Dari Hidden Curriculum ke Holistic Curriculum

M. Tata Taufik

Istilah hidden curriculum tidak lahir karena para ahli pendidikan sedang kekurangan istilah. Ia lahir dari kegelisahan melihat kehidupan nyata anak di sekolah.

Pada 1968 Philip W. Jackson menerbitkan Life in Classrooms. Ia tidak hanya melihat kelas sebagai tempat guru mengirim pelajaran dan siswa menerima. Ia melihat kelas sebagai kehidupan. Ada anak yang aktif mengacungkan tangan, ada yang terus menunggu, ada yang sering dipuji, ada yang ditegur, ada yang terlibat penuh, dan ada pula yang perlahan menarik diri. Mereka duduk di ruang yang sama, mendengar guru yang sama, tetapi belum tentu mengalami pendidikan yang sama.

Sekolah, kita tahu, sangat mudah melihat anak yang mampu menjawab pertanyaan. Nilainya ada, ranking-nya ada, lembar ujiannya ada. Prestasinya bisa dihitung. Tetapi bagaimana dengan anak yang setiap hari hadir, tidak membuat masalah, tidak terlalu menonjol, jarang ditanya, dan nyaris tidak pernah mendapat pujian?

Ia hadir, tetapi hampir tak terlihat.

Apakah ia tidak belajar? Tentu saja ia belajar. Hanya saja mungkin bukan pelajaran yang sedang kita ukur.

Ia belajar kapan boleh berbicara dan kapan harus diam. Ia belajar siapa yang paling sering mendapat perhatian guru. Ia belajar bagaimana rasanya menunggu. Ia belajar bagaimana rasanya tidak dipilih. Ia belajar siapa yang mempunyai kuasa, jawaban macam apa yang mendapat pujian, dan perilaku macam apa yang mengundang teguran. Ia belajar hidup dalam kerumunan, belajar menyesuaikan diri, bahkan kadang belajar menarik diri.

Jackson melihat kehidupan kelas antara lain melalui realitas crowds, praise, and power: kerumunan, penghargaan, dan kekuasaan. Anak ternyata tidak hanya belajar matematika, bahasa, atau sejarah. Ia sekaligus belajar bagaimana hidup dalam sebuah struktur sosial bernama sekolah.

Di wilayah itulah kemudian kita mengenal hidden curriculum: kurikulum yang tidak ditulis, tetapi dipelajari; tidak tercantum dalam jadwal, tetapi dialami; tidak diujikan pada akhir semester, tetapi meninggalkan jejak dalam diri anak.

Sampai di sini saya setuju.

Tetapi setelah lebih dari setengah abad kita membicarakannya, saya mulai agak “nakal” bertanya: kalau kita sudah tahu ada kurikulum tersembunyi, mengapa terus kita biarkan tersembunyi?

Agak lucu juga. Sesuatu sudah ditemukan, dibahas dalam ribuan tulisan, masuk buku-buku pendidikan, tetapi tetap kita panggil hidden. Kalau sudah ketahuan tempat persembunyiannya, ya jangan disembunyikan lagi.

Jackson membantu kita menemukan kurikulum yang tersembunyi. Tantangan pendidikan hari ini, menurut saya, adalah berhenti membiarkannya tersembunyi.

Di sinilah saya ingin menggeser core pendidikan dari hidden curriculum menuju holistic curriculum.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa konsep hidden curriculum salah. Tidak. Konsep itu berjasa besar karena mengingatkan kita bahwa anak tidak hanya belajar dari apa yang kita ajarkan. Anak belajar dari apa yang ia alami.

Tetapi pendidikan tidak cukup hanya menjadi pekerjaan detektif: menemukan apa yang tersembunyi. Pendidikan adalah pekerjaan desain.

Kalau lingkungan mendidik, lingkungan harus dirancang. Kalau hubungan mendidik, hubungan harus diperhatikan. Kalau penghargaan mendidik, cara memberi penghargaan harus dikelola. Kalau teguran mendidik, cara menegur harus menjadi bagian dari pendidikan. Kalau pengalaman adalah guru, pengalaman peserta didik tidak boleh terus dianggap produk sampingan kurikulum.

Ia harus masuk ke jantung kurikulum itu sendiri.

Itulah holistic curriculum yang saya maksud. Bukan menambah mata pelajaran baru bernama “Holistic Curriculum”. Jangan. Nanti kasihan anak-anak. Jadwal mereka sudah padat, lalu kita tambah lagi satu pelajaran hanya karena menemukan istilah baru.

Yang harus diperluas bukan jumlah mata pelajaran, tetapi kesadaran kita tentang apa yang disebut pendidikan.

Dan ketika gagasan ini dibawa ke pesantren, persoalannya menjadi jauh lebih menarik.

Pesantren sesungguhnya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak sekolah: kehidupan. Santri tidak datang pukul tujuh lalu pulang pukul dua. Ia hidup di dalam sistem pendidikan. Ia bangun di sana, tidur di sana, makan di sana, beribadah di sana, belajar di sana, berteman di sana, bertengkar di sana, berdamai di sana, sakit di sana, tertawa di sana, kadang menangis di sana.

Ia belajar menjadi pemimpin, dan pada saat lain harus belajar dipimpin.

Kalau Jackson menemukan hidden curriculum dengan mengamati kehidupan siswa di kelas, saya sering membayangkan: bagaimana kalau Jackson mondok seminggu?

Mungkin bukunya tidak lagi berjudul Life in Classrooms, tetapi Life Everywhere.

Sebab di pesantren, kelas hanya salah satu ruang pendidikan. Masjid mendidik. Asrama mendidik. Lapangan mendidik. Organisasi mendidik. Dapur mendidik. Bahkan antre kamar mandi mendidik.

Cara dapur membagi lauk bisa lebih efektif mengajarkan keadilan daripada satu jam pelajaran akhlak.

Cara seorang ustaz menegur santri dapat mengajarkan penghormatan—atau sebaliknya, penghinaan. Cara pengurus memperlakukan junior mengajarkan kepemimpinan—atau mengajarkan bahwa kekuasaan boleh dipakai semaunya. Cara pimpinan mendengar keluhan mengajarkan musyawarah. Cara teman merawat temannya yang sakit mengajarkan kasih sayang tanpa perlu definisi panjang.

Masjid berbicara.

Asrama berbicara.

Kamar mandi pun berbicara.

Bahkan ketika tidak ada seorang pun sedang berceramah, sistem tetap mengirim pesan.

Di sinilah saya sering merasa pendidikan terlalu percaya kepada kata-kata. Kita memberi ceramah panjang tentang kebersihan, tetapi lingkungan kotor. Kita berbicara tentang disiplin, tetapi guru datang terlambat. Kita mengajarkan kesederhanaan, tetapi sistem mempertontonkan jarak sosial. Kita menjelaskan akhlak mulia, tetapi anak setiap hari menyaksikan kemarahan yang tidak terkendali.

Anak akhirnya menerima dua kurikulum. Yang satu dibacakan. Yang satu diperagakan.

Maaf saja, biasanya yang diperagakan lebih kuat daripada yang dibacakan.

Karena itu saya juga sedikit khawatir setiap kali mendengar slogan: “Pesantren mendidik dua puluh empat jam.”

Kalimat itu bagus sekali untuk brosur.

Tetapi kalau benar pesantren mendidik dua puluh empat jam, kalimat itu sekaligus merupakan ancaman bagi pengelolanya. Sebab berarti kesalahan sistem pada pukul sepuluh malam pun adalah kurikulum.

Senioritas yang berubah menjadi kekerasan adalah kurikulum. Pengurus yang merasa boleh merendahkan junior adalah kurikulum. Guru yang menuntut disiplin tetapi dirinya tidak disiplin adalah kurikulum. Anak yang hanya diperhatikan ketika berprestasi juga sedang menerima kurikulum. Kesalahan yang selalu dibalas hukuman tanpa pembelajaran pun adalah kurikulum.

Kalau pendidikan berlangsung dua puluh empat jam, maka dua puluh empat jam pula lembaga harus bertanggung jawab terhadap pesan yang diproduksi sistemnya.

Di zaman digital persoalannya bertambah rumit. Kita masih kadang memperlakukan anak seperti hard disk: guru mengirim data, ujian mengecek berapa persen file berhasil disimpan. Anak yang menyimpan banyak disebut pintar. Yang tidak, remedial.

Padahal setelah kelas selesai, ia pulang ke layar.

Guru mungkin berbicara tentang akhlak satu jam. Algoritma bekerja enam jam.

YouTube, TikTok, gim, influencer, mesin pencari, kecerdasan buatan, dan grup percakapan sekarang ikut mendidik anak. Mereka tidak tercantum dalam struktur organisasi sekolah, tidak punya nomor induk pegawai, bahkan tidak pernah hadir dalam rapat guru. Tetapi mereka bekerja. Kadang lebih intensif daripada kita.

Lalu ketika ada sesuatu yang tidak kita sukai, kita bertanya, “Anak-anak sekarang kenapa?”

Mungkin pertanyaannya perlu dibalik: ekosistem pendidikan kita sedang membentuk mereka menjadi apa?

Nah, pertanyaan inilah yang bagi saya menjadi jantung holistic curriculum.

Pendidikan tidak cukup bertanya: apa yang sudah diajarkan? Ia harus bertanya: apa yang dialami anak? Apa yang ia lihat? Apa yang ia dengar? Siapa yang menjadi teladan? Bagaimana orang lemah diperlakukan? Apakah ia boleh bertanya? Apakah kesalahan menjadi kesempatan belajar atau sekadar alasan menghukum? Apakah keberhasilan hanya berarti angka?

Semua itu kurikulum.

Dalam pendidikan Islam, persoalan ini bahkan lebih penting. Kita tidak mendidik manusia hanya supaya tahu. Ilmu harus bergerak menjadi kesadaran, iman, amal, kebiasaan, karakter, tanggung jawab sosial, lalu memberi warna kepada kehidupan bersama.

Kalau proses sebesar itu hanya diserahkan kepada mata pelajaran, rasanya kita terlalu optimistis.

Justru di sinilah pesantren mempunyai kesempatan besar. Pesantren tidak harus sibuk mengejar sekolah modern dengan cara menjadi semakin mirip sekolah modern. Ia mempunyai modal sendiri: kehidupan bersama, keteladanan, pembiasaan, ibadah berjamaah, kedekatan dengan guru, organisasi, kemandirian, pengabdian, adab, dan pengalaman sehari-hari.

Semua itu jangan dibiarkan hanya menjadi hidden curriculum.

Petakan. Rancang. Kelola. Evaluasi. Pertanggungjawabkan.

Maka mungkin problem pendidikan kita bukan kekurangan kurikulum. Kurikulumnya sudah terlalu banyak. Yang kurang justru keberanian untuk mengakui bahwa kehidupan itu sendiri adalah kurikulum.

Kalau begitu, jangan lagi disembunyikan.

Jadikan ia holistik, disengaja, dan dipertanggungjawabkan.

Sebab anak mungkin lupa apa yang kita ajarkan, tetapi sangat sulit melupakan bagaimana kita memperlakukannya.

M. Tata Taufik adalah penulis dan pemerhati komunikasi serta pendidikan Islam.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *