Time Line Perkembangan Ilmu Komunikasi

PeriodeTokoh dan kajian pentingKonsep atau pertanyaan utama
Yunani klasik, abad ke-5–4 SMSofis, Plato, Aristoteles; pidato publik, debat, dan persuasiAristoteles merumuskan ethos, pathos, logos: daya persuasi yang berkaitan dengan karakter pembicara, keadaan emosi pendengar, dan argumen. Ini adalah akar pemikiran komunikasi, belum disiplin ilmu komunikasi modern.
Romawi dan tradisi pendidikan klasikCicero, Quintilian; pendidikan orator dan seni berbicaraBagaimana menyusun pidato, berbicara secara efektif, dan membentuk pembicara yang cakap. Retorika menjadi bagian penting pendidikan dan kehidupan politik.
Abad pertengahan hingga abad ke-19Tradisi retorika, khotbah, sastra, surat-menyurat, pers, dan kemudian telegraf serta teleponKajian komunikasi belum menjadi disiplin tersendiri. Perkembangan media memperluas jarak, kecepatan, dan jangkauan penyampaian pesan; persoalan publikasi dan pengaruh media mulai menonjol.
Akhir abad ke-19–awal abad ke-20Tradisi retorika dan public speaking; sosiologi kota dan masyarakat, termasuk George Herbert Mead, John Dewey, Robert E. ParkKomunikasi mulai dipelajari melalui pidato, interaksi sosial, pers, dan kehidupan masyarakat. Lembaga akademik tumbuh dari bidang retorika, pidato, dan publisistik; karena itu, tidak ada satu tanggal yang dapat disebut sebagai kelahiran tunggal disiplin ini.
1920-an–1940-anHarold Lasswell, Paul Lazarsfeld, Kurt Lewin, Carl Hovland; propaganda, opini publik, kampanye, dan efek mediaRiset beralih ke pertanyaan tentang siapa yang mengirim pesan, isi dan salurannya, siapa penerimanya, serta apa dampaknya. Lasswell merangkum kerangka itu dalam pertanyaan: Who says what, in which channel, to whom, with what effect? Penelitian juga menguji bagaimana pesan memengaruhi sikap dan perilaku.
1940-an–1950-anClaude Shannon dan Warren Weaver, Wilbur Schramm, Elihu Katz dan LazarsfeldModel Shannon–Weaver menyoroti sumber, pengirim, saluran, gangguan, penerima, dan tujuan pesan—awalnya untuk persoalan teknis transmisi informasi. Schramm membantu mengembangkan kajian komunikasi sebagai bidang akademik; riset Katz dan Lazarsfeld memopulerkan two-step flow, yakni peran pemimpin opini dalam aliran pengaruh media. Bidang ini terbentuk melalui beberapa pusat dan tradisi riset, bukan hanya satu model.
1950-an–1960-anWilbur Schramm, David Berlo, Marshall McLuhan, Harold Innis, Adorno dan Horkheimer; model komunikasi, media massa, dan kritik budayaModel SMCR Berlo menata unsur source–message–channel–receiver. Pada saat yang sama, McLuhan dan Innis mengarahkan perhatian pada pengaruh bentuk media terhadap cara masyarakat mengatur ruang, waktu, dan hubungan sosial. Tradisi kritis Frankfurt menelaah hubungan media, budaya massa, industri, dan kuasa.
1960-an–1980-anEverett Rogers, George Gerbner, Maxwell McCombs dan Donald Shaw, Elisabeth Noelle-Neumann, Stuart Hall, Jürgen HabermasFokus melebar dari pengiriman pesan ke adopsi gagasan, pembentukan agenda, paparan jangka panjang, opini publik, penafsiran, dan kuasa. Konsep pentingnya mencakup diffusion of innovations, cultivation, agenda-setting, spiral of silence, serta encoding/decoding. Kajian komunikasi juga memberi perhatian lebih besar pada budaya dan bagaimana audiens menafsirkan pesan.
1970-an–1990-anJames Carey, Erving Goffman, W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen, Charles Berger dan Richard Calabrese; komunikasi interpersonal, budaya, organisasi, dan hubungan sosialKomunikasi makin dipahami sebagai proses membentuk makna dan hubungan, bukan sekadar memindahkan informasi. Kajian berkembang pada interaksi tatap muka, identitas, percakapan, organisasi, dan bagaimana orang mengurangi ketidakpastian dalam hubungan.
1990-an–2000-anJoseph Walther, Manuel Castells, Henry Jenkins, dan danah boyd; internet, computer-mediated communication (CMC), komunitas daring, dan jejaring sosialInternet mengaburkan batas antara komunikasi antarpribadi dan komunikasi massa. Muncul kajian tentang identitas daring, komunikasi asinkron, masyarakat jejaring, budaya partisipatif, dan networked publics. Kajian situs jejaring sosial, misalnya, melihat pengguna bukan hanya sebagai penerima, tetapi juga pembuat dan penyebar konten.
2010-an–sekarangPeneliti komunikasi digital, platform, algoritma, dan human–machine communication; kajian media sosial, data, rekomendasi, dan AIPertanyaan bergeser ke bagaimana platform memilihkan paparan, algoritma mengatur arus informasi, dan pengguna berinteraksi dengan mesin. AI mulai dikaji bukan sekadar sebagai saluran: ia dapat ikut menyusun, mengubah, atau menghasilkan pesan. Kajian komunikasi manusia–mesin masih berkembang, termasuk soal sumber pesan, kepercayaan, agensi, dan tanggung jawab.