Dari Cantelan Berita ke Masyarakat Pencari Informasi

Mendidik warga digital agar tidak hanya menerima arus informasi, tetapi aktif mencari, mengkaji, dan menghasilkan pengetahuan

M. Tata Taufik

Dulu, ketika membicarakan cara membuat berita menjadi ramai, seorang wartawan pernah menjelaskan kepada saya tentang pentingnya kegiatan atau peristiwa sebagai cantelan berita. Ada kegiatan, lalu dibuat berita; dari berita itu diharapkan perhatian publik tumbuh. Saya memahami logika tersebut. Sebuah peristiwa memang dapat memberi alasan kepada media untuk memberitakan sesuatu pada saat tertentu. Dalam dunia jurnalistik, peristiwa aktual sering menjadi pintu masuk bagi sebuah tulisan.

Namun, ketika percakapan itu saya ingat kembali, saya merasa cara pandang tersebut tidak lagi cukup untuk menjelaskan kehidupan media hari ini. Kita berada dalam lingkungan digital yang berubah cepat. Koran cetak bukan lagi satu-satunya tempat orang menemukan berita. Banyak orang membaca melalui telepon genggam, mengikuti tautan yang dibagikan, menonton video, atau mencari sendiri topik yang sedang mereka perlukan. Informasi bergerak melalui banyak jalur, dan perhatian publik tidak selalu bermula dari suatu acara.

Dari peristiwa menuju kebutuhan

Perubahan ini mengajak kita melihat kembali hubungan antara berita dan audiens. Dalam pola yang lebih lama, sebuah peristiwa menjadi cantelan bagi berita: ada kegiatan, kemudian media menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dalam pola digital, kebutuhan masyarakat juga dapat menjadi cantelan. Seseorang menghadapi persoalan, menyusun pertanyaan, lalu mencari informasi yang dapat membantunya memahami persoalan itu.

Karena itu, perhatian tidak hanya dapat dibangun dengan menyelenggarakan kegiatan dan memberitakannya. Informasi juga perlu hadir ketika orang membutuhkannya, mudah ditemukan, serta memberi jawaban yang bermakna. Orang yang mencari penjelasan tentang pendidikan, kesehatan, agama, atau kebijakan publik tidak selalu menunggu berita datang. Ia dapat membuka mesin pencari, mengikuti kanal yang dipercaya, bertanya kepada orang lain, atau memakai aplikasi kecerdasan buatan untuk menelusuri suatu topik.

Saya menyebut kecenderungan ini sebagai masyarakat pencari informasi. Istilah ini bukan berarti setiap orang selalu aktif mencari dan tidak pernah menerima informasi dari linimasa atau rekomendasi aplikasi. Kenyataannya, kita mengalami keduanya: kadang mencari dengan sengaja, kadang menemukan sesuatu karena disodorkan oleh platform. Namun, kemampuan mencari dengan sadar perlu semakin diperkuat agar masyarakat tidak hanya bergerak mengikuti arus yang lewat di hadapannya.

Pengguna sebagai subjek

Di sinilah edukasi masyarakat digital menjadi penting. Pendidikan digital tidak cukup mengajarkan cara menekan tombol, membuat akun, atau menggunakan fitur sebuah aplikasi. Masyarakat juga perlu belajar mengenali kebutuhan informasinya, merumuskan pertanyaan yang jelas, memilih sumber, membandingkan keterangan, dan memikirkan manfaat maupun dampak dari informasi yang akan dibagikan.

Orang yang mampu bertanya dengan baik sedang mengambil peran sebagai subjek. Ia tidak sekadar menunggu orang lain menentukan apa yang perlu ia ketahui. Ia memulai pencarian, mengarahkan perhatian, dan menghubungkan informasi dengan persoalan yang dihadapi. Pertanyaan yang baik tidak harus rumit. Pertanyaan sederhana seperti “Apa yang sebenarnya terjadi?”, “Dari mana informasi ini berasal?”, atau “Apa yang belum dijelaskan?” dapat menjadi awal kajian yang lebih bertanggung jawab.

Aplikasi seperti ChatGPT dan perangkat digital sejenis dapat membantu proses tersebut. Pengguna dapat meminta penjelasan awal, menyusun kata kunci, mencari sudut pandang, atau merapikan hasil bacaan menjadi kerangka kajian. Tetapi teknologi menjadi lebih berguna ketika pengguna membawa rasa ingin tahu dan tujuan yang jelas. Tanpa itu, aplikasi hanya menghasilkan jawaban yang dibaca sekilas. Dengan pertanyaan yang terarah, pengguna dapat menjadikan teknologi sebagai teman berpikir untuk menyelidiki suatu topik lebih jauh.

Jawaban dari aplikasi tetap perlu diperiksa. Masyarakat pencari informasi tidak berhenti pada tindakan bertanya; ia juga belajar menilai jawaban, memeriksa sumber, dan membedakan fakta dari pendapat. Sikap kritis ini bukan sikap curiga kepada semua hal, melainkan kesediaan untuk memahami dasar sebuah keterangan sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Dari mencari menjadi menghasilkan

Tujuan pendidikan digital tidak berhenti pada terbentuknya pengguna yang cakap mencari informasi. Pencarian dapat berkembang menjadi kegiatan yang produktif. Setelah membaca dan membandingkan sumber, seseorang mungkin menemukan penjelasan yang lebih terang, merumuskan persoalan baru, membuat tulisan, menyampaikan pengetahuan kepada lingkungannya, atau menyimpan data yang berguna bagi kajian berikutnya.

Dengan begitu, masyarakat digital tidak hanya menjadi konsumen informasi. Mereka dapat ikut menghasilkan dan menyediakan informasi yang diperlukan bersama. Seorang guru, misalnya, dapat mengolah pengalamannya menjadi bahan belajar bagi guru lain. Pengelola lembaga dapat menjelaskan data kegiatan secara terbuka agar masyarakat memahami pekerjaannya. Warga dapat mendokumentasikan persoalan setempat sehingga pembicaraan tentang solusi bertumpu pada keadaan yang nyata.

Tentu, menghasilkan informasi membawa tanggung jawab. Data yang dibagikan perlu dipikirkan ketepatan, konteks, dan dampaknya. Namun, tanggung jawab itu tidak seharusnya membuat masyarakat takut untuk berkontribusi. Justru dengan kebiasaan memeriksa dan menjelaskan sumber, ruang digital dapat diisi oleh lebih banyak informasi yang bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Maka ukuran masyarakat digital yang maju bukan semata-mata banyaknya perangkat atau cepatnya arus informasi. Ukurannya juga terletak pada kemampuan warga mengubah informasi menjadi pemahaman, lalu mengubah pemahaman menjadi sumbangan pengetahuan. Prosesnya bergerak dari mencari, bertanya, mengkaji, mengolah, hingga menghasilkan informasi yang berguna.

Dulu, peristiwa sering menjadi cantelan bagi berita. Kini, kebutuhan audiens dapat menjadi cantelan bagi pencarian informasi. Pergeseran ini tidak menghapus arti berita atau peristiwa. Ia membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menentukan apa yang perlu dipelajari dan bagaimana pengetahuan dapat dikembangkan. Karena itu, edukasi masyarakat digital perlu mengantarkan kita dari audiens yang hanya menerima menuju masyarakat pencari informasi yang produktif.