Tafsir Terapan: Dari Tafsir untuk Tafsir Menuju Tafsir Untuk Kehidupan

TAFSIR TERAPAN: DARI TAFSIR UNTUK TAFSIR MENUJU TAFSIR UNTUK KEHIDUPAN

Menggagas orientasi penafsiran Al-Qur’an untuk abad ke-21

M. Tata Taufik

Al-Qur’an sebagai petunjuk, lalu apa?

Barangkali kita pernah mengalami suatu keadaan ketika nasihat panjang tidak lagi dibutuhkan. Yang dicari hanya sepatah atau dua patah kata, asal tepat mengenai persoalan yang sedang dihadapi. Orang yang sedang kecewa memerlukan sesuatu yang menguatkan, orang yang bimbang memerlukan petunjuk, dan orang yang tengah menikmati keberhasilan pun memerlukan sesuatu yang mengingatkannya agar tidak lupa diri. Betapa indahnya jika kata-kata yang diperlukan itu datang dari ayat-ayat Al-Qur’an, Kalam Allah yang selama ini kita yakini sebagai petunjuk hidup.

Gagasan tersebut telah dikemukakan penulis dalam Muqaddimah Tafsir Inspiratif jilid pertama. Tidak semua orang berkesempatan menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan dan memahami bahasa Arab. Di sisi lain, dalam perjalanan hidupnya seseorang sering membutuhkan “sesuatu”, bahkan sekadar sepatah atau dua patah kata, yang dapat menuntunnya pada kondisi tertentu. Alangkah indahnya jika sesuatu itu datang dari ayat-ayat Al-Qur’an, Kalam Allah. Dari kebutuhan yang sederhana tetapi nyata itulah upaya mendekatkan Al-Qur’an kepada kehidupan memperoleh maknanya.

Kita tentu mengerti bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup. Tetapi pengakuan atas fungsi hidayah itu mengandung konsekuensi: petunjuk perlu hadir ketika manusia membutuhkannya. Bukan hanya ketika ia berada di ruang kelas atau majelis ilmu, melainkan juga ketika ia sendirian menentukan pilihan, menanggung kesedihan, berhadapan dengan orang lain, atau mencoba bangkit dari kegagalan. Dari kenyataan sederhana ini penulis memandang perlu adanya tafsir yang secara sadar membawa penjelasan ayat ke dalam suasana kehidupan sehari-hari.

Orang bisa hafal ayat tentang sabar, tetapi tetap kebingungan ketika usahanya gagal. Ia mengetahui perintah berlaku adil, tetapi belum tentu tahu harus bersikap bagaimana ketika kepentingan dirinya berhadapan dengan hak orang lain. Kita mengerti arti tawakal, namun masih harus belajar bagaimana tawakal itu dipraktikkan ketika masa depan belum menentu. Di sini ada jarak antara mengetahui pesan dan menjalani pesan. Jarak inilah yang patut menjadi perhatian kajian tafsir.

Bayangkan seseorang membaca peta perjalanan. Ia mengetahui nama jalan, arah, jarak, dan tanda-tanda yang ditunjukkan peta. Semua itu pengetahuan yang berguna. Tetapi peta baru menunaikan manfaatnya bagi perjalanan ketika ia digunakan untuk menentukan ke mana harus melangkah. Analogi ini tentu tidak sepenuhnya sama dengan hubungan manusia dan wahyu. Namun, ia membantu kita melihat mengapa penjelasan makna masih perlu dilanjutkan dengan pertanyaan tentang pelaksanaannya.

Dari tafsir untuk tafsir menuju tafsir untuk kehidupan

Tradisi tafsir Islam memiliki kekayaan yang luar biasa. Para mufasir telah mengerahkan perangkat kebahasaan, hadis, sejarah pewahyuan, hukum, akidah, dan beragam keilmuan untuk mendekatkan manusia kepada pemahaman firman Allah. Kita mengenal metode tahlīlī, ijmālī, muqāran, dan maudū‘ī; mengenal pula corak kebahasaan, hukum, teologis, sufistik, serta sosial kemasyarakatan. Semua itu merupakan ikhtiar besar yang tidak patut dikecilkan.

Karena itu, istilah “tafsir untuk tafsir” bukanlah tuduhan bahwa para mufasir terdahulu mengabaikan kehidupan. Banyak di antara mereka justru membimbing umat melalui penafsirannya. Ungkapan tersebut lebih merupakan kritik terhadap kecenderungan menjadikan uraian makna sebagai titik akhir pembelajaran tafsir. Jika maknanya sudah terang, pertanyaan berikutnya justru patut diajukan: bagaimana petunjuk tersebut dijalankan?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat diringkas dalam dua kata: what next? Setelah mengetahui makna ayat, apa berikutnya? Apa yang harus berubah dalam pemahaman, sikap, keputusan, dan perbuatan? Dari sinilah ditawarkan pergeseran orientasi: dari tafsir untuk tafsir menuju tafsir untuk kehidupan sehari-hari.

Tafsir Terapan dan fungsi hidayah

Gagasan ini disebut Tafsir Terapan. Istilah terapan dipakai untuk menunjukkan perhatian terhadap penggunaan hasil pemahaman Al-Qur’an dalam menghadapi persoalan manusia. Landasannya tetap ilmu tafsir. Tanpa pemahaman yang benar, penerapan dapat melenceng menjadi pembenaran atas keinginan sendiri. Tetapi tanpa perhatian pada kehidupan, penjelasan ayat berisiko tinggal sebagai pengetahuan yang tidak berlanjut menjadi pedoman.

Dalam Al-Qur’an kita menjumpai penyebutan fungsi-fungsinya sebagai hudan, bayān atau bayyināt, furqān, shifā’, rahmah, mau‘izhah, dan nūr. Setiap istilah memperlihatkan dimensi hubungan antara wahyu dan manusia: petunjuk arah, penjelasan, pembeda, penyembuh dalam pengertian yang dijelaskan oleh konteks ayat, rahmat, peringatan, dan cahaya penerang. Keseluruhan fungsi ini memberi alasan mengapa kerja tafsir tidak cukup dipahami sebagai penyampaian informasi.

Manusia tidak membaca Al-Qur’an dalam ruang hampa. Ia membawa persoalan, harapan, kekecewaan, keberanian, ketakutan, kesedihan, ataupun kegembiraan. Dalam Muqaddimah Tafsir Inspiratif, penulis mengingatkan bahwa seseorang adakalanya hanya membutuhkan sepatah atau dua patah kata pada suatu keadaan tertentu dalam perjalanan hidupnya; alangkah bermaknanya apabila kata-kata itu diperoleh dari Al-Qur’an. Keadaan sosial dan emosional pembaca ini disebut socio-emotional setting, dan dalam Tafsir Terapan ditempatkan sebagai salah satu unsur metodologis: untuk mengenali kebutuhan penerima petunjuk dan menentukan bagaimana pesan ayat diterangkan serta dihubungkan dengan persoalannya. Seorang pemuda yang gagal meraih cita-cita dan seorang ayah yang menghadapi kesulitan mendidik anak mungkin memerlukan penekanan penerapan yang berbeda dari ayat yang sama. Namun, keadaan emosional tidak boleh dijadikan alasan untuk merekayasa makna ayat. Penafsiran tetap berpijak pada kaidah ilmu tafsir; yang diperhatikan ialah bagaimana petunjuk yang benar dapat menggugah kesadaran, menguatkan hati, dan membimbing tindakan pembacanya –memberi inspirasi.

Belajar dari perjalanan tafsir kontemporer

Upaya membawa Al-Qur’an mendekati persoalan kehidupan tentu bukan pekerjaan yang sama sekali baru. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam tradisi Tafsir al-Manār memberi perhatian pada masalah pendidikan dan masyarakat. Dalam muqaddimah Fī Ẓilāl al-Qur’ān, Sayyid Qutb menggambarkan pengalaman hidup dalam naungan Al-Qur’an: wahyu membentuk pandangan tentang manusia, kehidupan, dan hubungannya dengan Allah. Fazlur Rahman mengemukakan gerak dari persoalan masa kini menuju konteks pewahyuan lalu kembali kepada kebutuhan masa kini; Abdullah Saeed mengembangkan pembacaan kontekstual. Dalam kajian Indonesia, pendekatan ma‘nā-cum-maghzā juga memperhatikan hubungan makna historis dengan signifikansi kontemporer.

Semua ini perlu ditempatkan sebagai percakapan ilmiah, bukan daftar tokoh yang harus dilampaui. Tafsir Terapan tidak diajukan sebagai penafsiran pertama yang menyentuh kehidupan. Yang hendak ditegaskan adalah kebutuhan untuk merumuskan secara lebih eksplisit langkah setelah memahami ayat: bagaimana pesan yang telah ditafsirkan menjadi penuntun dalam keadaan sehari-hari.

Metode

Dalam kuliah umum “Menggagas Tafsir Terapan” di Ma’had Aly Riyadul Jannah, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 Tangerang, 17 Juni 2023, penulis telah menguraikan kebutuhan menggeser orientasi tafsir dari ilmu yang terutama menjelaskan makna menuju ilmu yang juga memberi arahan praktis bagi kehidupan. Materi tersebut memuat prinsip pemilihan ayat yang populer, keterkaitan dengan suasana kehidupan, kesederhanaan bahasa, dan judul inspiratif.

Jika dirumuskan untuk pengembangan akademik, langkah kerja Tafsir Terapan dapat dipaparkan sebagai berikut. Pertama, memilih ayat atau mengidentifikasi persoalan kehidupan yang akan ditelusuri petunjuk Al-Qur’annya. Kedua, memahami ayat melalui kaidah ilmu tafsir dan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, mengenali konteks serta kebutuhan manusia yang hendak dibimbing, termasuk socio-emotional setting. Keempat, merumuskan hubungan antara pesan ayat dan keadaan nyata tanpa memaksakan makna. Kelima, menjawab what next dalam bentuk pelajaran, sikap, keputusan, atau tindakan. Keenam, menyajikannya dalam bahasa yang dapat dipahami. Ketujuh, bila digunakan dalam pendidikan atau penelitian, mengevaluasi bagaimana pembaca memahami dan mempraktikkan pesan tersebut.

Langkah terakhir penting bagi pengembangan keilmuan. Kita dapat meneliti apakah penyajian semacam ini membantu pemahaman, memperkuat relevansi ayat bagi pembaca, atau mendukung perubahan sikap yang mereka laporkan. Tetapi penelitian semacam itu memerlukan rancangan dan bukti, bukan cukup dengan menyatakan bahwa sebuah tulisan terasa menyentuh hati. Demikian pula hasil suatu kajian tidak boleh dianggap otomatis berlaku bagi semua orang.

Contoh sederhana: ketika hidup terasa sulit

Ambillah QS. Al-Insyirah [94]: 5–6: fa inna ma‘a al-‘usri yusrā, inna ma‘a al-‘usri yusrā. Bersama kesulitan ada kemudahan. Pembahasan tafsir dapat menjelaskan susunan bahasanya, penegasan melalui pengulangan, dan hubungannya dengan rangkaian surah. Semua itu penting. Akan tetapi, bagaimana ayat ini berbicara kepada pemuda yang berkali-kali gagal mencari pekerjaan?

Pengembangan Tafsir Terapan mempunyai pengalaman awal dalam penyusunan Tafsir Inspiratif jilid pertama. Muqaddimah buku itu menjelaskan bahwa sekitar empat puluh ayat yang populer dalam kehidupan sehari-hari dihimpun untuk menjadi bekal pembaca. Tidak semua orang dapat menghafal Al-Qur’an seluruhnya atau menguasai bahasa Arab, sementara hampir setiap orang pernah membutuhkan nasihat pendek yang tepat dalam suatu keadaan. Dari sini, tafsir yang sederhana dapat menjadi jalan untuk mendekatkan pesan Al-Qur’an kepada pembaca.

Tentu ayat tersebut tidak boleh dijadikan jaminan bahwa pekerjaan pasti datang dalam beberapa hari. Tafsir Terapan bukan seni menjanjikan hasil menyenangkan, melainkan usaha membantu manusia menentukan sikap yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan petunjuk ayat. Di sini terlihat perbedaan antara memberi motivasi yang sekadar menyenangkan dan memahamkan Al-Qur’an agar pembaca menemukan arah bertindak.

Tafsir Inspiratif, tradisi lisan, dan masyarakat digital

Pengembangan Tafsir Terapan berhubungan dengan pengalaman penulisan Tafsir Inspiratif. Dalam karya tersebut, pelajaran yang diperoleh dari ayat disajikan dengan bahasa sederhana dan judul yang mengundang pembaca merenung. Inilah salah satu bentuk penyajian yang berusaha mempertemukan ketepatan penafsiran dengan kebutuhan pembaca.

Ada gagasan lain yang pernah disampaikan penulis dalam kuliah umum tahun 2023. Sesungguhnya para ulama telah lama mempraktikkan penjelasan ayat yang aplikatif melalui mimbar dan majelis pengajian. Namun, tidak sedikit penjelasan lisan yang hilang bersama berlalunya waktu. Mendokumentasikannya sebagai literatur merupakan cara memperpanjang manfaat penjelasan tersebut agar dapat dipelajari kembali.

Abad ke-21 menawarkan peluang yang belum pernah sebesar sekarang. Orang dapat membaca mushaf, terjemah, dan kitab tafsir melalui perangkat digital. Kecerdasan buatan pun membuat pencarian informasi semakin mudah. Tetapi kemudahan memperoleh jawaban tidak otomatis membuat manusia mampu menggunakan jawaban tersebut secara tepat. Banjir pengetahuan tidak serta-merta berarti banjir kebijaksanaan. Karena itu penulis melihat Tafsir Terapan relevan tidak hanya bagi pengajian, melainkan juga bagi sekolah, pesantren, keluarga, dan masyarakat digital.

Di ruang-ruang itulah pertanyaan what next dapat terus diajukan. Sesudah belajar ayat tentang amanah, bagaimana santri menjalankan tugasnya? Sesudah mendengar ayat tentang adil, bagaimana seorang pemimpin memutuskan persoalan? Sesudah memahami ayat tentang menjaga lisan, bagaimana pengguna media sosial memperlakukan sesamanya? Pertanyaan itu membawa tafsir keluar dari ruang penjelasan menuju ruang tanggung jawab.

Agenda tafsir untuk abad ke-21

Pekerjaan ini tentu tidak cukup dengan melahirkan istilah baru. Tafsir Terapan perlu diuji melalui diskusi para ahli, ditelaah perbedaannya dengan pendekatan penafsiran yang sudah berkembang, dan dikembangkan dalam contoh-contoh yang jelas, agar tidak berhenti sebagai slogan.

Di sinilah kerja sama ahli tafsir dengan pendidik, psikolog, sosiolog, dan ilmuwan komunikasi memperoleh arti. Ahli tafsir menjaga ketepatan pemahaman ayat; ilmu-ilmu tentang manusia membantu menjelaskan kondisi penerimaan, pembelajaran, dan pengamalannya. Kerja sama itu tidak menjadikan ilmu-ilmu lain sebagai penentu makna wahyu. Ia justru memperjelas pekerjaan berbeda yang perlu dilakukan sesudah makna dipahami.

Maka sebutan model tafsir abad ke-21 harus dibaca sebagai sebuah agenda: menjadikan kajian tafsir semakin berguna untuk menuntun manusia dalam keadaan zaman ini. Bukan pengumuman bahwa semua model sebelumnya selesai masa berlakunya. Ia sebuah ajakan untuk meneruskan warisan para mufasir dengan perhatian yang lebih nyata pada penerapan petunjuk Al-Qur’an.

Penutup: jangan berhenti memahamkan Al-Qur’an

Kita perlu terus membaca Al-Qur’an, mempelajari bahasanya, menggali sejarah dan kandungannya, serta menghargai kerja para mufasir. Tetapi setelah semuanya dilakukan, masih ada tugas yang menunggu. Orang yang memahami ayat tentang sabar perlu ditolong menemukan cara bersabar. Orang yang memahami ayat tentang syukur perlu diajak melihat bagaimana ia bersyukur. Orang yang mempelajari ayat tentang kasih sayang perlu menanyakan kembali bagaimana ia memperlakukan keluarga, tetangga, dan sesamanya.

Itulah maksud pergeseran dari tafsir untuk tafsir menuju tafsir untuk kehidupan sehari-hari. Penjelasan makna bukan akhir, melainkan bekal untuk menjalani petunjuk. Tafsir Terapan merupakan usaha memahamkan Al-Qur’an agar fungsi hidayahnya semakin hadir dalam kesadaran dan tindakan manusia.

Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak boleh berhenti kita ajukan: setelah memahami ayat ini, what next?

Rujukan

Taufik, M. Tata. (2023, 17 Juni). Menggagas Tafsir Terapan [Materi kuliah umum]. Ma’had Aly Riyadul Jannah, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2, Tangerang.

Taufik, M. Tata. Tafsir Inspiratif. Jakarta: Wisemind Publisher, 2015; serta tulisan pengantar pada https://mtatataufik.id/tafsir-inspiratif.

Taufik, M. Tata. (2015). “Muqaddimah.” Dalam Tafsir Inspiratif, jilid pertama. Jakarta: Wisemind Publisher. (Rujukan pada bagian pembuka, tujuan, dan metode penyusunan).

Taufik, M. Tata. Jangan Berhenti Memahamkan al-Qur’an [Tulisan testimoni untuk pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Sujiat Zubaidi; naskah penulis].

Ibn Kathīr. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.

Al-Maḥallī dan al-Suyūṭī. Tafsīr al-Jalālayn.

Al-Sa‘dī. Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān.

Quṭb, Sayyid. Fī Ẓilāl al-Qur’ān, muqaddimah jilid pertama.

Rahman, Fazlur. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. University of Chicago Press.

Saeed, Abdullah. (2006). Interpreting the Qur’an: Towards a Contemporary Approach. Routledge.