Jangan Tergesa-gesa Ingin Berhasil
Tafsir Inspiratif Surah Al-Hajj Ayat 52
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ
أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ
ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Nabi Muhammad), kecuali apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan (godaan-godaan) ke dalam keinginannya itu. Lalu, Allah menghapus apa yang dimasukkan setan itu, kemudian Allah memantapkan ayat-ayat-Nya (dalam hati orang-orang beriman). Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
Ayat ini menerangkan bahwa para rasul dan nabi menghadapi gangguan setan; Allah membatalkan apa yang dilemparkan setan, kemudian meneguhkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Makna kata tamannā dan umniyyah di dalamnya membuka dua sudut penafsiran yang akan kita renungkan.
Tafsiran
Setiap orang yang berjuang mengharapkan keberhasilan. Seorang guru ingin muridnya segera mengerti. Orang tua menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh. Seorang pendakwah berharap masyarakat menerima petunjuk. Harapan itu membuat kita bersedia bekerja dan berkorban. Namun, bagaimana ketika hasil belum juga tampak, sementara kesulitan terus datang?
Di situlah kesabaran dan keteguhan diuji. Keinginan untuk berhasil dapat mendorong kita memperbaiki usaha. Akan tetapi, keinginan yang sama dapat membuat kita tergesa-gesa, kehilangan kejernihan, bahkan tergoda mengambil jalan yang menyimpang dari tujuan semula.
Surah Al-Hajj ayat 52 mengajak kita mencermati gangguan terhadap risalah dan pemeliharaan Allah atas petunjuk-Nya. Para mufasir memberikan dua penekanan pada kata tamannā dan umniyyah: membaca dan bacaan; serta berharap dan harapan.
Membaca dan Menyampaikan Wahyu
Penafsiran pertama memahami tamannā (تَمَنَّىٰ) sebagai qara’a atau talā, yakni membaca atau melantunkan. Umniyyah (أُمْنِيَّة) dipahami sebagai qirā’ah atau tilāwah, yakni bacaan. Akhiran “-hi” pada umniyyatihi berarti “-nya”, sehingga frasa itu dipahami sebagai “dalam bacaannya”. Dengan pengertian ini, ayat berbicara tentang para nabi ketika membacakan petunjuk Allah kepada manusia.
Jalalain menyajikan padanan itu secara singkat: tamannā dijelaskan dengan qara’a, dan umniyyatihi dengan qirā’atahu. As-Sa‘di memakai pemaknaan serupa. Dalam penjelasannya, bacaan para rasul mengandung peringatan, perintah, dan larangan yang hendak disampaikan kepada manusia. [1]
Ibnu Katsir menukil keterangan Al-Baghawi bahwa banyak mufasir memahami kata tersebut sebagai membaca Kitab Allah. Ia juga menyebut penjelasan Adh-Dhahhak dengan makna tilawah. Untuk memperlihatkan pemakaian bahasa, kitab-kitab tafsir menukil sebuah bait syair tentang ‘Utsman yang menggunakan ungkapan tamannā kitāballāh: ia membaca Kitab Allah. Bait ini dipakai sebagai syāhid, yaitu contoh penggunaan kata dalam bahasa Arab. [1][2]
Asal-usul makna tersebut juga dibahas melalui riwayat penafsiran. Al-Ṭabari menukil dari Ibnu ‘Abbas pemaknaan “ketika berbicara”, dari Mujahid “ketika berkata”, dan dari Adh-Dhahhak “ketika membaca”. Jadi, riwayat-riwayat itu tidak seluruhnya memakai padanan yang sama, tetapi bergerak dalam ranah pengucapan dan penyampaian pesan. Al-Ṭabari menguatkan arah ini dengan memperhatikan kelanjutan ayat tentang Allah yang meneguhkan ayat-ayat-Nya. [3]
Dari sudut ini kita dapat memahami ayat dalam konteks pewahyuan, khususnya pembacaan serta penyampaian wahyu. Ketika petunjuk disampaikan, setan berusaha menghadirkan sesuatu yang bertentangan dengannya. As-Sa‘di menegaskan bahwa gangguan itu tidak menetap: Allah menjaga para rasul dalam penyampaian risalah dan memelihara wahyu-Nya dari percampuran. [1]
Frasa fa-yansakhullāhu dijelaskan sebagai Allah menghilangkan atau membatalkan gangguan tersebut. Nasakh di sini menunjuk penghapusan kebatilan yang dilemparkan setan. Selanjutnya, yuḥkimullāhu āyātih berarti Allah meneguhkan dan menjaga ayat-ayat-Nya. Dengan membaca kedua tindakan itu secara berurutan, perhatian kita sampai pada kepastian pemeliharaan petunjuk Allah. [1]
Al-Maraghi membantu kita melihat persoalan penerimaan pesan. Ia memahami bahwa ketika nabi membaca wahyu, setan menanamkan syubhat kepada pendengarnya. Ada yang menyebut wahyu sebagai sihir, ada pula yang menuduhnya mengambil cerita orang terdahulu. Bacaan yang disampaikan menghadapi prasangka yang dapat menghalangi orang memahaminya. Allah membatalkan syubhat itu, antara lain dengan menghadirkan orang berilmu yang menjawabnya melalui hujah. [4]
Makna “membaca” dengan demikian membawa kita mencermati proses penyampaian wahyu dan usaha mengaburkan penerimaannya. Namun, rincian tentang bentuk gangguan tetap perlu diperiksa. Dalam pembahasan inilah sebagian kitab tafsir mencantumkan sebuah cerita yang kemudian banyak diperdebatkan.
Dalam sebagian kitab tafsir, terdapat cerita tentang Nabi Muhammad ﷺ yang membacakan Surah An-Najm di hadapan orang-orang Quraisy. Menurut cerita tersebut, setelah bacaan sampai pada penyebutan Al-Lat, Al-‘Uzza, dan Manat, muncul ucapan yang memuji berhala-berhala itu. Cerita ini dinukil dengan beberapa versi: ada yang menisbatkan ucapan itu kepada lisan Nabi akibat gangguan setan, ada pula yang menggambarkannya sebagai suara setan yang disangka oleh kaum musyrik berasal dari Nabi. Ini adalah isi riwayat yang diperselisihkan, bukan penetapan bahwa Nabi benar-benar mengucapkannya. [1][5]
Ucapan yang dimaksud berbunyi:
تِلْكَ الْغَرَانِيقُ الْعُلَى وَإِنَّ شَفَاعَتَهُنَّ لَتُرْتَجَى
“Itulah gharānīq yang tinggi, dan sungguh syafaat mereka diharapkan.” Menurut cerita itu, kaum musyrik bergembira karena mengira berhala mereka dipuji. Ketika Nabi bersujud pada akhir surah, mereka ikut bersujud. Dalam salah satu versinya, Jibril kemudian menerangkan bahwa ucapan tersebut bukan wahyu yang dibawanya. Al-Hajj ayat 52 lalu dihubungkan dengan pembatalan sisipan itu dan penghiburan bagi Nabi. [5]
Dari ungkapan itulah cerita ini dikenal sebagai kisah gharānīq. Secara bahasa, gharānīq merupakan bentuk jamak dari ghurnūq atau ghurnayq, sebutan bagi sejenis burung air berwarna putih. Ibnu Al-Atsir menjelaskan bahwa dalam ungkapan tersebut kata itu dimaksudkan untuk berhala, yang diumpamakan dengan burung yang terbang tinggi karena diyakini dapat mendekatkan penyembahnya kepada Allah dan memberi syafaat. Jadi, “gharānīq yang tinggi” merupakan ungkapan pujian kepada berhala dalam cerita itu. [6]
Cerita tersebut perlu dibaca bersama penilaian terhadap periwayatannya. Ibnu Katsir menyatakan tidak menemukan sanad bersambung yang sahih untuk kisah itu. Adapun peristiwa Nabi membaca Surah An-Najm lalu bersujud bersama orang-orang yang hadir memang diriwayatkan Al-Bukhari, tetapi riwayat sahih tersebut tidak menyebut ucapan pujian kepada berhala. Karena itu, adanya peristiwa sujud tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh kisah gharānīq. Penafsiran Al-Hajj ayat 52 perlu tetap memperhatikan hubungan antarayat serta pemeliharaan Allah atas risalah. [1][5]
Berharap dan Menjalankan Petunjuk Wahyu
Penafsiran kedua bertolak dari pemakaian tamannā yang lebih dikenal dalam percakapan: menginginkan atau mengharapkan sesuatu. Umniyyah ialah sesuatu yang diinginkan atau diharapkan, sedangkan bentuk jamaknya adalah amānī. Dalam bahasa Indonesia, padanannya dapat berupa keinginan, harapan, atau cita-cita, sesuai dengan apa yang menjadi objeknya.
Ibnu ‘Asyur menjelaskan tamannī sebagai menginginkan sesuatu yang sulit diperoleh, dan umniyyah sebagai sesuatu yang diharapkan. Dalam konteks para nabi, objek harapan itu ialah kesalehan dan hidayah umatnya. Ia menyatakan: [7]
وَإِنَّمَا يَتَمَنَّى الرُّسُلُ وَالْأَنْبِيَاءُ أَنْ يَكُونَ قَوْمُهُمْ كُلُّهُمْ صَالِحِينَ مُهْتَدِينَ
“Yang diharapkan para rasul dan nabi ialah agar seluruh kaumnya menjadi saleh dan mendapat petunjuk.” Gangguan setan dipahaminya sebagai usaha merusak terwujudnya harapan yang baik itu. Pada pembacaan ini, harapan kenabian memiliki arah yang jelas, yakni membawa manusia kepada petunjuk. [7]
Abu Hayyan telah menjelaskan arah serupa dalam Al-Baḥr al-Muḥīṭ. Para nabi bersungguh-sungguh menginginkan keimanan kaumnya, sementara setan menghiasi kekufuran dan menyebarkan keraguan kepada mereka. Ia menghubungkannya pula dengan para penentang Nabi yang menanamkan syubhat agar masyarakat dan orang yang datang ke Makkah enggan menerima Islam. Gangguan terhadap harapan dakwah tampak melalui sikap serta pengaruh sosial yang menghambatnya. [7]
Sayyid Qutb mengembangkan perhatian kepada harapan para rasul agar dakwah diterima dan segera berhasil. Karena sangat menginginkan kebaikan bagi umat, muncul keinginan menemukan jalan yang lebih cepat untuk mendekatkan mereka kepada petunjuk. Menurut Qutb, setan berusaha memanfaatkan keinginan itu agar dakwah bergeser dari prinsipnya, misalnya melalui dorongan melonggarkan sikap terhadap kebiasaan masyarakat dengan harapan pembinaannya dapat dilakukan kemudian. [8]
Qutb menjelaskan bahwa Allah membatalkan tipu daya tersebut dan memperjelas ukuran yang benar bagi dakwah. Ia tetap menegaskan keterjagaan para rasul dalam menyampaikan risalah. Dengan demikian, titik tekan penafsirannya ialah kebutuhan menjaga arah dan cara perjuangan ketika harapan akan keberhasilan begitu kuat. [8]
Asy-Syinqithi dalam Aḍwā’ al-Bayān juga mencatat makna “mengharapkan keislaman dan ketaatan umat” sebagai salah satu dari dua penafsiran yang dikenal. Ia menjelaskan bahwa setan menanamkan bisikan dan syubhat untuk menghalangi tercapainya harapan itu. Kedudukannya perlu dibaca tepat: ia menguraikan kemungkinan tersebut bersama makna membaca, sehingga tidak serta-merta dapat disebut memilihnya sebagai satu-satunya makna. [2]
Para mufasir ini bertemu pada makna harapan, dengan penekanan yang berbeda. Abu Hayyan menyoroti hambatan di tengah masyarakat. Ibnu ‘Asyur menjelaskan pertentangan antara harapan para nabi akan hidayah dan usaha setan menggagalkannya. Qutb memperhatikan godaan yang hendak memanfaatkan keinginan agar dakwah segera berhasil. Perbedaan ini memperkaya cara kita membaca proses perjuangan.
Dari sini kita dapat mengembangkan renungan tentang proses menjalankan petunjuk wahyu secara psikologis dan sosiologis. Secara psikologis, manusia menghadapi ketakutan, kelelahan, kekecewaan, dan ketidaksabaran. Secara sosiologis, ia berhadapan dengan kebiasaan masyarakat, kepentingan, tekanan lingkungan, dan penolakan. Inilah penerapan pelajaran ayat bagi kehidupan kita; pengalaman manusia biasa tentu tidak memiliki jaminan kemaksuman para rasul.
Konteks ayat-ayat di sekitarnya menguatkan perhatian pada perjuangan risalah dan penerimaannya. Ayat 51 menyebut usaha menentang ayat Allah. Ayat 53 menjelaskan gangguan sebagai ujian bagi hati yang sakit dan keras. Ayat 54 menggambarkan orang berilmu yang mengenali kebenaran, beriman, kemudian tunduk hatinya. Ada hubungan antara pesan yang disampaikan, keadaan penerima, dan respons yang lahir darinya.
Pemakaian Makna Harapan dalam Hadis
Makna harapan ini dapat kita kenali pula melalui penggunaan kata dalam hadis. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan sabda Nabi tentang penghuni surga yang paling rendah kedudukannya. Allah mempersilakannya menyampaikan keinginan, kemudian menjanjikan pemberian yang melampaui apa yang dimintanya. Dalam riwayat Muslim no. 182 terdapat ungkapan: [9]
تَمَنَّ … فَإِنَّ لَكَ مَا تَمَنَّيْتَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
“Sampaikanlah keinginanmu … sesungguhnya engkau memperoleh apa yang engkau inginkan dan sebanyak itu lagi.” Di sini tamannā berarti menginginkan suatu pemberian. Ungkapan mā tamannayta menunjuk sesuatu yang diharapkan diperoleh oleh orang tersebut. Konteksnya membuat makna ini jelas. [9]
Dalam riwayat panjang Al-Bukhari melalui Abu Hurairah terdapat pula ungkapan ḥattā inqaṭa‘at bihi al-amānī, sampai habislah segala keinginannya. Kata amānī pada ungkapan itu merupakan bentuk jamak dari umniyyah. Dengan demikian, kita memperoleh contoh bagi kata kerja berharap dan kata benda yang menunjuk berbagai harapan. [10]
Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa makna “harapan” mempunyai pijakan dalam bahasa hadis. Akan tetapi, hadis tentang penghuni surga itu tidak sedang menafsirkan Al-Hajj ayat 52 secara langsung. Untuk menentukan makna dalam ayat, penggunaan bahasa perlu dibaca bersama konteksnya. Pada ayat ini, objek harapan dalam penafsiran kedua ialah hidayah dan kebaikan umat. Dari situlah renungan tentang harapan dalam kehidupan kita dikembangkan.
Harapan yang Menjadi Rencana Berlandaskan Tauhid
Memaknai tamannā sebagai harapan membuka ruang untuk merenungkan bagaimana seorang beriman membangun masa depan. Ia memiliki keinginan, menetapkan tujuan, lalu memikirkan jalan untuk mencapainya. Tauhid membimbing apa yang diharapkan, kepada siapa harapan itu disandarkan, dan bagaimana ia diusahakan.
Dalam riwayat dari ‘Aisyah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُكْثِرْ؛ فَإِنَّمَا يَسْأَلُ رَبَّهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian menyampaikan keinginannya, hendaklah ia memperbanyaknya, karena sesungguhnya ia meminta kepada Tuhannya.” Redaksi ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘, no. 437. [11]
Ungkapan “ia meminta kepada Tuhannya” memberi arah kepada harapan. Seorang beriman boleh memiliki harapan yang besar karena ia memohon kepada Allah. Dari pesan ini kita dapat mengembangkan pelajaran tentang perencanaan: harapan dihadapkan kepada Allah dalam doa, dijabarkan menjadi tujuan yang baik, lalu dikerjakan melalui ikhtiar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam atsar yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab r.a., ia meminta orang-orang di sekelilingnya, “Tamannaw”, sampaikanlah cita-cita kalian. Ada yang menginginkan rumah penuh emas untuk diinfakkan di jalan Allah; ada pula yang menginginkan permata dengan tujuan serupa. ‘Umar mengarahkan keinginannya kepada orang-orang amanah seperti Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu‘adz bin Jabal, dan Hudzaifah bin Al-Yaman, agar dapat ditugaskan dalam ketaatan kepada Allah. Redaksi serta nama-nama yang disebut memiliki variasi dalam jalur periwayatannya. [12]
Atsar ini memperlihatkan harapan yang memiliki arah pengabdian. Keinginan memiliki harta dihubungkan dengan infak, sedangkan keinginan memiliki tenaga manusia dihubungkan dengan amanah yang hendak ditunaikan. Dari sini kita belajar menurunkan cita-cita menjadi kebutuhan kerja: siapa yang akan melaksanakannya, kemampuan apa yang perlu dibina, dan sumber daya apa yang perlu disiapkan.
Dalam pendidikan, misalnya, cita-cita melahirkan manusia saleh perlu diikuti rencana pembinaan guru, pendampingan murid, serta suasana belajar yang mendukung. Kita memohon pertolongan Allah, menyiapkan sebab-sebab yang dapat diusahakan, lalu menjalani prosesnya. Harapan membangun arah; tauhid menjaga sandarannya; ikhtiar menggerakkan pelaksanaannya.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Keyakinan Dijalankan Melalui Proses
Dua penafsiran Al-Hajj ayat 52 membawa perhatian kepada dua tahap yang saling berhubungan. Petunjuk dibacakan dan disampaikan, kemudian diterima, diyakini, serta dijalankan. Pada proses penyampaian ada usaha pengaburan, dan pada pelaksanaan ada usaha yang melemahkan atau mengalihkan langkah. Dari pertemuan keduanya kita belajar bahwa menjalankan keyakinan memerlukan pemahaman yang jernih dan keteguhan yang terus dipelihara.
Keteguhan ini dapat kita renungkan melalui perjalanan Ibrahim dan keluarganya. Harapan Ibrahim akan keturunan diungkapkan dalam doa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh” (Ash-Shaffat:100). Harapannya sejak awal diarahkan kepada Allah dan diikat dengan kesalehan. Kehadiran seorang anak menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang juga mengandung ujian.
Ibrahim dan Ismail dari Ketaatan menuju Pengorbanan
Ketika Ismail masih bayi, Ibrahim menempatkannya bersama Hajar di lembah Makkah yang belum berpenghuni dan tidak memiliki air. Hajar mengikuti Ibrahim dan bertanya mengapa mereka ditinggalkan di tempat seperti itu. Setelah mengetahui bahwa Allah yang memerintahkannya, ia menyatakan keyakinan bahwa Allah tidak akan menelantarkan mereka. [13]
Ketika persediaan air habis, Hajar bergerak mencari pertolongan. Ia naik ke Shafa, memandang ke arah lembah, kemudian menuju Marwah, dan mengulanginya tujuh kali. Riwayat Al-Bukhari menghubungkan usaha Hajar ini dengan sa‘i manusia di antara keduanya. Dari peristiwa seorang ibu yang berikhtiar menjaga kehidupan putranya, kita mengenal kisah yang kemudian dikenang dalam ibadah. Keyakinan kepada Allah menyertai usaha yang terus dilakukan. [13]
Waktu berjalan. Ketika putranya telah cukup besar untuk berusaha bersama ayahnya, Ibrahim menyampaikan mimpi tentang perintah menyembelihnya. Putra yang diharapkan kehadirannya kini menjadi pusat ujian ketaatan. Ibrahim mengajak putranya berbicara, dan Ismail menyambut perintah itu dengan kesiapan untuk bersabar, seraya menyandarkan kesanggupannya kepada kehendak Allah.
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash-Shaffat:102).
Kesiapan itu berlanjut menjadi tindakan. Al-Qur’an menggambarkan keduanya berserah diri, lalu Ibrahim membaringkan putranya dengan pelipis menghadap tanah. Pada saat itulah Allah memanggil Ibrahim, menyatakan bahwa ia telah membenarkan mimpi tersebut, dan mengganti putranya dengan sembelihan yang besar. Ujian itu memperlihatkan ketaatan yang sungguh-sungguh dijalankan (Ash-Shaffat:103–107).
Gangguan Dilawan dan Peristiwa Dikenang dalam Manasik
Dalam rangkaian kisah ketaatan Ibrahim, terdapat pula riwayat tentang gangguan setan yang dihadapinya. Riwayat Ibnu ‘Abbas menyebut setan muncul menghadang Ibrahim di tempat-tempat yang dikenal sebagai lokasi jumrah. Ibrahim melemparnya dengan tujuh kerikil hingga gangguan itu tersingkir. Ketika muncul lagi di tempat berikutnya, Ibrahim kembali melawannya; demikian pula pada kemunculan berikutnya. [14]
Kisah ini memperlihatkan proses menjalankan keyakinan: ada arah ketaatan yang hendak ditempuh, ada gangguan yang menghadang, lalu ada keputusan untuk menolak gangguan dan meneruskan langkah. Terulangnya gangguan dihadapi dengan perlawanan yang diperbarui. Keteguhan perlu dijaga sepanjang perjalanan.
Perlawanan Ibrahim terhadap setan itulah yang dikenang dalam pelemparan jumrah sebagai bagian dari manasik haji. Ibnu ‘Abbas menghubungkan amalan itu dengan mengikuti millah Ibrahim. Pengalaman menjalankan ketaatan dan melawan godaan itu menjadi pelajaran yang terus dihidupkan melalui manasik. Ketika jamaah melempar jumrah, mereka mengenang keteguhan Ibrahim sekaligus memperbarui tekad untuk menaati Allah. [14]
Dengan membaca perjalanan itu, kita dapat menghayati sa‘i sebagai ingatan akan ikhtiar Hajar, pengorbanan sebagai pelajaran penyerahan Ibrahim dan Ismail, serta jumrah sebagai ingatan akan keteguhan menghadapi gangguan. Peristiwa-peristiwa itu mendidik generasi sesudahnya melalui ibadah. Kisah Ibrahim di sini menjadi ilustrasi pelajaran tentang ketaatan, bukan sebab turunnya Al-Hajj ayat 52.
Bagi kehidupan sehari-hari, ada godaan yang perlu kita lawan ketika sedang berusaha menunaikan amanah. Kejujuran diuji oleh tawaran keuntungan, kesabaran diuji oleh lambatnya hasil, dan keteguhan diuji oleh tekanan lingkungan. Pelajaran jumrah mengajak kita mengenali gangguan, menolaknya, dan meneruskan pekerjaan yang benar.
Harapan Dipelihara dan Langkah Diperbaiki
Harapan yang besar memerlukan kesabaran. Dalam pendidikan, seorang anak perlu didampingi, pemahaman perlu diulang, dan kepercayaan perlu dibangun melalui pembuktian. Keinginan melihat hasil dengan segera dapat berubah menjadi pemaksaan atau janji yang sulit dipenuhi. Teruslah bekerja, perbaiki cara, dan berikan waktu bagi pertumbuhan.
Keteguhan juga berjalan bersama kesediaan menerima koreksi. Kita dapat keliru menilai keadaan atau memilih metode. Karena itu, niat perlu diperiksa, rencana perlu dievaluasi, dan hati perlu terus dihubungkan kepada Allah melalui doa. Penutup ayat, “Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”, mengingatkan keterbatasan pengetahuan kita dan kebutuhan kita kepada bimbingan-Nya.
Bangunlah harapan di hadapan Allah, susunlah rencana untuk mengusahakannya, lalu tetaplah teguh menjalani proses. Ketika gangguan datang, lawanlah. Ketika langkah keliru, perbaikilah. Ketika hasil belum terlihat, teruslah menanam kebaikan dengan sabar.
Rujukan
[1] As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān; Jalalain, Tafsīr al-Jalālayn; Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Penafsiran Surah Al-Hajj ayat 52.
[2] Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, Aḍwā’ al-Bayān, Surah Al-Hajj ayat 52, untuk dua kemungkinan makna tamannā dan syahid syair. Penukilan syair sebagai bukti bahasa juga dibahas Ibnu Katsir. Ibnu ‘Asyur mengkritisi kekuatan pemakaian umniyyah sebagai bacaan dan kepastian atribusi bait itu kepada Hassan; karena itu, syahid tersebut disajikan sebagai bukti yang digunakan dalam tradisi tafsir, bukan bukti yang disepakati seluruh mufasir.
[3] Al-Ṭabari, Jāmi‘ al-Bayān, Surah Al-Hajj ayat 52, untuk ragam penafsiran Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Adh-Dhahhak serta alasan penguatan makna membaca atau berbicara. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura22-aya52.html.
[4] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsīr al-Marāghī, penafsiran Surah Al-Hajj ayat 52–54.
[5] Jalalain, Tafsīr al-Jalālayn, Surah Al-Hajj ayat 52, untuk ringkasan salah satu versi cerita. Bandingkan kritik riwayat dalam tafsir Ibnu Katsir. Peristiwa sujud dalam Surah An-Najm tanpa tambahan ucapan pujian kepada berhala terdapat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 1067 dan 4862.
[6] Ibnu Al-Atsir, Al-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Athar, jilid 3, hlm. 364, entri gharnaqa, tentang makna gharānīq dan pemakaiannya dalam ungkapan tersebut.
[7] Abu Hayyan, Al-Baḥr al-Muḥīṭ; Muhammad Ath-Thahir Ibnu ‘Asyur, Al-Taḥrīr wa al-Tanwīr. Penafsiran Surah Al-Hajj ayat 52.
[8] Sayyid Qutb, Fī Ẓilāl al-Qur’ān, penafsiran Surah Al-Hajj ayat 52–54.
[9] Ṣaḥīḥ Muslim, no. 182, riwayat Abu Hurairah tentang penghuni surga dan keinginannya. https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/8342.
[10] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 7437–7438, riwayat Abu Hurairah dan tanggapan Abu Sa‘id Al-Khudri, bagian tentang penghuni surga terakhir dan ungkapan habisnya keinginan. Nomor hadis mengikuti penomoran yang lazim digunakan.
[11] Riwayat ‘Aisyah tentang memperbanyak permohonan dan harapan kepada Allah, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘, no. 437. Terdapat variasi lafaz tamannā (berharap) dan sa’ala (meminta). https://dorar.net/h/bnRPrH5i.
[12] Atsar ‘Umar tentang cita-cita memiliki orang-orang yang amanah, diriwayatkan dalam Faḍā’il al-Ṣaḥābah karya Ahmad dan Al-Mustadrak karya Al-Hakim, dengan variasi redaksi. Syu‘aib Al-Arna’uth mencatat bahwa penerimaan perawi Abu Shakhr dalam salah satu jalurnya memerlukan penguat. https://dorar.net/h/ETBRprjj.
[13] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3364, riwayat Ibnu ‘Abbas tentang Ibrahim, Hajar, Ismail, dan asal kisah sa‘i. Kisah pengorbanan merujuk Surah Ash-Shaffat ayat 100–107; nama Ismail mengikuti penafsiran yang mengidentifikasikan putra dalam kisah itu sebagai Ismail, sedangkan ayat tersebut menyebutnya sebagai putra Ibrahim tanpa nama.
[14] Riwayat Ibnu ‘Abbas tentang gangguan setan dan pelemparan Ibrahim, dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim, no. 1713, dan As-Sunan al-Kubrā karya Al-Baihaqi, no. 9975. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Targhīb, no. 1156. Riwayat ini tidak menetapkan secara rinci urutan waktunya terhadap peristiwa penyembelihan. https://dorar.net/h/r3DMh9hx.
