Dari Takut Menjadi Berani Bicara

Inovasi pembelajaran bahasa Arab di Pesantren Modern Al Ikhlash

M. Tata Taufik

Bagi sebagian santri baru, berdiri di depan teman-teman untuk berpidato dalam bahasa Arab bukan pengalaman yang menyenangkan. Ada yang gugup, kehilangan kata-kata, atau takut salah. Jika kegugupan itu dibalas dengan hukuman, latihan yang seharusnya menumbuhkan keberanian justru dapat menjadi alasan untuk menghindarinya. Pengalaman di Pesantren Modern Al Ikhlash, Kuningan, menunjukkan bahwa pembelajaran pidato bisa diubah: dari kegiatan yang menakutkan menjadi ruang belajar yang lebih aman, terarah, dan menggembirakan.

Ketika latihan berubah menjadi sumber kecemasan

Al Ikhlash telah mengajarkan bahasa Arab dan Inggris sejak awal 1990-an. Bahasa dipelajari melalui pelajaran di kelas sekaligus lingkungan berbahasa: santri mendapat kosakata harian, berlatih percakapan, membaca pengumuman berbahasa Arab, dan mengikuti kegiatan berbicara. Salah satu kegiatan itu dikenal sebagai muhadarah, yaitu latihan pidato dalam bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia.

Selama bertahun-tahun, latihan pidato dijalankan dengan disiplin ketat. Santri menyiapkan teks, kemudian tampil di hadapan teman-temannya. Dalam pola lama, santri yang belum mampu tampil atau menghafal dapat dikenai hukuman. Bagi santri yang sudah percaya diri, tuntutan itu mungkin terasa biasa. Namun bagi pemula, terutama yang masih menyesuaikan diri dengan kehidupan pesantren, berdiri di panggung dan berbicara dalam bahasa asing dapat menjadi tekanan besar.

Naskah penelitian mencatat bahwa setiap tahun terdapat sekitar lima hingga sepuluh santri baru yang memilih meninggalkan pesantren; ketakutan terhadap latihan berbicara disebut sebagai salah satu keluhan. Catatan ini mendorong evaluasi: apakah yang perlu diperbaiki kemampuan santri, atau cara kegiatan itu dirancang dan dibimbing? Pertanyaan tersebut menggeser perhatian dari menyalahkan anak yang gugup menuju memeriksa lingkungan belajarnya.

Rasa aman sebagai titik berangkat

Perubahan pertama bertumpu pada pendekatan familial, atau pendekatan kekeluargaan. Gagasannya sederhana: pesantren adalah rumah kedua, maka hubungan pendidikan perlu menghadirkan rasa aman dan perhatian yang biasa diharapkan dalam keluarga. Pimpinan dan guru menjalankan peran pembimbing yang mengayomi; teman sebaya didorong menjadi saudara yang membantu, bukan penonton yang mempermalukan.

Pendekatan ini bukan berarti meniadakan disiplin atau menurunkan harapan belajar. Disiplin tetap diperlukan, tetapi tujuannya membimbing, bukan membuat santri takut mencoba. Kesalahan pengucapan, kosakata, atau susunan kalimat diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar. Ketika santri merasa dihargai, ia lebih mungkin berani bertanya, berlatih, dan memperbaiki diri.

Dari sini tampak bahwa keterampilan berbicara tidak tumbuh hanya dengan menambah kosakata atau menghafal naskah. Kondisi psikologis dan hubungan antara guru dengan santri ikut menentukan apakah pengetahuan itu berani digunakan. Rasa aman menjadi landasan agar latihan bahasa bergerak dari mengetahui kata menuju sanggup menyampaikan pikiran.

Perubahan dilakukan bertahap

Al Ikhlash kemudian mengubah beberapa unsur kegiatan. Sejak 2018, pesantren menyelenggarakan lokakarya penulisan naskah pidato. Santri diperkenalkan pada cara menyusun pidato, mengembangkan gagasan, lalu menulis teks sendiri dengan bimbingan guru. Dengan begitu, mereka tidak sekadar menerima naskah jadi atau meniru teks lama.

Pada 2020, aturan tampil juga dilonggarkan. Santri boleh membawa naskah ketika berpidato. Perubahan ini mengurangi beban hafalan, terutama bagi pemula, dan memberi kesempatan untuk berlatih menyampaikan isi dengan lebih tenang. Sasaran latihan bergeser: bukan semata-mata menguji siapa yang hafal, melainkan membangun kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan.

Nama kegiatan pun berubah dari muhadarah menjadi Public Speaking Class atau kelas berbicara di depan umum. Pergantian istilah itu disertai perubahan cara pandang dan pelaksanaan. Sebuah nama baru saja tidak cukup mengubah pengalaman santri; ia berarti ketika diikuti pembimbingan yang berbeda, aturan yang lebih mendukung, dan ruang belajar yang lebih terbuka.

Dari kelas pidato ke suasana konferensi

Pada tahun ajaran 2025, latihan mulai memakai pola konferensi. Santri belajar menyiapkan presentasi, memperkenalkan pembicara, mengatur waktu, menyampaikan pertanyaan, dan memberi tanggapan yang membangun. Dalam satu sesi, beberapa santri dapat tampil di bawah tema yang saling berkaitan. Ada pula moderator dan pencatat, sehingga peserta tidak hanya belajar berbicara, tetapi memahami bagaimana sebuah forum akademik berjalan.

Pola ini memberi pengalaman yang lebih utuh daripada sekadar tampil lalu dinilai. Santri menyusun ide, memilih kata, berbicara, mendengar pertanyaan, dan merespons. Mereka juga belajar bahwa pembicara yang baik tidak harus selalu mengetahui semua jawaban. Ia perlu menjawab dengan jujur, tenang, dan santun; jika belum tahu, ia dapat mengakuinya dan menjelaskan apa yang perlu ditelusuri.

Dalam pembelajaran bahasa, prosesnya dapat dimulai dari mencari ide, menulis draf, membicarakan draf bersama guru atau teman, lalu menyuntingnya. Guru berperan sebagai mitra dialog dan pemberi arah, bukan sekadar pemeriksa kesalahan. Santri memperoleh masukan yang sesuai dengan tingkat kemampuannya. Teman sebaya belajar membaca karya satu sama lain dan menyampaikan kritik dengan adab.

Dengan demikian, latihan pidato menghubungkan empat keterampilan: membaca bahan, menulis naskah, mendengarkan masukan, dan berbicara. Bahasa Arab tidak berhenti sebagai hafalan kaidah. Ia dipakai untuk berpikir dan berkomunikasi, sambil tetap memperhatikan ketepatan bahasa serta kesantunan.

Apa yang dirasakan santri?

Evaluasi dalam penelitian melibatkan 190 santri melalui pengamatan, wawancara, dan kuesioner. Secara umum, tanggapan mereka terhadap cara baru cenderung positif. Sebanyak 89,4 persen responden menilai lokakarya penulisan pidato bermanfaat. Sebanyak 80,9 persen menyatakan metode baru membantu mereka mengatur pidato dengan lebih baik.

Pada skala lima, kebebasan mengembangkan gaya bahasa sendiri memperoleh nilai rata-rata 4,21, sementara keluasan informasi yang diperoleh mencapai 4,18. Keberanian menghadapi audiens berada pada rata-rata 4,02. Sebaliknya, 78 persen santri menilai pola lama yang bertumpu pada teks dan hafalan membuat penampilan mereka terasa kaku.

Angka-angka ini menggambarkan persepsi dan pengalaman santri di lingkungan yang diteliti. Ia memberi petunjuk bahwa perubahan cara belajar disambut baik, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan bahwa metode yang sama akan menghasilkan dampak identik di semua pesantren. Setiap lembaga perlu menyesuaikan praktiknya dengan usia santri, tingkat kemampuan bahasa, budaya pengasuhan, dan sumber daya guru.

Pelajaran untuk pesantren

Pengalaman Al Ikhlash menyampaikan satu pelajaran: latihan berbicara lebih berhasil ketika keberanian dibangun bersama rasa aman, kesempatan berlatih, dan bimbingan yang jelas. Menuntut santri tampil tanpa menyediakan tahapan dapat membuat kegiatan tampak disiplin, tetapi belum tentu mendidik. Sebaliknya, memberi naskah, lokakarya, umpan balik, serta forum tanya jawab membantu santri melangkah sedikit demi sedikit.

Pesantren lain dapat memulai dari hal sederhana: mengenali bagian kegiatan yang paling membuat santri cemas, mendengar pengalaman mereka, lalu memperbaiki aturan dan cara pembimbingan. Latihan dapat dibedakan menurut tingkat kemampuan. Santri pemula berlatih menyampaikan gagasan singkat dengan bantuan teks; santri yang lebih siap dapat berlatih tanpa teks, menjawab pertanyaan, atau menjadi moderator. Tantangan tetap ada, tetapi diberikan secara bertahap.

Pendekatan kekeluargaan juga perlu tampak dalam tindakan sehari-hari: bagaimana guru menanggapi kesalahan, bagaimana teman memberi komentar, dan apakah santri merasa aman untuk mencoba lagi. Mengubah nama program tanpa mengubah relasi dan pengalaman belajar tentu belum cukup. Yang menentukan adalah apakah santri mengalami penghargaan sekaligus tuntutan untuk berkembang.

Pidato dalam bahasa Arab pada akhirnya bukan hanya soal kefasihan di atas panggung. Ia menjadi jalan bagi santri untuk merumuskan pikiran, menghargai pendengar, dan mewakili dirinya dengan percaya diri. Ketika latihan dirancang sebagai proses belajar yang manusiawi dan sungguh-sungguh, panggung tidak lagi sekadar tempat menguji keberanian. Ia menjadi tempat keberanian itu tumbuh.