Menjaga Al Quran dan Merawat Keluarga Besar Pesantren
M. Tata Taufik
Saya menghadiri suatu acara wisuda tahfiz di Darul Qur’an. Di hadapan para penghafal Al-Qur’an, saya memandang anak-anak itu lebih dari peserta yang berhasil menyelesaikan suatu tahap belajar. Pada diri mereka ada pekerjaan panjang yang sedang diteruskan: menjaga bacaan, mengingatnya, mengajarkannya, lalu membawanya ke dalam kehidupan. Karena itulah kita pantas bergembira ketika seorang anak menyelesaikan hafalannya. Kegembiraan itu sekaligus membawa tanggung jawab bagi kita yang menyaksikannya.
Allah menyatakan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an dan memeliharanya (QS Al-Hijr [15]: 9). Kita menyaksikan pemeliharaan itu melalui banyak jalan. Ada mushaf yang ditulis dan diteliti, ada guru yang membetulkan bacaan muridnya, ada sanad yang merawat ketepatan transmisi, dan ada para huffaz yang membawa ayat-ayat di dalam dada. Para penghafal itu lahir dari rumah, masjid, dan pesantren yang tekun mendampingi mereka. Maka wisuda tahfiz tidak patut dilihat sebagai selesainya pekerjaan. Ia memperlihatkan bahwa pekerjaan itu telah memperoleh penerus.
Saya sempat berseloroh dalam sambutan: dahulu Al-Qur’an ada di dada, sekarang juga ada di saku masing-masing. Kita membuka telepon dan dapat membaca ayat di mana saja. Kemudahan ini patut disyukuri. Akan tetapi, memiliki mushaf digital di saku tidak dengan sendirinya membuat ayat hadir dalam ingatan, terlebih lagi dalam sikap. Ponsel memudahkan akses; manusia tetap perlu belajar, menyimak, mengulang, dan mengamalkan. Dalam hal itu, usaha para penghafal memberi pelajaran tentang kesabaran yang tidak dapat digantikan oleh tombol pencarian.
Al-Qur’an mula-mula disampaikan di Jazirah Arab. Berabad-abad kemudian, di Indonesia kita menyaksikan begitu banyak orang menaruh tenaga untuk mempelajari dan menjaganya. Pesantren tahfiz, para pengajar, keluarga santri, para ahli qiraah, dan pemilik sanad ikut menjalankan ikhtiar itu. Ketika saya ditanya tentang perkembangan tahfiz, jawaban yang terlintas adalah: ini produk keimanan dan produk peradaban. Iman mendorong seseorang menghafal dan mengajar; dari kerja yang dilakukan terus-menerus itu tumbuh lembaga, tradisi, dan tanggung jawab bersama.
Namun, di tengah kegembiraan wisuda, saya kembali teringat satu pertanyaan yang lebih dekat dengan pekerjaan sehari-hari: bagaimana pesantren mendidik anak-anak ini? Saya menjawab dengan pengalaman yang akrab bagi pengasuh: melalui pendekatan kekeluargaan. Di pesantren, seorang guru biasa memanggil santrinya “anak-anakku”. Sebutan itu membawa konsekuensi. Jika seorang anak sakit, kita memikirkannya. Jika ia belum pulang ke kamar, kita mencarinya. Jika ia masih berjuang menyelesaikan hafalan, kita mencari cara untuk mendampinginya.
Dalam tradisi pendidikan Islam, Imam al-Ghazali mengingatkan guru agar memperlakukan murid dengan kasih sayang sebagaimana anak sendiri. Di pesantren, nasihat itu bertemu dengan kehidupan yang sangat nyata. Guru dan santri berjumpa sejak pagi, belajar, makan, beribadah, dan menghadapi kesulitan bersama. Saya menyebut pesantren sebagai rumah besar. Sebuah rumah tentu memerlukan aturan, tetapi aturan tidak cukup tanpa orang-orang yang merasa bertanggung jawab terhadap penghuninya.
Pendekatan kekeluargaan juga menuntut guru bersedia belajar. Pada acara itu seorang ustazah mengatakan bahwa para pengasuh belajar dari anak-anak. Saya sepakat. Kita melihat santri menjalani mujahadahnya: mengulang hafalan, menerima koreksi, bangun lagi setelah lelah, lalu mencoba kembali. Kalau anak-anak belum tidur, pengasuh pun belum tentu dapat tidur nyenyak. Dari dekat kita menyaksikan bagaimana ketekunan dibentuk. Sering kali anak-anak sedang mengajar kita tanpa mereka sadari.
Ketika santri tampil menyampaikan khutbah atau nasihat, pengasuh mendengarkan. Ada kalanya kalimat yang keluar dari mulut seorang santri justru lebih kuat mengetuk hati gurunya. Hubungan pendidikan di sini bergerak dua arah. Guru membimbing santri, santri mengingatkan guru, dan keduanya belajar menjaga apa yang mereka ucapkan. Saya kira suasana saling menasihati seperti itulah yang membuat pesantren menjadi tempat belajar, bukan sekadar tempat menyampaikan pelajaran.
Saya tidak mengatakan bahwa semua pesantren sudah memenuhi cita-cita itu. Kita mengenal kritik dan melihat kekurangan yang perlu dibenahi. Justru karena pesantren adalah rumah besar, keluhan anak-anak dan orang tua harus didengar dengan sungguh-sungguh. Kasih sayang tidak boleh berhenti sebagai sebutan. Ia mesti tampak dalam cara kita mengajar, melindungi, memperbaiki kesalahan, dan membuka ruang bagi santri untuk berbicara. Dengan begitu, pendekatan kekeluargaan menjadi tanggung jawab pendidikan, bukan sekadar ungkapan yang enak didengar.
Ada satu kekurangan lain yang saya sebut dalam sambutan: kita sering kurang pandai mengomunikasikan apa yang baik dari pesantren. Tamu datang melihat wisuda, mendengar bacaan, lalu pulang membawa kesan yang menggembirakan. Tetapi proses panjang di balik itu jarang kita ceritakan dengan jernih: siapa yang menemani anak ketika hafalannya macet, bagaimana guru belajar dari murid, bagaimana keluarga ikut menguatkan, dan bagaimana satu komunitas menjaga Al-Qur’an dari hari ke hari. Cerita semacam itu perlu disampaikan, sambil tetap jujur terhadap hal-hal yang harus diperbaiki.
Pada akhirnya, menjaga Al-Qur’an adalah pekerjaan yang berlangsung dalam hubungan antarmanusia. Seorang anak menyetor hafalan kepada gurunya; guru membetulkan dengan sabar; orang tua mendoakan dan memberi semangat; sesama santri saling mengingatkan. Di dalam rumah besar itulah ayat-ayat dipelajari dan watak dibentuk. Ketika kita memberi selamat kepada para huffaz, kita juga sedang mengingatkan diri sendiri: tugas mereka akan lebih kuat jika kita terus menjaga lingkungan tempat mereka tumbuh.
Dikembangkan dari sambutan “Menjaga al Qur’an” pada wisuda tahfiz di Darul Qur’an. Rekaman: https://www.youtube.com/watch?v=v_tOGbmMjHs
