{"id":284,"date":"2026-10-10T01:21:48","date_gmt":"2026-10-10T01:21:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mtatataufik.com\/?p=284"},"modified":"2026-10-10T01:21:48","modified_gmt":"2026-10-10T01:21:48","slug":"syarikat-islam-harus-bergerak-lagi-catatan-menjelang-kongres-ke-42-si","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mtatataufik.com\/?p=284","title":{"rendered":"Syarikat Islam Harus Bergerak Lagi: Catatan Menjelang Kongres ke 42 SI"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">M. Tata Taufik<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada organisasi yang besar karena gedungnya, ada yang dikenal karena tokohnya, dan ada pula yang bertahan karena namanya diwariskan dari generasi ke generasi. Tetapi sebuah organisasi hanya sungguh hidup apabila ia masih mampu membuat orang bergerak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di situlah letak pertanyaan bagi Syarikat Islam menjelang Kongres ke 42 SI di Surabaya: apakah SI masih sekadar nama besar dalam sejarah kebangkitan bangsa, atau ia kembali menjadi tenaga yang menyelesaikan persoalan umat pada hari ini?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk mengecilkan SI. Sebaliknya, ia justru lahir dari penghormatan kepada sejarahnya. Syarikat Islam tidak lahir dari kegelisahan pedagang pribumi yang memerlukan perlindungan dan persatuan. Haji Samanhudi memulainya dari dunia saudagar. HOS Tjokroaminoto membesarkannya menjadi kesadaran sosial dan politik. Dari sana rakyat belajar bahwa mereka bukan kumpulan orang kecil yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan bangsa yang berhak mempunyai martabat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Menafsir Perubahan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kini keadaan telah berubah. Pengusaha tidak lagi hanya berkumpul di pasar batik. Mereka hadir dalam asosiasi bisnis, koperasi modern, platform digital, jejaring profesi, bahkan ruang-ruang virtual. Anak muda mencari peluang usaha lewat telepon genggam. Petani menghadapi harga, pupuk, iklim, dan rantai pasok. Usaha kecil berhadapan dengan modal yang terbatas serta pasar yang dikuasai pemain besar. Di tengah perubahan itu, pertanyaan tentang relevansi SI menjadi wajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika jawabannya: SI tetap relevan, bahkan sangat relevan, lalu bagaimana?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Relevansi SI tidak terletak pada usaha meniru semua organisasi yang sudah ada. SI tidak perlu berubah menjadi kamar dagang, tidak pula perlu menjadi partai politik. Kekuatan khas SI justru terletak pada kemampuannya menyatukan tiga hal yang sering berjalan sendiri-sendiri: iman, ekonomi rakyat, dan kebangsaan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, SI harus mampu membuat dakwah terasa dalam kehidupan: orang dapat bekerja lebih baik, berdagang lebih jujur, memperoleh jalan usaha, belajar lebih bermakna, serta memiliki keberanian untuk membela kepentingan bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama ini, Catur Program SI telah memberi arah yang cukup terang: konsolidasi organisasi, dakwah ekonomi, pendidikan, dan siyasah. Empat bidang itu sesungguhnya tidak boleh dibaca sebagai empat agenda terpisah. Konsolidasi tanpa ekonomi akan melahirkan struktur yang ramai tetapi lemah daya geraknya. Ekonomi tanpa pendidikan akan membentuk pelaku usaha yang mungkin berhasil tetapi mudah kehilangan arah. Pendidikan tanpa siyasah dapat melahirkan orang cerdas yang tidak peduli pada keadaan bangsanya. Siyasah tanpa konsolidasi akan berubah menjadi kegaduhan elite yang jauh dari rakyat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, yang dibutuhkan SI bukan menambah banyak semboyan, melainkan menghubungkan empat bidang tersebut menjadi satu ekosistem gerakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kaderisasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertama, konsolidasi harus berarti kaderisasi. Kita terlalu sering mengukur hidupnya organisasi dari banyaknya nama pengurus atau meriahnya acara pelantikan. Padahal struktur bukan organisasi. Struktur hanyalah wadah. Organisasi baru hidup apabila ada kader yang memahami sejarahnya, mengerti masalah zamannya, terlatih mengelola program, dan bersedia bekerja tanpa selalu menunggu jabatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SI harus berani bertanya: berapa kader mudanya yang benar-benar diberi medan pengabdian? Berapa cabang yang memiliki kegiatan rutin, bukan hanya papan nama? Berapa pengurus yang mampu menyusun program, membaca data, menggerakkan masyarakat, dan mempertanggungjawabkan kerja? Kaderisasi bukan pembagian kartu anggota. Kaderisasi adalah mengubah simpatisan menjadi pelaku dan pelaku menjadi pemimpin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, dakwah ekonomi mesti naik kelas. Ia tidak cukup berupa bazar, seminar, atau seruan agar umat gemar berwirausaha. Semua itu baik, tetapi belum cukup. Dakwah ekonomi harus menjadi jalan pendampingan yang nyata: membangun keterampilan, mempertemukan pelaku usaha dengan modal dan pasar, memperkuat koperasi, membantu sertifikasi halal, membuka jaringan pembeli, dan menumbuhkan usaha yang tahan terhadap perubahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inisiatif seperti Sekolah Saudagar, penguatan koperasi, serta gerakan tani menunjukkan bahwa SI telah mempunyai pijakan. Tinggal bagaimana pijakan itu dihubungkan. Seorang lulusan Sekolah Saudagar jangan dibiarkan pulang hanya membawa sertifikat. Ia harus masuk ke dalam jaringan mentor, pembiayaan, pasar, dan sesama pelaku usaha. Petani tidak boleh hanya diajak menanam; mereka perlu dibantu sampai tahap pengolahan dan penjualan. Koperasi tidak boleh sekadar papan nama; ia harus transparan, profesional, dan benar-benar memberi manfaat bagi anggota.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di masa digital, SI dapat membangun kembali jiwa saudagar dalam bentuk baru: pasar bersama, pelatihan usaha digital, inkubasi pemuda, pendampingan produk halal, serta jaringan distribusi antardaerah. Dakwah ekonomi, pada akhirnya, bukan hanya ajakan mencari untung. Ia adalah ikhtiar membebaskan orang dari ketidakberdayaan tanpa mencabutnya dari nilai kejujuran dan amanah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketiga, pendidikan harus dipahami sebagai pembentukan manusia, bukan sekadar pengelolaan sekolah. Dunia sedang berubah cepat. Anak muda memerlukan kecakapan digital, literasi keuangan, kemampuan berkomunikasi, bahasa, keahlian kerja, dan daya cipta. Namun pendidikan tidak boleh melupakan hati. Kita tidak ingin mencetak generasi yang cakap menggunakan teknologi tetapi rapuh dalam karakter; pintar mencari peluang tetapi tidak peka terhadap kepentingan bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah pendidikan SI dapat menemukan kembali maknanya. Ia perlu melahirkan manusia yang memiliki meminjam istilah JK- <em>head, heart, and hand<\/em>: berpikir jernih, berhati baik, dan mampu bekerja. Sekolah, pesantren, kampus, dan pelatihan keterampilan yang terhubung dengan SI harus memiliki proyek nyata\u2014koperasi siswa, usaha rintisan, pengabdian desa, pertanian produktif, jurnalistik warga, atau kajian kebijakan. Pendidikan akan hidup apabila peserta didik melihat hubungan antara pelajaran dan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keempat, siyasah harus cerdas. Siyasah bukan semata perebutan kursi. Bagi organisasi kemasyarakatan, siyasah adalah kemampuan memperjuangkan kepentingan rakyat melalui gagasan, advokasi, dan pengawasan kebijakan. SI tidak perlu menjadi partai politik untuk bersuara tentang harga pangan, perlindungan UMKM, akses pembiayaan, mutu pendidikan, lingkungan hidup, dan keadaban ruang digital.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Justru jika SI menjaga jarak dari politik transaksi, ia dapat lebih bebas menjadi kekuatan moral dan intelektual. SI perlu mempunyai naskah posisi atas isu-isu yang menyentuh rakyat, forum kajian kebijakan, serta sekolah kepemimpinan publik bagi kadernya. Kader yang terjun ke politik praktis tentu boleh dan bahkan perlu membawa nilai SI. Namun organisasi tidak boleh berubah menjadi alat bagi ambisi pribadi siapa pun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Momentum untuk Bergerak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kongres ke 42 SI di Surabaya menjadi kesempatan yang baik untuk melakukan perenungan yang jujur. Forum ini jangan berhenti pada pergantian kepengurusan atau penetapan rumusan baru. Ia perlu menjadi ruang untuk menilai apa yang telah bergerak, apa yang masih tertunda, dan apa yang mesti dikerjakan bersama dalam sepuluh tahun ke depan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ukuran keberhasilan pun harus jelas. Bukan hanya jumlah acara, tetapi jumlah cabang yang benar-benar aktif; bukan hanya berapa pelatihan yang diselenggarakan, tetapi berapa usaha yang tumbuh dan bertahan; bukan hanya berapa sekolah yang berdiri, tetapi manusia seperti apa yang dibentuk; bukan hanya berapa pernyataan politik yang dikeluarkan, tetapi kebijakan apa yang berhasil dipengaruhi demi rakyat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Syarikat Islam harus kembali bergerak. Bukan kembali ke masa lalu, melainkan mengambil keberanian masa lalu untuk membaca masa depan. Samanhudi dan Tjokroaminoto tidak patut hanya dikenang dalam foto dan pidato. Mereka harus dihadirkan dalam keberanian membangun ekonomi rakyat, mendidik kader, dan menjaga martabat bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah organisasi menjadi besar bukan karena ia selalu mengenang hari lahirnya. Ia menjadi besar karena setiap generasi di dalamnya mampu melahirkan alasan baru bagi masyarakat untuk percaya kepadanya serta mampu menggerakkan siklus gerak yang dinamis guna mencapai kemajuan bersama.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>M. Tata Taufik Ada organisasi yang besar karena gedungnya, ada yang dikenal karena tokohnya, dan ada pula yang bertahan karena namanya diwariskan dari generasi ke generasi. Tetapi sebuah organisasi hanya sungguh hidup apabila ia masih mampu membuat orang bergerak. Di situlah letak pertanyaan bagi Syarikat Islam menjelang Kongres ke 42 SI di Surabaya: apakah SI [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":285,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[66],"tags":[80,78,76,79,77],"class_list":["post-284","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gagasan","tag-bergerak-lagi","tag-kongres-ke-42-si","tag-si","tag-surabaya","tag-syarikat-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/284","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=284"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/284\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":286,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/284\/revisions\/286"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/285"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mtatataufik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}