Belajar dari konsep malakah Ibn Khaldun dan tradisi pendidikan bahasa di pesantren modern
M. Tata Taufik
Bertahun-tahun belajar bahasa, tetapi gugup ketika harus berbicara. Hafal rumus tata bahasa, tetapi kalimat sederhana pun tersendat. Fenomena ini bukan hanya terjadi dalam pembelajaran bahasa Arab atau bahasa Inggris. Dalam banyak bidang, sekolah berhasil membuat peserta didik mengetahui sesuatu, tetapi belum tentu membuat mereka mampu melakukannya.
Di sinilah pemikiran Ibn Khaldun terasa mengejutkan karena tetap aktual setelah berabad-abad. Ia menggunakan istilah malakah untuk menjelaskan kemampuan yang telah tertanam kuat dalam diri seseorang. Malakah bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala. Ia adalah kecakapan yang lahir dari tindakan, diulang terus-menerus, lalu berubah menjadi sifat yang menetap. Seseorang tidak lagi harus berpikir panjang untuk melakukannya karena kemampuan itu telah menjadi bagian dari dirinya.
Perbedaan antara mengetahui dan mampu sebenarnya sederhana. Orang dapat membaca banyak buku tentang berenang tanpa pernah sanggup menyeberangi kolam. Seseorang juga dapat menjelaskan teori berpidato dengan sangat baik, tetapi kehilangan kata-kata ketika berdiri di depan khalayak. Pengetahuan memberi peta; malakah membuat kaki benar-benar berjalan.
Masalah pendidikan kita sering bermula ketika peta dianggap sebagai perjalanan. Materi telah disampaikan, catatan telah dibuat, ujian telah dilaksanakan, lalu proses dinyatakan selesai. Kita terlalu sering mengukur pendidikan dari berapa banyak bab yang dituntaskan, bukan dari berapa banyak kemampuan yang benar-benar dilahirkan. Akibatnya, peserta didik mengenal istilah, definisi, dan rumus, tetapi semua itu mudah menguap setelah ujian berakhir.
Dalam kajian saya mengenai pembelajaran bahasa Arab di pesantren modern Indonesia, konsep malakah menemukan bentuknya yang sangat konkret. Bahasa Arab tidak ditempatkan hanya sebagai mata pelajaran yang bertemu siswa beberapa jam dalam sepekan. Ia dijadikan bahasa kehidupan: digunakan di kelas, di asrama, dalam percakapan sehari-hari, pidato, drama, bacaan, latihan menulis, majalah dinding, hingga kegiatan pekanan.
Ada pemberian kosakata pada pagi hari, percakapan singkat sebelum pelajaran, latihan pidato, penulisan karangan harian atau mingguan, menonton tayangan berbahasa Arab, serta penggunaan bahasa Arab untuk mempelajari sejumlah ilmu keislaman. Buku, penjelasan guru, respons siswa, dan evaluasi bergerak dalam lingkungan bahasa yang sama. Mata melihat, telinga mendengar, lisan mengucapkan, dan tangan menulis. Bahasa tidak lagi hanya dipelajari; ia dipakai untuk belajar.
Kekuatan sistem ini tidak terletak pada satu metode yang ajaib. Tidak ada satu kegiatan yang sendirian mampu melahirkan kemahiran. Daya kerjanya muncul dari konsistensi sebuah ekosistem. Siswa berbicara, melakukan kesalahan, menerima koreksi, mencoba kembali, lalu mengulanginya dalam konteks yang berbeda. Sedikit demi sedikit, bahasa berpindah dari buku ke ingatan, dari ingatan ke ucapan, dan dari ucapan menjadi kebiasaan.
Inilah yang dahulu dirumuskan Ibn Khaldun: perbuatan yang dilakukan sekali baru menjadi tindakan; ketika diulang, ia berkembang menjadi keadaan; ketika terus dipelihara, ia mengakar sebagai malakah. Maka, kemampuan berbahasa tidak cukup dibangun dengan menjelaskan bahasa. Ia tumbuh ketika peserta didik memperoleh kesempatan yang terus-menerus untuk hidup bersama bahasa tersebut.
Namun, pengulangan yang dimaksud bukanlah latihan mekanis yang membosankan. Malakah tidak identik dengan menghafal tanpa memahami. Pengulangan harus memiliki makna, konteks, jenjang kesulitan, koreksi, dan tujuan. Peserta didik perlu merasa aman untuk salah karena kesalahan merupakan bagian dari pembentukan kemampuan. Lingkungan yang gemar mempermalukan kesalahan justru membuat orang memilih diam; padahal bahasa hanya dapat tumbuh ketika digunakan.
Pelajaran dari pesantren modern ini sesungguhnya melampaui pembelajaran bahasa. Menulis juga hanya menjadi kemampuan melalui praktik menulis. Berpikir kritis tidak lahir dari menghafal definisinya, tetapi dari kebiasaan bertanya, memeriksa alasan, membandingkan bukti, dan berani memperbaiki pendapat. Demikian pula disiplin, kejujuran, kepemimpinan, dan kepedulian sosial tidak akan menjadi karakter jika hanya disampaikan sebagai materi ceramah.
Kita sering berharap satu mata pelajaran pendidikan karakter dapat membuat anak jujur, tertib, dan bertanggung jawab. Padahal karakter adalah malakah moral. Ia tumbuh melalui keteladanan, aturan yang konsisten, pengalaman mengambil keputusan, serta konsekuensi yang adil. Sekolah yang mengajarkan kejujuran tetapi membiarkan kecurangan sebenarnya sedang menciptakan malakah yang berlawanan dengan pelajarannya.
Karena itu, pembaruan kurikulum seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: materi apa lagi yang perlu ditambahkan? Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: kemampuan apa yang harus mengakar pada diri peserta didik, pengalaman apa yang harus mereka jalani berulang kali, dan lingkungan seperti apa yang memungkinkan kemampuan itu tumbuh? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggeser pusat pendidikan dari isi buku menuju pembentukan manusia.
Teknologi tentu dapat membantu. Aplikasi bahasa, video interaktif, kecerdasan buatan, dan ruang belajar digital memperluas kesempatan berlatih. Akan tetapi, teknologi hanya menjadi alat. Aplikasi yang dibuka sesekali tidak akan menghasilkan malakah. Kemampuan lahir ketika teknologi masuk ke dalam irama belajar yang konsisten: percakapan singkat setiap hari, jurnal rutin, presentasi kecil, kegiatan membaca, umpan balik, dan kesempatan menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Guru pun perlu bergeser dari sekadar penyampai informasi menjadi perancang pengalaman. Tugas utamanya bukan hanya menjelaskan apa yang benar, tetapi menciptakan keadaan agar peserta didik berulang kali melakukan yang benar sampai mampu melakukannya secara mandiri. Dalam kerangka ini, kelas bukan tempat guru menghabiskan materi, melainkan ruang latihan tempat pengetahuan berubah menjadi kecakapan.
Ibn Khaldun membantu kita melihat bahwa mutu pendidikan tidak ditentukan oleh banyaknya informasi yang berpindah dari guru kepada murid. Mutu pendidikan terlihat ketika informasi itu menetap sebagai kemampuan, memengaruhi tindakan, dan akhirnya membentuk watak. Sekolah boleh memiliki kurikulum yang indah, buku yang tebal, dan teknologi yang canggih. Namun, tanpa latihan yang konsisten dan lingkungan yang mendukung, semuanya dapat berhenti sebagai pengetahuan yang belum sempat hidup.
Pendidikan mencapai tujuannya bukan ketika peserta didik dapat mengulang apa yang dikatakan gurunya, melainkan ketika ia mampu bertindak dengan ilmunya. Pelajaran mungkin berakhir ketika bel berbunyi. Malakah justru mulai tampak ketika pengetahuan tetap bekerja, bahkan saat tidak ada lagi yang menyuruhnya.
Penulis adalah dosen dan peneliti komunikasi serta pendidikan Islam.

