Kebekuan Jiwa Agama
Yudi Latif
Corak peradaban (civilization) kita hari ini mencerminkan jiwa budaya yang melandasinya. Hubungan antara kebudayaan, peradaban, dan jiwa yang menggerakkan keduanya diuraikan oleh Oswald Spengler dalam karya monumentalnya, The Decline of the West.
Spengler memperkenalkan pandangan tentang peradaban yang tumbuh dan berkembang dalam siklus tertentu. Setiap peradaban mengalami masa pertumbuhan, mencapai puncak kejayaan, lalu berangsur-angsur mengalami kemunduran. Seperti organisme, peradaban memiliki masa hidupnya sendiri.
Dalam kerangka pemikirannya, Spengler membedakan kebudayaan dan peradaban. Kebudayaan merupakan fase kreatif, ketika daya hidup suatu masyarakat melahirkan inovasi, pencarian makna, dan eksplorasi spiritual. Peradaban, sebaliknya, menandai fase ketika daya kreatif itu mulai mengeras menjadi tatanan yang mapan, dengan kecenderungan lebih materialistik, teknokratis, dan kurang terbuka terhadap pembaruan. Menurut Spengler, Barat telah bergerak dari fase kebudayaan menuju fase peradaban.
Setiap kebudayaan, menurut Spengler, memiliki jiwa yang khas. Jiwa budaya inilah yang membentuk cara suatu masyarakat memandang dunia, menghayati kehidupan, dan mengarahkan perkembangan spiritual, artistik, ilmiah, serta sosialnya. Ia menjadi semacam daya batin yang memberi corak dan kesatuan pada berbagai ekspresi kebudayaan.
Jiwa budaya membentuk “pandangan dunia” (worldview) suatu masyarakat. Ia tidak selalu hadir sebagai gagasan yang dirumuskan secara sadar, tetapi menjelma dalam karya seni, arsitektur, musik, filsafat, hingga ilmu pengetahuan. Di balik keragaman ekspresi itu, terdapat orientasi batin yang memberi makna dan arah.
Kebudayaan Barat, misalnya, oleh Spengler digambarkan memiliki jiwa “Faustian”: dorongan untuk menembus batas, menjelajahi keluasan, dan menguasai ruang. Kecenderungan ini antara lain tercermin dalam arsitektur Gotik Eropa, dengan menara-menara runcing yang menjulang seolah hendak menembus langit. Kebudayaan Yunani kuno, sebaliknya, lebih menonjolkan kejelasan bentuk, keselarasan, dan keseimbangan. Sementara itu, piramida dan kuil-kuil monumental Mesir kuno dapat dibaca sebagai ekspresi orientasi pada keabadian, keteraturan kosmis, dan kesinambungan hidup.
Bagi Spengler, perjalanan jiwa budaya tidak sepenuhnya bebas dari takdir sejarah. Setiap kebudayaan memiliki kemungkinan pertumbuhan sekaligus batas-batas perkembangannya sendiri. Sebagaimana organisme tidak dapat tumbuh tanpa akhir, daya kreatif suatu kebudayaan pun dapat mencapai titik jenuh, ketika bentuk-bentuk yang dahulu hidup dan subur berubah menjadi struktur yang kaku.
Memahami jiwa budaya, karena itu, bukan sekadar memahami warisan masa lalu, melainkan juga membaca arah masa depan. Cara suatu masyarakat memaknai kehidupan, mengembangkan pengetahuan, membangun institusi, dan menentukan cita-citanya turut memengaruhi corak peradaban yang dilahirkannya. Apa pun kemajuan yang kita impikan, pada akhirnya, harus berakar pada pembentukan jiwa budaya yang menopangnya.
Di negeri yang religius seperti Indonesia, pembentukan jiwa budaya itu tak dapat dilepaskan dari jiwa agama.
Sejarah memperlihatkan bahwa agama pernah menjadi salah satu tenaga penggerak penting peradaban. Rachel M. McCleary dan Robert J. Barro, melalui kajian mereka tentang agama dan ekonomi, menunjukkan bagaimana keyakinan serta praktik keagamaan dapat berkaitan dengan pembentukan disiplin, etika kerja, kejujuran, tradisi literasi, dan kepercayaan sosial—unsur-unsur yang turut menopang perkembangan ekonomi dan politik. Dalam pengertian ini, agama bukan semata-mata urusan akhirat, melainkan juga kekuatan yang membentuk karakter dan modal sosial masyarakat.
Benjamin M. Friedman, melalui kajiannya tentang hubungan agama dan kemajuan ekonomi, mengingatkan bahwa kapitalisme modern tidak tumbuh sepenuhnya dari ruang sekuler. Perkembangan ekonomi modern juga dipengaruhi oleh warisan pemikiran moral dan keagamaan yang memberi makna etis pada kerja, menempatkan disiplin sebagai kebajikan, dan memandang kemajuan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia. Dengan demikian, agama dapat menjadi sumber orientasi moral yang menggerakkan produktivitas, kreativitas, dan pembaruan sosial.
Namun, di Indonesia hari ini, agama tampak lebih semarak sebagai seremoni daripada berdaya sebagai sumber kreativitas, integritas, dan pembaruan peradaban.
Kita rajin membangun rumah ibadah, tetapi belum cukup tekun membangun tradisi ilmu. Kita fasih melafalkan ayat, tetapi kerap gagap menerjemahkan nilai-nilainya menjadi etika publik. Kita memuliakan simbol-simbol ketuhanan, tetapi membiarkan korupsi tumbuh di tengah masyarakat yang tak pernah sepi dari doa.
Organisasi-organisasi kemasyarakatan keagamaan, yang dahulu lahir sebagai gerakan pencerahan dan pembebasan sosial, sebagian kini menghadapi risiko terjebak dalam kenyamanan kelembagaan. Energi yang semestinya digunakan untuk memperbarui masyarakat acap terserap untuk merawat struktur dan mempertahankan pengaruh. Keberanian mengguncang kebekuan pun melemah. Mimbar yang seharusnya menjadi ruang pencerahan nurani tak jarang berubah menjadi panggung legitimasi politik.
Ketika kehilangan daya kritis dan daya transformatifnya, agama berisiko menyusut menjadi seremoni yang jinak: khusyuk di rumah ibadah, tetapi gamang menghadapi ketimpangan; lantang menyerukan kesalehan, tetapi lemah menentang kerakusan; rajin mengingatkan tentang dosa, tetapi tak cukup berani melawan kerusakan moral yang mengakar dalam kehidupan publik.
Barangkali, problem terbesar kita bukanlah kekurangan religiositas, melainkan kegagalan mengalirkan energi religius ke dalam kehidupan nyata. Kita terlalu lama memenjarakan agama dalam ritual formal, seolah-olah tugasnya selesai setelah mengurus keselamatan manusia di akhirat. Padahal, agama juga semestinya bekerja di bumi: membebaskan manusia dari kebodohan, menegakkan keadilan, membangun kejujuran, dan menumbuhkan keberanian untuk memperbaiki kehidupan bersama.
Pada akhirnya, jiwa budaya suatu bangsa tidak ditentukan oleh seberapa megah bangunan yang didirikannya, seberapa ramai ritual yang diselenggarakannya, atau seberapa lantang simbol-simbol keagamaannya dikumandangkan. Jiwa budaya tercermin dalam nilai-nilai yang sungguh-sungguh dihidupi, karakter yang dibentuk, ilmu yang dikembangkan, dan keadilan yang diperjuangkan.
Iman yang sejati tidak berhenti di bibir dan upacara. Ia menjelma menjadi integritas, menggerakkan kreativitas, dan melahirkan keberanian moral untuk membangun peradaban. Tanpa daya hidup semacam itu, agama hanya akan menjadi gema: terdengar keras di ruang-ruang ritual, tetapi kian lirih dalam tindakan; ramai dalam simbol, tetapi kehilangan “elan vital” yang semestinya menggerakkan kehidupan.
