Ketika Pesantren Menemukan Teorinya Sendiri

Oleh: Nur Hadi Ihsan

Judul Buku: Familial Approach Dalam Pendidikan Pesantren

Penulis: DR.KH. M. Tata Taufik

Penyunting: Irfanul Islam

Penerbit: Yayasan Islam Ta’limiyah Al-Ikhlash

Cetakan I

April 2026

ISBN: 978-623-93414-3-5

Harga: Rp. 100.000,-

Peradaban besar tidak hanya melahirkan lembaga, tokoh, atau tradisi. Peradaban besar juga melahirkan teori yang menjelaskan mengapa semuanya dapat bertahan dan berkembang. Selama berabad-abad, pesantren telah membuktikan kemampuannya membentuk ulama, pemimpin, intelektual, dan penggerak masyarakat. Namun, sebuah pertanyaan mendasar masih jarang diajukan: apakah pesantren telah melahirkan teorinya sendiri?

Pertanyaan itulah yang membuat buku Familial Approach dalam Pendidikan Pesantren, karya Dr. K.H. M. Tata Taufik layak dibaca. Buku ini tidak sekadar menawarkan konsep baru, tetapi menandai keberanian untuk membaca pengalaman panjang pesantren sebagai sumber lahirnya pengetahuan. Di sinilah letak signifikansi akademiknya. Penulis tidak berhenti mendeskripsikan realitas pesantren, melainkan berusaha mengekstraksi prinsip-prinsip yang bekerja di dalamnya menjadi sebuah bangunan konseptual.

Pusat argumentasi buku ini adalah Familial Approach. Sekilas, istilah tersebut tampak sederhana. Namun, justru di balik kesederhanaannya tersimpan sebuah kritik mendasar terhadap paradigma pendidikan modern. Selama ini pendidikan lebih banyak dibangun di atas logika kelembagaan: kurikulum, akreditasi, standar mutu, teknologi, dan tata kelola. Semua itu penting, tetapi sering kali melupakan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya bukanlah proses mengelola sistem, melainkan proses membentuk manusia.

Pesantren mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kiai tidak hanya mengajar, tetapi mengasuh. Santri tidak hanya belajar, tetapi hidup bersama. Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlangsung sepanjang kehidupan sehari-hari melalui keteladanan, pembiasaan, disiplin, pelayanan, dan kasih sayang. Buku ini berhasil menunjukkan bahwa seluruh praktik tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah sistem yang memiliki logika pendidikan yang utuh.

Di sinilah Familial Approach menemukan maknanya. Kekuatan pesantren ternyata tidak pertama-tama terletak pada bangunan fisik, kurikulum, ataupun perangkat administrasi, melainkan pada kualitas relasi yang mengikat seluruh warganya dalam satu keluarga pendidikan. Pendidikan yang berhasil bukan semata-mata lahir dari sistem yang baik, melainkan dari hubungan yang baik. Sebab karakter tidak diwariskan melalui dokumen, melainkan melalui keteladanan; adab tidak tumbuh dari regulasi, melainkan dari kehidupan bersama.

Kontribusi terbesar buku ini justru berada pada tingkat epistemologis. Selama ini pesantren lebih sering menjadi objek penelitian yang dijelaskan melalui teori-teori yang lahir dari tradisi akademik lain. Buku ini mengajak kita membalik arah pandang tersebut. Pengalaman pesantren tidak lagi hanya dipahami sebagai objek pengetahuan, tetapi sebagai sumber pengetahuan. Pergeseran inilah yang sesungguhnya menandai kematangan sebuah tradisi intelektual. Sebuah peradaban tidak disebut besar karena banyak mengutip teori, tetapi karena mampu melahirkan teori dari pengalaman sejarahnya sendiri.

Tentu, sebagai sebuah gagasan yang sedang tumbuh, Familial Approach masih memerlukan penyempurnaan. Formulasi dimensi konseptual, hubungan antarvariabel, indikator, serta model implementasinya masih dapat diperkaya agar berkembang menjadi teori yang lebih kokoh. Dialog yang lebih luas dengan literatur pendidikan internasional juga akan mempertegas posisi kebaruannya. Namun, catatan tersebut tidak mengurangi arti penting buku ini. Justru di situlah tantangan berikutnya bagi para peneliti pendidikan pesantren.

Pada akhirnya, nilai terbesar buku ini bukan semata-mata terletak pada konsep Familial Approach. Nilai terbesarnya terletak pada keberaniannya membuka jalan baru bagi lahirnya epistemologi pendidikan pesantren. Buku ini mengingatkan bahwa pesantren tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang unggul; pesantren juga harus melahirkan teori yang menjelaskan keunggulan itu. Sebab sebuah tradisi keilmuan mencapai kedewasaannya bukan ketika ia mahir menjelaskan dirinya dengan teori orang lain, melainkan ketika ia mampu menjelaskan dirinya dengan kerangka pikir yang lahir dari pengalaman peradabannya sendiri.

Apabila ikhtiar ini terus dilanjutkan, Familial Approach mungkin akan dikenang bukan hanya sebagai sebuah konsep pendidikan, melainkan sebagai salah satu penanda penting lahirnya tradisi ilmiah pesantren yang lebih percaya diri. Di situlah makna terdalam buku ini: pesantren tidak lagi sekadar menjadi objek ilmu, tetapi mulai tampil sebagai subjek yang menghasilkan ilmu.


Mantingan, 28 Juli 2026
Nur Hadi Ihsan
Dosen Universitas Darussalam Gontor


Posted

in

by

Tags: