Kisah Tafsir Bertemu Pembacanya

Kisah Tafsir Bertemu Pembacanya

Respons atas Tafsir Inspiratif dan pertanyaan tentang bagaimana petunjuk bekerja dalam kehidupan

Judul Buku: Tafsir Inspiratif

Pengarang: M. Tata Taufik.

Penerbit: Wisemind Publisher, 2015.

“Wah, ini tafsir Maulid!” Begitu komentar seorang pembaca setelah menyelesaikan Tafsir Inspiratif jilid pertama. Rupanya buku itu dimanfaatkan sebagai bahan ceramah peringatan Maulid Nabi. Pembaca lain justru mengatakan tertarik pada ayat tentang taubat. Ada pula yang mengeluh karena sedang asyik membaca tetapi uraiannya sudah berakhir. Sementara seorang pembaca lainnya menyebutnya sebagai “tafsir pelipur lara”.

Empat komentar yang muncul secara spontan itu menggembirakan sekaligus mengundang pertanyaan. Bagaimana mungkin sebuah buku yang sama memperoleh sebutan dan kegunaan yang berlainan? Adakah pesan yang berbeda dikirimkan kepada masing-masing pembaca? Atau justru pembacalah yang datang membawa kebutuhan, pengalaman, dan persoalan hidupnya masing-masing?

Pertanyaan terakhir itulah yang menarik untuk diperhatikan. Sebab, ketika sebuah karya telah sampai di tangan pembaca, hubungan antara pesan dan manusia tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali penulis. Pembaca membaca dengan pengetahuan dan perasaannya, menghubungkan tulisan dengan pengalamannya, kemudian menemukan sesuatu yang berarti bagi dirinya.

Sesuatu yang Dicari dari Al-Qur’an

Dalam Muqaddimah Tafsir Inspiratif jilid pertama, terdapat satu alasan penyusunan buku yang pada mulanya mungkin terdengar sederhana. Tidak semua orang berkesempatan menghafal seluruh Al-Qur’an dan memahami bahasa Arab. Selain itu, manusia dalam perjalanan hidupnya sering membutuhkan nasihat atau pegangan, bahkan mungkin hanya satu atau dua patah kata, yang tepat hadir pada saat ia memerlukannya.

“Sering kali seseorang membutuhkan ‘sesuatu’, baik sepatah atau dua patah kata yang dapat berperan dalam kondisi tertentu perjalanan kehidupannya. Maka alangkah indahnya jika ‘sesuatu’ tadi datang dari ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan Kalam Allah.”

Kata “sesuatu” dalam ungkapan itu rupanya mempunyai kemungkinan yang sangat luas. Pada seorang pembaca ia menjadi bahan ceramah; pada pembaca lain ia menjadi dorongan untuk merenungkan taubat. Ada yang menemukan kenikmatan membaca, ada pula yang merasa terhibur. Buku yang sama, kebutuhan yang berbeda, dan manfaat yang ditemukan pun tidak seragam.

Di sinilah satu sisi penting dari gagasan Tafsir Terapan mulai kelihatan. Tafsir tidak semata-mata menyediakan penjelasan mengenai apa yang dimaksud oleh suatu ayat. Penafsiran juga membuka jalan agar pembacanya dapat menemukan hubungan antara petunjuk ayat dan keadaan yang sedang dialaminya. Tentu bukan berarti setiap pembaca boleh menetapkan makna Al-Qur’an sesuka hati. Yang dapat berbeda ialah kebutuhan, perhatian, dan bentuk penerapan pesan yang dipahami itu.

Pembaca Bukan Sekadar Penerima

Dalam kegiatan komunikasi, sering kali perhatian lebih besar diberikan kepada pengirim pesan: apa yang hendak disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, dan apakah susunan pesannya sudah benar. Padahal, pesan baru memasuki kehidupan sosial ketika ada orang yang menerimanya, memahami, menafsirkan kegunaannya, lalu mungkin bertindak atas dasar pemahaman itu.

Kajian komunikasi telah lama memperhatikan peran aktif penerima pesan. Stuart Hall, misalnya, menjelaskan bahwa pesan yang disusun oleh pengirim tidak dengan sendirinya diterima persis seperti yang direncanakan. Orang membaca pesan dari posisi sosial dan pengalaman yang berbeda. Demikian juga pendekatan uses and gratifications dari Elihu Katz, Jay Blumler, dan Michael Gurevitch yang memberi perhatian pada kebutuhan khalayak ketika memilih dan menggunakan media. Dalam kajian sastra, Wolfgang Iser turut menempatkan kegiatan membaca sebagai bagian penting dalam terwujudnya pengalaman sebuah karya.

Gagasan-gagasan tersebut tidak dengan sendirinya menjadi metode menafsirkan Al-Qur’an, tetapi berguna sebagai alat bantu untuk memahami pengalaman pembaca kitab tafsir. Orang yang membaca tidak hanya menerima sejumlah informasi. Ia memilih bagian yang dianggap penting, menimbangnya dengan keadaan dirinya, dan menghubungkannya dengan persoalan yang sedang dihadapi.

Maka, apabila dikatakan bahwa “pesan dikonstruksi oleh penerima”, yang dimaksud bukanlah kebebasan menciptakan makna wahyu. Makna ayat tetap harus dijelaskan dengan kaidah penafsiran yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang berlangsung pada pembaca adalah pembentukan pemahaman dan relevansi personal atas pesan yang telah diterangkan. Ada jarak yang perlu dijaga antara makna teks, penjelasan penafsir, dan manfaat yang ditemukan pembaca. Ketiganya berhubungan, tetapi tidak boleh disamakan begitu saja.

Penggugah dan Penguat

Dua fungsi yang tampak dari pengalaman membaca Tafsir Inspiratif adalah menggugah dan menguatkan. Pembaca yang tertarik kepada ayat tentang taubat mungkin sedang menemukan alasan untuk menengok kembali perilakunya. Pembaca yang menyebut “pelipur lara” menemukan penguatan ketika berhadapan dengan keadaan yang tidak menyenangkan. Sementara pembaca yang memanfaatkan buku untuk ceramah menemukan cara meneruskan pesan yang dipahaminya kepada orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tidak selalu mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah dirumuskan secara rapi. Adakalanya ia hanya merasa gelisah, kecewa, takut mengambil keputusan, kehilangan semangat, atau justru sedang bersyukur atas keberhasilan yang diperolehnya. Keadaan sosial dan emosional semacam ini—yang dalam rancangan Tafsir Inspiratif disebut socio-emotional setting—merupakan salah satu pertimbangan metodologis untuk memilih ayat dan menyajikan penjelasannya. Penafsir memperhatikan kebutuhan manusia, bukan untuk menundukkan ayat kepada suasana hati pembaca, melainkan agar petunjuk ayat dapat dihadirkan secara tepat pada persoalan yang nyata.

Seseorang boleh jadi sudah mengetahui arti sabar, tetapi belum memperoleh kekuatan untuk bersabar. Ia mungkin memahami pentingnya memaafkan, namun masih sulit melepaskan amarah. Dalam keadaan seperti itu, penjelasan yang benar masih perlu disertai uraian yang membantu pembaca merasakan relevansinya, mempertimbangkan akibatnya, dan menemukan keberanian untuk mengambil sikap.

Karena itulah tafsir yang sederhana tidak harus dangkal. Kesederhanaan justru menuntut kerja ilmiah yang cermat di belakangnya: memahami ayat melalui sumber-sumber tafsir, memilih persoalan yang berkaitan, lalu menyampaikannya dengan bahasa yang tidak menjauhkan pembaca. Penafsir bekerja lebih dahulu dengan perangkat ilmunya agar pembaca dapat bertemu dengan pesan Al-Qur’an tanpa harus terlebih dahulu menjadi ahli tafsir.

Dari Maksud Penulis Menuju Pengalaman Pembaca

Ketika Tafsir Inspiratif disusun, orientasinya adalah memilih ayat yang populer dan dekat dengan kehidupan, menjelaskannya melalui rujukan tafsir, lalu menunjukkan pelajaran yang dapat dipetik. Rancangan itu tidak dimaksudkan untuk menentukan satu-satunya kegunaan yang harus ditemukan pembaca. Justru apabila setiap orang dapat memanfaatkan pelajaran yang benar sesuai kebutuhannya, buku tersebut mulai menjalankan salah satu tujuan penyusunannya.

Kita bisa kembali kepada empat respons tadi. Sebutan “tafsir Maulid” menunjukkan pemanfaatan untuk kegiatan dakwah; ketertarikan pada ayat taubat memperlihatkan perhatian pembaca terhadap tema yang menyentuh dirinya; komentar “kok putus” memperlihatkan adanya keterlibatan membaca; dan “pelipur lara” mengisyaratkan bahwa buku tersebut dirasakan memberi dukungan batin. Respons yang berbeda ini bukan gangguan terhadap pesan, melainkan petunjuk awal bahwa pembaca berhubungan secara aktif dengan isi bacaan.

Meski demikian, tanggapan spontan itu belum cukup untuk menyatakan bahwa telah terjadi perubahan perilaku, apalagi mengukur hidayah dalam pengertian teologis. Kita baru mengetahui apa yang diungkapkan beberapa pembaca mengenai pengalaman mereka. Belum diketahui seberapa banyak pembaca memiliki pengalaman serupa, tindakan apa yang kemudian mereka lakukan, atau sejauh mana pengaruh itu bertahan. Jika hendak diteliti lebih lanjut, pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi pintu masuk melalui wawancara, catatan pembaca, atau pengamatan terhadap penggunaan tafsir dalam kegiatan belajar dan dakwah.

Pembedaan tersebut penting agar kegembiraan atas sambutan pembaca tidak berubah menjadi kesimpulan ilmiah yang tergesa-gesa. Namun, keterbatasan data juga tidak menghilangkan arti pengalaman itu. Justru dari laporan sederhana sering muncul pertanyaan yang layak dikaji lebih serius.

Lalu, What Next?

Pertanyaan what next dalam Tafsir Terapan mula-mula diarahkan kepada penafsir: sesudah menjelaskan makna ayat, apa yang dapat dibantu agar pembaca mampu menjadikannya petunjuk hidup? Tetapi, respons pembaca memperlihatkan satu perkembangan menarik. Pertanyaan yang sama pada akhirnya berpindah ke tangan pembaca sendiri. Sesudah membaca, ia menentukan bagian mana yang perlu direnungkan, sikap mana yang harus dibenahi, atau pelajaran mana yang layak diteruskan kepada orang lain.

Dengan demikian, apa yang dikerjakan penafsir dan apa yang terjadi pada pembaca merupakan dua bagian dari proses yang saling berhubungan. Penafsir menyiapkan penjelasan yang dapat dipercaya dan inspirasi yang berpijak pada ayat. Pembaca datang dengan keadaan hidupnya, lalu berusaha menemukan petunjuk yang relevan. Tidak semua pembaca akan memperoleh pengalaman yang sama, dan tidak setiap pengalaman segera berakhir dengan tindakan. Tetapi kemungkinan untuk memahami, tersentuh, dan mulai memperbaiki diri itulah yang hendak dibuka.

Barangkali di sini pula kita dapat melihat hubungan antara Al-Qur’an sebagai hidayah dan pekerjaan memahamkan Al-Qur’an. Petunjuk tidak kehilangan kedudukannya ketika seseorang belum mengamalkannya, tetapi tugas pendidikan dan dakwah adalah membantu manusia mendekat kepada petunjuk itu, mengenalinya, dan menjadikannya pedoman. Dalam batas kemampuan manusia, Tafsir Terapan berusaha mengambil bagian dari pekerjaan tersebut.

Ada sisi yang menyenangkan dari cerita para pembaca itu. Buku yang sudah selesai ditulis ternyata belum selesai bekerja. Ia dibawa ke mimbar ceramah, dibaca dalam suasana hati yang berbeda, atau menjadi teman seseorang ketika menghadapi kesedihan. Penulis menyelesaikan naskahnya, tetapi tidak dapat menentukan seluruh perjalanan yang ditempuh naskah tersebut setelah sampai kepada pembacanya.

Mungkin itulah tanda awal bahwa tafsir mulai memasuki kehidupan: ketika pembaca tidak hanya mengatakan “sekarang saya tahu arti ayat ini”, melainkan juga menemukan sesuatu yang diperlukan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. Dan “sesuatu” itu, sebagaimana telah dikemukakan dalam Muqaddimah Tafsir Inspiratif, alangkah indahnya apabila datang dari ayat-ayat Al-Qur’an.