijadikan konstruk. Kejelasan pesan, kredibilitas komunikator, perhatian pendengar, kualitas relasi, konsistensi ucapan-tindakan, dan perubahan perilaku dapat diamati serta dikritik. Yang perlu dibedakan adalah norma dan kenyataan: teori normatif menjelaskan komunikasi yang seharusnya; penelitian empiris menguji apa yang benar-benar terjadi, termasuk kegagalan internalisasi nilai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dialog dengan Teori Komunikasi Modern<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori komunikasi modern bukan satu blok tunggal. Craig memetakan tradisi retoris, semiotik, fenomenologis, sibernetis, sosiopsikologis, sosiokultural, dan kritis. Karena itu, dialog tidak boleh dilakukan dengan menyederhanakan seluruh teori modern menjadi model linear. Lasswell, Shannon, dan Berlo berguna untuk mengenali unsur, saluran, gangguan, dan efek. Schramm, Newcomb, serta Watzlawick memperluas perhatian kepada umpan balik, pengalaman bersama, hubungan, dan nonverbal. Habermas serta tradisi kritis memberi perhatian kepada pemahaman, validitas, kekuasaan, dan distorsi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori Komunikasi Islam mengakui semua sumbangan tersebut. Perbedaannya bukan bahwa teori modern tidak mengenal makna, relasi, atau etika. Perbedaannya terletak pada sumber normativitas, gambaran tentang manusia, kedudukan wahyu, peran qalb dan hidayah, serta orientasi akhir komunikasi. Rasionalitas, pengalaman, dan konsensus manusia tetap penting, tetapi bekerja dalam horizon tauhid dan pertanggungjawaban kepada Allah. Pesan karena itu tidak netral secara moral; ia dipertimbangkan berdasarkan kebenaran, manfaat, dampak, dan amanahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam perkembangan Komunikasi Islam di Indonesia, Andi Faisal Bakti memberi jembatan penting antara dakwah dan disiplin komunikasi. Tabligh dibaca dalam ranah information, taghyir dalam change, amar makruf nahi mungkar dalam development, dan akhlak dalam ethics atau wisdom. Konstruksi ini memperluas dakwah dari penyampaian menuju perubahan sosial, pembangunan, dan pembentukan moral. Ia juga memberi tempat bagi active reception: penerima tidak pasif, sedangkan hidayah tidak dapat diklaim sepenuhnya berada dalam kuasa komunikator.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori yang dirumuskan di sini mengambil jalur yang berbeda tetapi beririsan. Jika konstruksi dakwah memulai dialog dari kategori komunikasi modern, artikel ini memulai dari taksonomi internal Qurani-Sunnah, kemudian baru berdialog dengan teori modern. Tabligh beririsan dengan bayan dan amanah; penerimaan aktif beririsan dengan istima, fahm, tabayyun, dan tadabbur; taghyir beririsan dengan amal dan islah; sementara akhlak menjadi ukuran keberhasilan yang melampaui efek sesaat. Tambahan khasnya adalah struktur hubungan tauhid, niat, bayan, uswah, qalb, iradah, hidayah, dan taufik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Asumsi Dasar Teori Komunikasi Islam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertama, tauhid adalah asumsi ontologis. Komunikasi berlangsung dalam dunia yang bukan hanya material dan sosial, tetapi juga moral-transenden. Allah adalah sumber wahyu dan hidayah; manusia bertindak sebagai hamba sekaligus pelaku yang bertanggung jawab. Implikasinya, tujuan komunikator tidak dapat dipisahkan dari niat dan tanggung jawabnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, manusia adalah makhluk indrawi, rasional, qalbi, dan moral. Manusia menerima melalui pendengaran, penglihatan, bahasa, pengalaman, dan relasi; ia mengolah melalui akal; lalu menerima atau menolak dengan keadaan hati dan kehendak. Karena itu, pemahaman kognitif tidak otomatis berbuah tindakan. Seseorang dapat mengetahui yang benar tetapi menolaknya karena sombong, takut, kepentingan, hasad, atau kelemahan iradah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketiga, kebenaran mendahului efek. Kefasihan dan efektivitas tidak cukup menjadi ukuran apabila pesan dibangun melalui dusta, manipulasi, atau penghinaan. Al-bayan merupakan kompetensi untuk menjelaskan; sidq dan amanah adalah pengendalinya. Keempat, penerima tetap bebas dan aktif. Komunikator wajib mengoptimalkan hidayat al-bayan melalui penjelasan, keteladanan, dan relasi yang baik, tetapi tidak memiliki kuasa mutlak atas hidayat al-taufiq dan keputusan akhir penerima.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelima, komunikasi adalah pembentukan dan pewarisan peradaban. Hasilnya tidak berhenti pada keterpaparan, kesetujuan, atau perubahan opini. Keberhasilan bertingkat bergerak dari wusul, fahm, way atau tadhakkur, penerimaan evaluatif, amal, akhlak, dan islah. Ketika penerima dapat memahami, mengamalkan, dan menyampaikan kembali secara amanah, komunikasi membentuk jaringan ilmu lintas generasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Definisi dan Unsur Teori<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Komunikasi Islam adalah ikhtiar bayani yang berlandaskan tauhid dan amanah untuk menghadirkan kebenaran serta kemaslahatan ke dalam kesadaran manusia melalui pesan, relasi, keteladanan, dan berbagai tindakan simbolik, dengan melibatkan indra, akal, qalb, dan kehendak, sehingga dengan izin dan taufik Allah melahirkan pemahaman, sikap, amal, akhlak, islah, dan peradaban.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Definisi ini memuat beberapa unsur. Al-masdar dan al-marji menunjuk sumber asal dan rujukan validitas pesan. Al-muballigh atau al-mutakallim adalah pelaku yang kualitasnya mencakup pengetahuan, niat, sidq, amanah, kompetensi bayan, dan keteladanan. Al-risalah atau al-makna mencakup informasi, nilai, perintah, kisah, pertanyaan, isyarat, dan teladan. Al-wasilah meliputi lisan, tulisan, suara, wajah, tubuh, tindakan, diam, gambar, utusan, serta teknologi. Semua itu tidak semata-mata pipa teknis, sebab bentuk medium ikut membentuk relasi dan tafsir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-mutalaqqi adalah penerima aktif yang mendengar, melihat, bertanya, menafsirkan, mengingat, menerima, menolak, dan dapat meneruskan pesan. As-siyaq mencakup waktu, tempat, budaya, kapasitas, kebutuhan, sejarah, dan keadaan emosional. Al-alaqah adalah kualitas hubungan: kepercayaan, kasih sayang, kewibawaan, keadilan, kedekatan, dan rasa aman. Al-istijabah adalah respons kognitif, afektif, spiritual, verbal, nonverbal, dan perilaku. Al-atsar adalah dampak dari pemahaman hingga peradaban. Hidayah dan taufik menandai batas usaha manusia: keduanya bukan variabel teknis yang dapat dimanipulasi komunikator.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Model Bayan Qalb Amal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses inti teori ini dapat digambarkan sebagai berikut: tauhid dan amanah membentuk niat; niat memandu bayan, uswah, dan relasi; ketiganya membuka kemungkinan istima, fahm, dan tadabbur; pengolahan itu berhubungan dengan qalb dan iradah; lalu melahirkan respons berupa amal dan akhlak; amal yang konsisten bergerak menuju islah dan peradaban. Tabayyun serta muhasabah bekerja sebagai lingkar koreksi yang terus-menerus menguji sumber, pemahaman, tindakan, dan akibat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bayan bukan hanya encoding. Ia adalah upaya menjernihkan makna dengan kebenaran, ketepatan, dan hikmah. Uswah menegaskan bahwa tindakan, karakter, dan konsistensi hidup komunikator adalah bagian dari pesan. Relasi-rahnah menghadirkan penghormatan, rasa aman, dan keadilan sehingga pesan korektif tidak serta-merta diterima sebagai serangan. Pada sisi penerima, istima dan insat menuntut kesediaan menyimak; fahm, tafakkur, tadabbur, dan tabayyun menunjukkan kerja aktif dalam memahami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Qalb adalah simpul pembeda. Ia tidak menggantikan akal, melainkan menjelaskan mengapa pengetahuan yang telah dipahami belum tentu diterima dan diamalkan. Qalb yang terbuka dapat menerima bukti dan menumbuhkan iradah; qalb yang tertutup dapat mengubah kebenaran menjadi sesuatu yang dibenci atau bahkan ditolak. Karena itu, komunikasi pendidikan tidak cukup menambah informasi. Ia perlu membina suasana relasi, keteladanan, refleksi, dan pembiasaan yang memungkinkan pengetahuan beralih menjadi amal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Proposisi Awal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong>Proposisi<\/strong><\/td><td><strong>Rumusan ringkas<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>Tauhid<\/td><td>Semakin kuat orientasi tanggung jawab kepada Allah, semakin besar kecenderungan komunikator menempatkan kebenaran dan kemaslahatan di atas keuntungan jangka pendek.<\/td><\/tr><tr><td>Amanah<\/td><td>Kredibilitas dibentuk oleh kesesuaian antara sumber, isi, cara, dan tanggung jawab atas dampak pesan.<\/td><\/tr><tr><td>Bayan<\/td><td>Kejelasan yang sesuai dengan kapasitas dan konteks penerima meningkatkan peluang fahm, tetapi daya pengaruh bayan harus dikendalikan oleh sidq dan amanah.<\/td><\/tr><tr><td>Uswah<\/td><td>Konsistensi ucapan dan tindakan memperkuat kepercayaan, internalisasi, dan daya tahan efek.<\/td><\/tr><tr><td>Relasi rahmah<\/td><td>Penghormatan, kasih sayang, keadilan, dan rasa aman memperbesar keterbukaan penerima terhadap pesan korektif.<\/td><\/tr><tr><td>Hikmah konteks<\/td><td>Efektivitas cara komunikasi bergantung pada kesesuaian pesan, karakter penerima, waktu, tempat, relasi, dan tujuan yang benar.<\/td><\/tr><tr><td>Penerima aktif<\/td><td>Kualitas hasil meningkat ketika penerima melakukan istima, sual, tabayyun, tafakkur, dan tadabbur.<\/td><\/tr><tr><td>Qalb<\/td><td>Pemahaman kognitif tidak menjamin tindakan; keadaan qalb dan iradah memediasi hubungan antara fahm dan amal.<\/td><\/tr><tr><td>Gangguan moral<\/td><td>Dusta, prasangka, hasad, kesombongan, dan kepentingan dapat mendistorsi komunikasi walaupun saluran teknis berfungsi baik.<\/td><\/tr><tr><td>Hidayah<\/td><td>Komunikator bertanggung jawab mengoptimalkan penjelasan dan keteladanan, tetapi tidak memiliki kendali mutlak atas keputusan akhir penerima.<\/td><\/tr><tr><td>Transformasi<\/td><td>Keberhasilan tertinggi terlihat ketika fahm berkembang menjadi amal, kebiasaan, akhlak, dan islah.<\/td><\/tr><tr><td>Jaringan pewarisan<\/td><td>Komunikasi berkelanjutan ketika penerima mampu memahami, mengamalkan, dan menyampaikan kembali tanpa merusak amanah pesan.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tabel 1. Proposisi awal Teori Komunikasi Islam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Gangguan dan Efektivitas Komunikasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori ini memperluas pengertian gangguan. Noise teknis tetap penting: sinyal putus, tulisan rusak, akses tidak merata, atau teknologi yang tidak memadai. Namun, kesalahan komunikasi juga dapat bersifat semantik, psikologis, relasional, moral, spiritual, dan struktural. Ambiguitas, potongan konteks, emosi, trauma, ketidakpercayaan, penghinaan, dusta, ghibah, prasangka, kibr, hasad, waswas, hingga monopoli informasi dapat merusak produksi dan penerimaan pesan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsekuensinya, koreksi komunikasi tidak cukup dengan memperbaiki teknologi atau merapikan kalimat. Bayanin perlu definisi dan contoh; gangguan psikologis memerlukan empati dan pemilihan waktu; gangguan relasional memerlukan rifq dan penghormatan; gangguan moral memerlukan sidq, amanah, tabayyun, serta taubat; gangguan spiritual memerlukan tazkiyah, muhasabah, dan dzikir; gangguan struktural menuntut keadilan, akuntabilitas, dan reformasi institusional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Efektivitas karena itu bertingkat. Wusul mengukur apakah pesan sampai; fahm mengukur pemahaman; way atau tadhakkur menilai kesadaran dan ingatan bermakna; qabul evaluatif memperhatikan keterbukaan serta kejujuran menilai bukti; amal melihat tindakan; dan islah menilai apakah perubahan menetap serta memperbaiki diri, relasi, atau kehidupan bersama. Menganggap jangkauan sebagai keberhasilan akhir adalah salah ukur; demikian pula menyamakan hafalan dengan pemahaman atau kepatuhan sesaat dengan perbaikan yang berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Agenda Penelitian<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori ini terbuka untuk pengujian. Bayan dapat diteliti melalui struktur pesan, diksi, contoh, pemahaman ulang, dan tingkat salah tafsir. Amanah dapat diamati melalui praktik verifikasi, atribusi, koreksi, dan keterbukaan kepentingan. Uswah dapat dikaji melalui konsistensi ucapan-tindakan serta observasi longitudinal. Relasi-rahmah dapat diukur melalui kemampuan mendengar, empati, tidak mempermalukan, dan keadilan giliran berbicara. Tabayyun relevan untuk eksperimen perilaku digital dan studi penyebaran informasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam pendidikan pesantren dan sekolah, model bayan-qalb-amal dapat digunakan untuk meneliti mengapa materi yang dipahami kadang tidak menjadi kebiasaan; bagaimana keteladanan guru atau kiai memperkuat internalisasi; serta bagaimana family engagement memperluas jaringan transmisi nilai. Dalam organisasi dan media, teori ini membuka pertanyaan tentang amanah informasi, kepemimpinan yang memberi rasa aman, penyelesaian konflik, dan desain komunikasi digital yang tidak menunggangi emosi atau prasangka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori Komunikasi Islam yang dirumuskan di sini berangkat dari integrasi Qurani-Sunnah, bukan dari ayatisasi teori yang sudah jadi. Teori tersebut memandang komunikasi sebagai ikhtiar bayani yang berlandaskan tauhid dan amanah, dengan manusia sebagai penerima aktif yang mengolah pesan melalui indra, akal, qalb, dan kehendak. Keberhasilannya tidak berhenti pada efek atau persuasi, tetapi bergerak menuju fahm, amal, akhlak, islah, dan peradaban.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori modern tetap menjadi kawan dialog yang berharga. Ia membantu menjernihkan unsur, proses, relasi, gangguan, dan konteks. Namun, teori ini menambahkan pertanyaan tentang kebenaran, niat, keteladanan, hidayah, taufik, dan pembentukan manusia. Dengan demikian, Komunikasi Islam dapat berdiri sebagai teori yang normatif sekaligus dapat diteliti: berpijak pada wahyu, terbuka pada akal dan bukti, serta terus diuji dalam realitas kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adeni, &amp; Bakti, A. F. 2020. Dakwah dan budaya media baru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Qur\u2019an al-Karim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Sahih al-Bukhari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Hajjaj, Muslim ibn. Sahih Muslim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bacharach, S. B. 1989. Organizational theories: Some criteria for evaluation. Academy of Management Review, 14(4), 496-515.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bakti, A. F. 2010. The contribution of dakwah to communication studies: Risale-i Nur Collection perspective.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bakti, A. F., &amp; Lecomte, I. 2015. Integrating dakwah and peace journalism.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berlo, D. K. 1960. The process of communication. Holt, Rinehart and Winston.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Craig, R. T. 1999. Communication theory as a field. Communication Theory, 9(2), 119-161.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Habermas, J. 1984. The theory of communicative action Vol 1. Beacon Press.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lasswell, H. D. 1948. The structure and function of communication in society. In L. Bryson, The communication of ideas. Harper and Brothers.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Littlejohn, S. W., Foss, K. A., &amp; Oetzel, J. G. 2017. Theories of human communication 11th ed. Waveland Press.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mowlana, H. 2007. Theoretical perspectives on Islam and communication. China Media Research, 3(4), 23-33.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Newcomb, T. M. 1953. An approach to the study of communicative acts. Psychological Review, 60(6), 393-404.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shannon, C. E. 1948. A mathematical theory of communication. Bell System Technical Journal, 27, 379-423; 623-656.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Taufik, M. Tata. 2007. Konsep Islam tentang komunikasi kritik terhadap teori komunikasi Barat. Disertasi doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Taufik, M. Tata. 2012. Etika komunikasi Islam. Pustaka Setia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Watzlawick, P., Beavin, J. H., &amp; Jackson, D. D. 1967. Pragmatics of human communication. W. W. Norton.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Whetten, D. A. 1989. What constitutes a theoretical contribution? Academy of Management Review, 14(4), 490-495.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Integrasi Taksonomi Qurani dan Sunnah dalam Dialog dengan Teori Komunikasi Modern M. Tata Taufik Abstrak. Artikel ini merumuskan Teori Komunikasi Islam melalui integrasi taksonomi komunikasi Qurani dan Sunnah, serta menempatkannya dalam dialog kritis dengan teori komunikasi modern. Kajian dilakukan dengan studi kepustakaan terhadap Al-Qur\u2019an, hadis, karya-karya komunikasi Islam, dan literatur teori komunikasi. Hasil kajian menunjukkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":265,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[60,61,59,62],"class_list":["post-260","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-komunikasi","tag-bayan","tag-islah","tag-komunikasi-islam","tag-komunikasi-modern"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=260"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/260\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":262,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/260\/revisions\/262"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/265"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}