M. Tata Taufik
Bagaimana kita mengetahui bahwa pendidikan di pesantren berhasil? Jawaban yang paling mudah ialah melihat nilai ujian, banyaknya santri yang diterima di perguruan tinggi, atau piala yang dipajang di lemari. Semua itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang lebih panjang umurnya: setelah keluar dari gerbang pondok, apakah seseorang masih membawa bekal yang dahulu kita ajarkan? Apakah ia sanggup belajar, bekerja, memimpin, dan memberi manfaat kepada orang lain?
Pertanyaan itulah yang mendorong kami menelusuri jejak alumni Pondok Modern Al-Ikhlash. Dalam penelusuran awal, 114 alumni mengisi tanggapan, dari jumlah alumni yang sudah lebih dari seribu orang. Angka ini tentu belum mewakili seluruh alumni. Saya tidak akan menjadikannya vonis akhir atas mutu pendidikan pondok. Namun, jawaban mereka cukup berharga untuk membuka percakapan yang lebih jujur: apa yang benar-benar terbawa dari pesantren, dan apa yang masih perlu diperbaiki?
Ketika hasilnya saya bicarakan kepada para santri, saya melihat mereka bukan sekadar mendengarkan laporan. Mereka sedang mengintip kemungkinan hidup mereka sendiri. Ada alumni yang bekerja, ada yang melanjutkan kuliah, ada yang membuka usaha, dan ada yang mengabdi. Sekitar 46 persen responden tercatat bekerja, 9,6 persen berwirausaha, dan sekitar 8 persen mengabdi. Jalan hidup setelah lulus memang tidak tunggal. Pondok perlu menyiapkan manusia yang bisa berjalan di berbagai jalan itu, bukan hanya orang yang pandai melewati satu pintu seleksi.
Hal yang menarik ialah penilaian mereka terhadap bekal pelajaran di pondok. Banyak responden memberikan nilai tinggi pada manfaat kurikulum untuk kehidupan sehari-hari. Ini kabar baik, meskipun pertanyaan berikutnya tetap harus diajukan: bagian mana yang paling terasa manfaatnya? Kita sering mengira isi pendidikan baru berguna bila langsung cocok dengan nama pekerjaan seseorang. Padahal, seseorang mungkin tidak memakai semua pelajaran sebagai bahan kerja harian, tetapi memakai cara berpikir, kebiasaan membaca, keberanian berbicara, dan kesanggupan menyelesaikan persoalan yang tumbuh selama belajar.
Dalam jawaban alumni, akhlak dan etika muncul sebagai kekuatan penting. Sekitar 59 persen responden menempatkannya sebagai salah satu keunggulan utama. Saya senang membaca angka itu. Kita boleh saja membicarakan teknologi, bahasa asing, dan keterampilan profesional sepanjang hari. Tetapi kepada siapa masyarakat akan menitipkan pekerjaan, mempercayakan anak, atau meminta nasihat jika kepada orang yang pandai saja mereka tidak percaya? Akhlak bukan hiasan yang ditempelkan setelah seseorang sukses. Ia menentukan apakah kecakapan itu aman berada di tangannya.
Kemandirian juga disebut kuat oleh alumni; dalam paparan hasil, angkanya sekitar 59,6 persen. Saya teringat seorang alumni yang setelah lulus pergi ke Jakarta dan berjualan koran. Ia datang kembali untuk melunasi kewajiban yang masih tertinggal di pondok dengan hasil kerjanya sendiri. Kelak ia menekuni dunia jurnalistik. Yang membekas bagi saya bukan urutan profesinya, melainkan kesediaannya mencari jalan. Ketika kesempatan belum tersedia, ia tidak menunggu dunia menyediakan kursi yang empuk. Ia bergerak dengan apa yang ada di tangannya.
Kisah semacam itu mengingatkan bahwa potensi akademik tidak boleh dipersempit menjadi kemampuan menjawab soal. Ia mencakup daya tahan menghadapi pelajaran yang sulit, kemampuan memperbaiki kesalahan, dan kemauan mempelajari sesuatu yang belum dikuasai. Dalam tanggapan alumni, sebagian besar menilai daya belajar mereka kuat ketika berhadapan dengan hal baru. Orang sekarang menyebutnya growth mindset. Saya lebih suka menyebutnya sederhana saja: tidak berhenti belajar. Ijazah menandai selesainya suatu jenjang, bukan selesainya pekerjaan akal.
Di pondok, kemampuan itu tidak selalu lahir dari ceramah tentang masa depan. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari. Pagi harus bangun, ada waktu untuk belajar, ada tugas yang mesti diselesaikan, ada orang lain yang harus diperhatikan. Lama-kelamaan jadwal yang semula terasa sebagai aturan dari luar menjadi pengatur diri dari dalam. Disiplin waktu tidak otomatis menjadikan seseorang unggul, tetapi tanpa itu banyak kemampuan baik akan tinggal sebagai rencana. Betapa banyak orang memiliki gagasan hebat, lalu kalah oleh kalimat “nanti saja” yang diulang bertahun-tahun.
Saya juga berbicara kepada santri tentang keberanian menerima kritik. Di luar pondok, mereka akan berjumpa dengan orang yang latar belakangnya berbeda, bekerja dalam tim, dan mendengar penilaian yang belum tentu menyenangkan. Jika setiap koreksi dianggap serangan, pelajaran baru akan berhenti di depan pintu hati. Sebaliknya, orang yang dapat mengatakan “saya keliru” memiliki ruang untuk tumbuh. Mental yang kuat bukan kebal terhadap teguran; ia sanggup memeriksa teguran itu, mengambil yang benar, lalu memperbaiki pekerjaan.
Saya mengalami sendiri bagaimana kebiasaan bekerja dapat mengikuti seseorang melintasi perubahan zaman. Dahulu saya menulis dengan mesin tik, menyisihkan malam untuk menerjemahkan buku dan artikel. Kemudian komputer datang, cara kerja berubah, tetapi kebiasaan menghasilkan sesuatu tetap dibawa. Inilah sebabnya saya tidak ingin santri hanya akrab dengan satu alat atau satu jenis tugas. Alat akan berganti. Kesediaan duduk, membaca dengan teliti, menulis ulang kalimat yang belum jelas, dan menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas justru lebih tahan lama. Orang yang memiliki kebiasaan itu lebih mudah memanfaatkan teknologi baru karena ia sudah tahu untuk apa teknologi tersebut dipakai.
Namun, hasil penelusuran juga memperlihatkan kebutuhan yang belum sepenuhnya terjawab. Alumni menyebut literasi digital, pengenalan perangkat dan kecerdasan buatan, bekal untuk melanjutkan studi, serta keterampilan praktis yang diperlukan di masyarakat. Kita perlu mendengarkannya tanpa panik. Jika harga sebuah telepon genggam dan laptop hampir sama, misalnya, saya cenderung menyarankan laptop kepada santri yang akan belajar dan menghasilkan karya. Bukan karena saya menjadi penjual laptop. Saya ingin mereka memiliki alat untuk menulis, mengolah data, membuat presentasi, dan mencoba hal-hal baru, bukan hanya mahir menggulir layar.
Mendengar kebutuhan alumni tidak berarti pendidikan pesantren harus berubah menjadi bimbingan tes semata. Persiapan masuk perguruan tinggi dapat dibantu, dan informasi pilihan studi perlu dibuat lebih jelas. Tetapi pondok juga harus menjaga alasan mengapa pendidikan itu diberikan: ilmu dipelajari agar menjadi bagian dari diri, bukan sekadar tiket menuju kampus. Orang bisa saja lolos seleksi dengan bantuan joki atau membeli tanda kelulusan, lalu kehilangan hal yang paling mahal dari pendidikan, yaitu kejujuran. Kita tentu tidak sedang mendidik orang agar tampak berilmu pada selembar kertas.
Ukuran lain yang saya perhatikan ialah kiprah alumni di lingkungannya. Sekitar 79 persen responden menyatakan aktif dalam organisasi atau pengabdian masyarakat. Sebagian cukup sering, sebagian sesekali, diminta membantu kegiatan atau menjadi rujukan keagamaan: mengajar mengaji, menjadi imam, berbicara dalam suatu acara, atau mendampingi tetangga yang membutuhkan. Tidak semua orang harus menjadi penceramah. Yang penting, keberadaannya terasa. Ilmu yang hanya disimpan untuk memperindah riwayat hidup belum menyelesaikan tugasnya.
Suatu kali saya menggoda seorang alumni yang datang bersilaturahmi. Saya bertanya apakah ia masih mengajar, masih menulis, dan masih aktif membantu masyarakat. Bila semua jawabannya tidak, saya bilang ia seperti sudah “mati” meski masih berjalan. Tentu itu gurauan yang sengaja dibuat agak nakal. Maksudnya sederhana: jangan sampai kesempatan hidup berlalu tanpa karya yang dinikmati orang lain. Mengajar satu anak membaca Al-Fatihah, menulis sesuatu yang menjernihkan pikiran pembaca, atau membantu urusan warga adalah cara membuat ilmu terus bergerak setelah pelajaran di kelas selesai.
Ada pula soal percaya diri. Banyak alumni merasa siap memimpin atau berbicara di depan umum; sekitar 57 persen menyatakan sangat percaya diri. Keberanian itu bukan lisensi untuk merasa paling hebat. Justru ketika seseorang dikenal sebagai alumni pesantren, orang lain datang dengan harapan tertentu. Ia mungkin diminta berbicara, memimpin doa, menghubungkan orang dengan bantuan, atau menjadi contoh bagi anak-anak. Nama almamater dapat membuka pintu, tetapi perilaku kitalah yang menentukan apakah pintu itu akan tetap terbuka.
Bekal keagamaan pun baru terlihat mutunya ketika lingkungan berubah. Di pondok, waktu salat, bacaan Al-Qur’an, dan suasana belajar ditopang banyak orang. Di tempat kerja atau kampus yang beragam, seseorang harus memutuskan sendiri apakah kebiasaan itu diteruskan. Karena itu saya tidak cukup puas bila alumni mampu mengingat materi pelajaran. Saya ingin melihat apakah ia masih punya hubungan yang hidup dengan apa yang dipelajarinya. Di sisi lain, masyarakat mungkin meminta bantuan untuk urusan yang dahulu kurang sempat ia latih secara praktis. Masukan semacam itu berguna untuk menyambungkan pengajaran di pondok dengan tanggung jawab yang kelak benar-benar datang.
Saya sering mengatakan kepada santri bahwa mereka membawa wajah pondok ketika pulang ke rumah. Cara berbicara kepada orang tua, cara menggunakan telepon, dan kesediaan membantu pekerjaan di rumah lebih cepat dibaca masyarakat daripada tulisan besar pada spanduk pesantren. Tidak ada gunanya memperkenalkan pondok dengan kalimat yang indah jika yang pulang justru membuat keluarga bertanya-tanya apa yang ia pelajari selama bertahun-tahun. Citra diri dibangun setiap hari, terutama ketika tidak ada panggung dan mikrofon.
Penelusuran alumni seperti ini harus diteruskan dan diperluas. Dengan 114 jawaban, kita baru memperoleh jendela awal, belum seluruh pemandangan. Pertanyaan yang diajukan pun perlu terus diperiksa agar jawabannya membantu kita memperbaiki kurikulum dan pendampingan santri. Saya berharap alumni tidak hanya mengirim angka, tetapi juga kisah: kesulitan apa yang mereka temui, kebiasaan apa yang menolong mereka bertahan, dan bekal apa yang dahulu belum sempat mereka peroleh. Pondok akan lebih cepat belajar jika bersedia mendengar lulusan tanpa sibuk membela diri.
Akhirnya, saya ingin para santri melihat masa depan dengan cara yang lebih luas. Ada yang akan menjadi sarjana, guru, pengusaha, wartawan, pekerja teknologi, atau penggerak masyarakat. Pilihan mereka boleh berbeda. Bekal yang saya harapkan tetap sama: akhlak yang menjaga arah, kemampuan belajar yang tidak padam, disiplin yang membuat niat menjadi pekerjaan, dan kesediaan hadir bagi orang lain. Jika pendidikan pesantren berhasil menanamkan itu, lulus bukanlah akhir pembinaan. Ia baru mulai diuji dalam kehidupan yang sesungguhnya.

